Maiyah Ulumul Quran di IMAAM Center

Cak Nun beracara di masjid IMAAM Center, saya tadi menangis ketika membaca surat ar-Rahman, tapi saya tidak tahu mengapa saya menangis.

Pagi ini, 28 September 2015, kembali Cak Nun beracara di masjid IMAAM Center. Sama dengan hari sebelumnya, ini adalah pertemuan kuliah subuh bersama jamaah masjid. Suasana yang dibangun Cak Nun adalah ngobrol yang ringan-ringan, dan dipandu oleh mas Agus Murokib dari IMAAM.

Yang Cak Nun maksudkan dengan ringan-ringan saja sebenarnya adalah sebuah kuda-kuda batin dalam menghadapi berbagai kemungkinan. “Karena Ilmu yang kita miliki belum tentu kita mampu menyangganya besok hari, karena situasi besok belum tentu memungkinkan kita menyangga kebenaran ilmu kita hari ini”, ujar Cak Nun.

Tetapi justru dengan kuda-kuda batin yang ringan itu, ilmu atau pemahaman yang muncul bisa lebih dalam. Jika dalam kuliah subuh kemarin, Cak Nun lebih banyak membenahi kekurangtepatan pemahaman atas konsep atau istilah dalam Islam, kali ini Cak Nun mengajak jamaah menyelami rohani dan kekayaan batiniah al-Quran.

Cak Nun di masjid IMAAM Center
Cak Nun di masjid IMAAM Center

Di awal, Cak Nun melantunkan surat an-Nuur ayat 35 dengan suaranya yang khas. Kemudian beliau membaca surat ar-Rahman. Semua hadirin menundukkan kepala menyimak dengan khusyuk. Saat membaca surat ar-Rahman ini berkali-kali Cak Nun terisak-isak, menangis, terutama saat tiba di ayat “fabi ayyi aalai robbikuma tukadzdziban”.

Dari sinilah Cak Nun mulai menyampaikan percik-percik ilmu al-Quran yang tidak melulu dalam  pendekatan kognitif-intelektual, melainkan juga berdasarkan kedalaman dan kekayaan rasa yang dapat dijangkau oleh jiwa manusia. Saat itu, seorang ibu yang hadir bertanya mengapa Cak Nun tadi menangis saat membaca surat ar-Rahman. “Itu seperti suami dan anak saya yang juga menangis ketika membaca ar-Rahman. Apakah ar-Rahman itu begitu dahsyat?”, tanyanya.

Kemudian Cak Nun merespons dengan sangat arif dan bijak, bahwa di dalam Al Qur’an semua ayat atau surat itu dahsyat. “Jangan sampai kita objektif dalam menilai kedahsyatan surat-surat tertentu dalam al-Quran. Karena keistimewaan surat dalam al-Quran itu tidak bisa ditentukan dan tidak bisa direncanakan. Sehingga dengan begitu tidak terjadi pengkultusan surat-surat tertentu dalam Al Qur’an”, papar Cak Nun.

Lebih jelas Cak Nun menuturkan, “Saya tadi menangis ketika membaca surat ar-Rahman, tapi saya tidak tahu mengapa saya menangis. Karena merasakan kedahsyatan Al Qur’an itu tidak bisa direncanakan”. Kemudian diterangkan bahwa surat ar-Rahman pada intinya membuka kebohongan-kebohongan semua penduduk bumi dari semua zaman.

Berkenaan dengan muatan nilai atau moral yang dikandung surat ar-Rahman Cak Nun merasakan dan memahami bahwa surat ini inti pelajarannya adalah tentang moral. Allah mengajak kita berdialog, bahwa manusia sudah diberi semua kenikmatan yang sekian banyaknya, kok masih ada saja yang mencoba mendustakan semua nikmat itu. Itulah sebabnya, Allah membungkus pelajaran tentang moral agar kita tidak mendustakan nikmat dari Allah dengan tagline ar-Rahman (Yang Maha Pengasih).

Masih dalam konteks menemukan percikan-percikan ilmul Quran, Cak Nun mengajak jamaah meningkatkan kepekaan untuk menangkap karakter dan pola di dalam al-Quran. Di antaranya, ada pola Allah menghadirkan dirinya secara ganda atau berpasangan: ar-Rahman dan ar-Rahiim, al-‘Aliim dan al-Hakiim, as-Samii’ dan al-Bashir, dan lain sebagai. Pola ganda atau pasangan ini pastinya mengandung ilmu yang hendak Allah sampaikan kepada kita.

Selain mengajak menyelami semesta nikmat rasa, adab, dan ilmu al-Quran, Cak Nun membawa jamaah untuk mengenali kembali kecenderungan-kecenderungan manusia. Melalui analogi batu, kerikil, dan berlian Cak Nun menguraikan ada manusia yang berkualitas batu, ada yang berkualitas kerikil, dan ada yang berkualitas berlian.

Kecenderungan lain jiwa manusia adalah kalau sudah suka, akan sangat berlebihan. Begitu juga ketika sudah tidak suka dengan sesuatu, membencinya juga dengan sangat berlebihan. Dengan dua contoh kecenderungan psikologis manusia tadi, dan sesudah memaparkan pentingnya kepekaan merasakan karakter dan pola di dalam al-Quran serta sikap batin kita kepadanya, Cak Nun seakan memberi contoh bagaimana seiring kita dapat “membaca” dan menyelami firman Allah yakni berupa ayat-ayat literal al-Quran dan ayat-ayat berupa diri manusia.

Dan memberikan satu prinsip dalam menuntut ilmu, Cak Nun berpesan, “Jangan mencari ilmu kalau Kamu tidak bertambah cinta dan kasih sayangmu kepada Allah”.

Pukul 07.45 waktu Washington DC kuliah subuh sudah diakhiri. Para jamaah kembali ke tempat masing-masing. Di antara mereka mengungkapkan bahwa kuliah subuh ini berjalan dalam suasana yang menyenangkan, dan yang terpenting dia bersyukur mendapatkan pandangan-pandangan baru dari Cak Nun yang menurutnya dapat melenturkan kekakuan-kekakuan yang selama ini ada.