Menyusuri Sudut-Sudut Philadelphia

Konsep jalan-jalan Cak Nun dan mbak Novia Kolopaking diPhiladelphia berbeda dengan umumnya orang, rekreasi harus kreatif, kreasi harus rekreatif.

Maiyahan Silaturahmi Masjid Al-Falah di Old Pine Community Centre Philadelphia hari Minggu lalu (20/9) berlangsung singkat karena harus segera diakhiri oleh Cak Nun dengan pertimbangan memang harus segera diakhiri karena ada beberapa faktor yang mengharuskan demikian kendatipun tanpa mengurangi bobot ilmu yang dapat dipetik.

Tetapi, dalam forum itu, khususnya teman-teman panitia masjid Al-Falah telah belajar banyak dari Cak Nun mengenai hakikat shadaqah, “wa la tamnun tastaktsir atau jangan memberi dengan harapan mendapatkan perolehan yang lebih banyak”, bahaya dan bumerang strategi transaksional kapitalisme infaq dan seterusnya, sehingga lebih fresh pemikiran, logika dan langkah yang terbaik menurut ‘mindset’ yang diajarkan Allah.

Amish Country
Amish Country

Selain itu, pada kesempatan Maiyahan tersebut Cak Nun sangat menekankan empat hal yang perlu diperkuat: akhlak, kedisiplinan, kemampuan berhitung/kalkulasi/akuntansi, dan kemampuan teknologi informasi.

Para jamaah Masjid Al-Falah karena tidak tuntas berinteraksi dengan Cak Nun dan Ibu Via akan ‘dibayar’ dengan forum “Sinau Bareng Cak Nun dan Mbak Via” ba’da Shalat Idul Adlha tanggal 24 September lusa sebelum menuju Atlanta. Karena itu panitia akan mempersiapkan dengan matang, dan usai Maiyahan tadi mereka tetap menggodok terus dan berkonsultasi dengan Cak Nun. Dalam suasana obrolan itu, juga bergabung dua mahasiswa Hartford Seminary Connecticut dari Aceh dan Jakarta yang selama Ramadhan kemarin mengisi kegiatan pondok Ramadhan anak-anak TPA di Masjid Al- Falah.

Nah, kemarin Cak Nun dan Ibu Via dijadwalkan keliling-keliling Philadelphia. Aslinya, Cak Nun kurang “terbiasa” jalan-jalan dengan niat jalan-jalan itu sendiri, konsep rekreasinya Cak Nun beda dengan umumnya orang, rekreasi harus kreatif, kreasi harus rekreatif — begitu rumus beliau selama ini; tetapi demi cintanya kepada teman-teman di USA ini ya Cak Nun akhirnya ikut juga. Mengunjungi Railroad Museum of Pennsylvania yang berada disebelah timur dari Strasburg. Railroad Museum of Pennylvania yang didirikan sejak tahun 1975 ini merupakan museum kereta api yang memiliki lebih dari 100 lokomotif dan gerbong kereta yang bersejarah terkait dengan kronik sejarah Amerika.

Railroad Museum of Pennsylvania
Railroad Museum of Pennsylvania

Dari sana Cak Nun dan Ibu Via melanjutkan perjalanan menuju Amish Country yang mayoritas didiami oleh suku Amish yang membatasi dirinya dari dunia luar seperti teknologi dan barang-barang modern dengan tetap mempertahankan budaya kehidpan alami mereka secara utuh, tidak hanya itu saja, alat transportasi mereka pun masih tradisional banyak ditemui “Buggy” semacam kereta kuda (andong), termasuk mata pencaharian, sumber energi, hingga makanan pokok mereka. Cak Nun dan Ibu Via cukup menikmati kota tersebut disajikan pemandangan pedesaan dan alam yang luar biasa indah dengan ladang pertanian dan hutan yang lebat dan pemukiman penduduk yang asri nan menawan disisi kanan kiri jalan, terasa memasuki pesona Amerika abad 18.

Teman-teman di USA ini memang sudah men-setup jadwal Cak Nun dan Ibu Via dengan baik. Tidak cuma agenda Maiyahan dan Silaturahmi, tetapi juga “memperjalankan” beliau berdua. Mereka mungkin tahu, di tanah air bertahun-tahun Cak Nun habis waktunya buat melayani masyarakat. Sekali-sekali ada baiknya “jalan-jalan” hehehe….

Mengunjungi Masjid Bawa Muhaiyadden

Dalam jalan-jalan menyusuri sudut-sudut Philadelphia itu, Cak Nun dan Ibu Via mengunjungi Masjid Bawa Muhaiyadden, melihat-lihat jejak-jejak dan peninggalan Sang Sufi. Bawa Muhaiyadden dikenal sebagai seorang sufi yang menyerukan perdamaian dunia. Ketika kemudian Sang Sufi Bawa datang ke Amerika pada 1971 atas undangan banyak kalangan di sana, ia berbicara di banyak forum, berbicara di stasiun televisi dan radio, dan memiliki sangat banyak murid di sini. Maka, dia dikenal dengan panggilan Guru Bawa.

Masjid Bawa Muhaiyadden
Masjid Bawa Muhaiyadden

Sekalipun ia seorang sufi berlatar belakang Islam, tetapi murid atau orang-orang yang mendengarkan wejangan-wejangan darinya tak terbatas orang Islam melainkan orang-orang yang datang dari pelbagai agama. Karya-karyanya juga dialihkan dalam beberapa bahasa, termasuk dalam bahasa Indonesia. Khususnya bagi murid-muridnya di Amerika, Guru Bawa memberikan banyak “pencerahan”.

Guru Bawa yang bernama lengkap Muhammad Raheem Bawa Muhaiyadden berasal dari Sri Lanka, dan wafat pada 1986 di Philadelphia.

Masjid Bawa ini merupakan salah satu saksi keberadaan Guru Bawa di Amerika. Di Masjid ini, Cak Nun dan Ibu Via juga menyempatkan diri masuk dan melihat kamar Guru Bawa. Dalam bahasa Maiyah, Guru Bawa, dapur guru Bawa adalah Islam, tetapi dari dapur itu masakan yang disuguhkan di ruang tamunya diperuntukkan buat siapa saja alias universal.