Selamat Datang di Negeri Kami: Maroko

Orang Maroko ramah dan sangat bangga dengan negerinya. Di bandara, beberapa kali disapa dengan kalimat, "Selamat datang di negeri kami: Maroko".

Catatan 18 Juni 2013, pukul 08.00 waktu Maroko

Setelah mendarat di bandara Mohammed V (kota Casablanca), melalui perjuangan panjang dengan membawa alat musik yang total beratnya hampir 400kg, rombongan KiaiKanjeng rehat sejenak didepan bandara. Berfoto-foto dan yang utama menyempatkan “merokok”. Perjalanan panjang Yogyakarta – Jakarta – Abu Dhabi – Casablanca yang ditempuh hampir 20 jam memaksa rombongan KiaiKanjeng “berpuasa” merokok.

20 jam perjalanan KiaiKanjeng
20 jam perjalanan KiaiKanjeng

Setelah semua siap, rombongan KiaiKanjeng naik mobil van VW menuju kota Rabat. Pak Rashid, driver yang ramah bercerita dengan antusias tentang negerinya: Maroko. Kota Casablanca ini cukup ramai karena ibukota industri. Sementara Rabat sebagai ibukota administrasi.

Didepan Bandara Mohammed V
Didepan Bandara Mohammed V

Orang Maroko ramah dan sangat bangga dengan negerinya. Di bandara, beberapa kali disapa dengan kalimat, “Selamat datang di negeri kami: Maroko”.

Sepanjang jalan terlihat banyak sawah-sawah yang sudah memasuki masa panen. Tanah ladang cukup subur dengan tanaman padi dan sayuran. Mata air dari sumur diambil dengan menggunakan teknologi modern.

Selamat datang di negeri kami: Maroko
Selamat datang di negeri kami: Maroko

Baliho-baliho yang berderer sepanjang jalan menggunakan bahasa Arab dan bahasa Perancis. Masyarakat Maroko dalam sehari-hari memakai bahasa Arab dan bahasa Perancis.

Tata kota negeri ini hampir sama dengan Perancis. Dulu, Maroko adalah negeri jajahan Perancis. Jalan menuju kota Rabat melewati pegunungan yang lumayan sejuk. Udara disini tidak begitu panas.

Bahasa Arab dan Bahasa Perancis
Bahasa Arab dan Bahasa Perancis