Sacred Music

Menarik bahwa musik KiaiKanjeng disebut "sacred music". Sacred berarti suci atau sakral.

Catatan 19 Juni 2013, pukul 08.00 waktu Maroko

Setelah hampir dua hari sejak meninggalkan Jakarta, transit Abu Dhabi, dan akhirnya mendarat di Casablanca, KiaiKanjeng tak hanya harus berpuasa “merokok” tapi juga benar-benar belum “ketemu” nasi. Alhamdulillah pagi ini di Wisma Nusantara kota Rabat, mereka disediakan sarapan pagi dengan hidangan khas Indonesia, nasi uduk dan ayam goreng.

Sarapan pagi bersama telah selesai. Duta Besar RI untuk Maroko, Cak Nun, Mbak Via, Cak Fuad, dan seluruh personil KK berfoto bersama di halaman belakang Wisma Nusantara. Dalam sejarahnya, hubungan RI-Maroko cukup baik. Seperti pesan Bung Karno, RI-Maroko tanpa visa.

Inilah Gedung Mohamed V tempat nanti malam KiaiKanjeng mempersembahkan keindahan musik dan tegur sapa antar dua bangsa: RI-Maroko. Gedung ini terletak di kawasan Madinah Irfan Rabat Maroko.

Menarik bahwa musik KiaiKanjeng disebut “sacred music”. Sacred berarti suci atau sakral. Sebutan itu jauh lebih lugas, jelas, dan tandas ketimbang disebut sebagai musik religi yang tidak jelas konstelasi pemahamannya di Indonesia, dimana banyak group band pop tiba-tiba membawakan musik religi pada bulan Ramadhan saja, tanpa historitas yang jelas dan tak bermakna.

Sacred disini tidak menunjuk pada personel, atau musisinya, melainkan kepada tema dan konten musik yang berisi syukur dan puja-puji kepada Allah SWT, cinta dan rindu kepada Rasulullah, nilai-nilai persaudaraan dan keindahan. Semuanya adalah sesuatu yang suci, sakral, sacred.

Mandiri dan Tangguh
Mandiri dan Tangguh

Ketangguhan adalah milik KiaiKanjeng. Tanpa satu orang pun kru yang ikut serta, mereka harus mengusung sendiri seluruh alat musiknya sejak meninggalkan Jogja, hingga tiba di Maroko, dan kini mereka men-setting alat-alat itu di venue juga secara mandiri dan tangguh.