Halal Food di Seputaran Pusat Pengendali Ekonomi Dunia

Nah ini baru benar, label atau penanda halal diperlukan di negara non-muslim.

Dari kantor Perwakilan BI di New York, 23 September siang, Cak Nun dan Ibu Via bergerak ke Manhattan. Di sana, beliau berdua melihat-lihat suasana kota, dan utamanya suasana di jalanan. Di pusat Manhattan, beliau berdua melihat penjaja-penjaja Halal Food berjajar. Dalam hati mungkin Cak Nun berpikir, “Nah ini baru benar, label atau penanda halal diperlukan di negara non-muslim”. Di area wisata bencana WTC, konter-konter atau kedai Halal Food juga sangat mendominasi.

Halal Food Wall Street
Halal Food Wall Street

Selepas dari deretan Halal Food yang merupakan sektor ekonomi riil tampak oleh mata, Cak Nun dan Ibu Via dibawa mampir ke gedung The Fed di Wall Street, lembaga yang berada di wilayah “jeroan” nya ekonomi global, yang dicemaskan akan menaikkan suku bunga dan mengguncang dunia. Sebenarnya, agak pusing juga Cak Nun sejak di kantor Perwakilan BI di New York, karena aslinya beliau benar-benar merasa sangat awam mengenai “ekonomi”, istilah-istilah dan rumus-rumus njlimetnya ekonomi global. Itu sebabnya, beliau selalu coba mencari tahu, dan Mas Jamal janji akan berusaha menulis “takhayul” keuangan dunia, yang untuk Indonesia dicemaskan akan memunculkan chaos pada bulan Oktober mendatang.

Cak Nun juga penasaran apa dan siapa the Fed tadi. Salah seorang kerabat Maiyah yang menyimak perjalanan Cak Nun dan Ibu Via di Amerika, menuturkan bahwa Federal Reserve atau The Fed adalah institusi keuangan AS paling berpengaruh dan paling aneh sedunia. Pertama karena jika chairman-nya “batuk” saja pasar global segera bereaksi seketika. Seorang investor misalnya bisa mendadak kaya atau miskin dalam hitungan menit. Chairman-nya baik Bernanke ataupun penggantinya Januari lalu, Janet Yellen, Dua-duanya Jewish/Yahudi ekonom andal AS.

Perwakilan BI, New York
Perwakilan BI, New York

Lebih jauh, Cak Nun mencari tahu seperti apa situasi ekonomi global saat ini, dan bertanya kepada salah seorang koleganya. Kolega tersebut menggambarkan:

“Cak Nun yth, semua elite kini cemas dengan situasi ekonomi dunia. Mengapa? Karena baru pertama kali dalam sejarah sistem ekonomi dunia ini kehilangan elan vitalnya. Energi penggerak pertumbuhan seolah mandeg. Amerika, Eropa dan China seolah kehilangan energi untuk gerakkan mekanisme pasarnya. Invisible hand yang jadi elan vital sebagai market forces itu hilang. Demand turun drastis. Permintaan barang impor turun, mau eksport produk demand turun. Pertama sekali dalam sejarah harga komoditas anjlok. Negara penghasil bahan mentah kehilangan sumber revenu. Begitu juga harga bahan bakar atau fuel prices anjlok hingga 30 dollar. Semua industri minyak tak bergerak. Investasi ditunda produksi, tak dapat dilakukan. Amerika yang punya shale gas terpaksa stop investasi shale gas. Sebab cost of production lebih besar dari prices. Negative cash flow. Dengan kata lain sekarang ini ibaratnya ekonomi dunia terutama sektor riil kehilangan center of gravity. Seperti di ruang angkasa zero gravity membuat semua benda melayang di udara tanpa bobot. Ini yang bikin semua ahli jitter, atau gelisah. Kapan selesainya? Begitu cak Nun gambaran global tentang akar persoalan dari yg panjenengan tanya ke saya. Salam.”

Sang kolega menambahkan bahwa fenomena ini berbeda dengan tahun 1997 dan 1998. Kalau dulu Fisika Newton. Aksi reaksi. Sekarang ini ibaratnya masalah fisika quantum. Membaca informasi atau gambaran itu, Jun-Ja salah seorang teman di USA yang ikut mengawal perjalanan Cak Nun dan Ibu Via cuma bisa berkata ringkas: “Wow, ini serius….”