Sinau Bareng Masjid Al-Falah Philadelphia

Masjid secara subjektif bagi orang Kristen hanya bangunan, begitu pun gereja bagi muslim, jelas Cak Nun dalam Sinau Bareng Masjid Al-Falah Philadelphia.

Bersama jamaah khususnya dari tanah air, Cak Nun dan Ibu Via menunaikan shalat Idul Adha kali ini di Masjid Al-Falah Philadelphia. Karena keterbatasan tempat, shalat Id dibagi menjadi dua kloter. Kloter pertama dilaksanakan pukul 8.30 AM. Bertindak sebagai khotib dan imam adalah mas Luthfi Rahman, alumni IAIN Walisongo Semarang dan Hartford Seminary Connecticut.

Sedangkan kloter kedua dilaksanakan pukul 9.30 AM dengan khotib dan imam adalah Mas Zoehilmy, alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang sedang studi S2 di Hartford Seminary Connecticut.

Idhul Adha di Philadelphia
Idhul Adha di Philadelphia

Adapun pelaksanaan penyembelihan hewan Qurban tidak dilaksanakan di sini, tetapi di tanah air. Teknisnya, panitia menerima pembayaran qurban beberapa hari sebelum sholat Id sampai hari H-nya. Sebelumnya panitia sudah koordinasi dengan beberapa teman/kerabat/saudara yang kita percaya untuk mencarikan hewan ternak qurban sekaligus mendistribusikan dagingnya ke daerah-daerah yang sangat membutuhkan. Setelah dana diterima, barulah ditransfer ke Indonesia. Begitu pula dengan uang zakat fitrah pada saat lebaran kemarin.

Sinau Bareng Cak Nun

Seperti sudah direncanakan sebelumnya, usai shalat Idul Adha, teman-teman Masjid Al-Falah segera menggelar acara Sinau Bareng Cak Nun dan Ibu Novia Kolopaking. Mengenakan busana putih-putih dan peci Maiyah, Cak Nun lebih banyak memberikan kesempatan pertanyaan bagi para jamaah. Dan bermacam-macam pertanyaan muncul, dari soal pemerintahan sekarang, fenomena ISIS, fikih, hingga tasawuf.

“Untuk pemerintahan tidak perlu dipikirkan terlalu jauh karena kita tidak punya data sebenarnya. Yang kita tahu hanyalah kata media”, ujar Cak Nun sembari menguraikan juga kalau bisa ada baiknya jadi orang yang tahu banyak tentang banyak hal. Di sini, pertanyaan menyangkut fenomena ISIS direspons oleh Cak Nun dengan mengajak jamaah untuk salah satunya memahami bahwa ISIS itu adalah sebuah rekayasa.

Mengenai tasawuf, Cak Nun menguraikan bahwa tasawuf itu menempatkan tuhan sebagai sumber segalanya. Di sini, Cak Nun mengajak jamaah menyelami adagium dari khazanah sufi, “Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu (Barangsiapa mengenal dirinya, maka sungguh ia telah mengenal Tuhannya)”.

Acara sinau bareng ini diperindah dengan persembahan Ibu Via melalui tembang “Bunga Mawar” dan “Untukmu Segalanya”. Selain itu, acara juga diperlengkap dengan kehadiran teman-teman Kristiani. Kali ini Cak Nun mengundang Aliang dan pendeta yang hadir untuk naik ke panggung bersama beberapa masyarakat Kristiani Indonesia lainnya.

Kepada mereka, Cak Nun menguraikan bahwa apa yang selama ini mereka ketahui mengenai Islam hanyalah atau lebih banyak pada dimensi fiqih. Di balik fikih terdapat filsafat hukum (ushul fiqh).

Dari sini pula, Cak Nun mengantarkan jamaah untuk mencoba mempelajari alasan sosial dari matriks hukum Islam: wajib, sunnah, makruh, haram, dan mubah. Dan di balik fikih dan ushul fikih terdapat akhlak. Itu sebabnya, dalam keluasan dan kedalaman hukum Islam seperti itu tak perlu bertengkar tentang fikih.

Dalam implementasi sosialnya dengan orang-orang Kristiani dengan background seperti di Philadelphia ini, Cak Nun memberikan pemahaman tidak masalah orang Kristen datang ke mesjid. “Bangunan ini (masjid) secara subjektif bagi orang Kristen hanya bangunan, begitu pun gereja bagi muslim adalah bangunan biasa. Tidak masalah sholat di dalam gereja. Masjid itu ada di hati masing-masing. Di belakang akhlaq adalah aqidah. Di belakang aqidah adalah taqwa. Dan, keseluruhan itu tadi adalah iman.”

Demikianlah dalam Sinau Bareng ini, Cak Nun coba memberikan jawaban-jawaban berupa prinsip atau cara pandang. Usai, acara ini, sore harinya Cak Nun dan Ibu Via akan bertolak ke Atlanta untuk berada di sana selama tiga hari dengan beberapa agenda acara.