Ngopi Ngudud Maneh….

Dengan nyruput kopi dan ngudud, mereka bisa rehat sejenak, rileks, menghirup nafas panjang, agar energi dan stamina tetap terjaga.

Pentas pertama di Teater Mohammed V Rabat sudah selesai dan alhamdulillah berjalan dengan lancar. Alat-alat musik sudah terbungkus rapi. Rombongan KiaiKanjeng segera melanjutkan perjalanan selama kurang lebih 3 jam menuju kota Ifrane.

Di tengah perjalanan itu, tepatnya di Oualili Cafe di kota Meknes, mobil van VW yang membawa KiaiKanjeng berhenti. Pak Nevi, Mas Bobiet, Bayu, Blothong, dan kawan-kawan segera memesan kopi. Betapapun KiaiKanjeng adalah penikmat kopi. Di perjalanan mana pun kalau bisa mampir ngopi, seperti ketika mereka mampir di warung di belakang pom bensin di sebuah daerah dekat Ciamis Jawa Barat di dini hari perjalanan menuju Jakarta dan sekitarnya. Didukung dengan suasana kota Meknes yang dingin.

Suasana kota Meknes
Suasana kota Meknes

Bukan apa-apa. Dengan nyruput kopi dan ngudud, mereka bisa rehat sejenak, rileks, menghirup nafas panjang, agar energi dan stamina tetap terjaga. Apalagi, seperti malam nanti mereka harus tampil lagi, dan tentunya harus memberikan yang terbaik.

Di Universitas Al-Akhawayn Ifrane, Cak Nun dan KiaiKanjeng akan memberikan persembahan dalam Pembukaan Seminar Internasional dengan tema “Islam in Asia”. Dalam seminar ini, akan hadir narasumber dan peserta dari berbagai negara di Eropa, Amerika, dan Asia, tak terkecuali narasumber dan tokoh-tokoh dari Indonesia.

Pada performance yang direncanakan berdurasi 90 menit ini, Novi Budianto dan kawan-kawan tidak maju ke panggung dengan mempresentasikan makalah-makalah ilmiah sebagaimana para narasumber, melainkan menyuguhkan ragam musik-musik gamelan KiaiKanjeng dengan aransemen-aransemen khusus. Sebuah presentasi musikal yang justru diharapkan dapat memberikan atmosfer nilai-nilai yang bagus, nilai-nilai yang mengusung — seperti kata Prof. Mariam Aid Ahmad dari Kenitra — risalah persaudaraan, toleransi, dan cinta kasih, sehingga para narasumber dan peserta bisa melihat Islam Asia melalui sosok dan musikalitas Cak Nun dan KiaiKanjeng yg langsung dapat mereka lihat dan alami melalui hati dan segenap panca indera mereka.