Concert de Musique Sacrée Indonésienne

Penampilan Cak Nun, Novia Kolopaking dan KiaiKanjeng dalam Concert de Musique Sacrée Indonésienne di Maroko.

Catatan 19 Juni 2013, pukul 23.00 waktu Maroko

Tibalah saatnya, pukul 19.30 waktu Maroko, ketika gedung teater Mohammed V Rabat telah penuh oleh hadirin dan tamu undangan,  Concert de Musique Sacrée Indonésienne oleh KiaiKanjeng dari Indonesia dimulai. Cak Nun mengiringi KiaiKanjeng yang satu persatu menempati posisi masing-masing dengan melantunkan dua ayat terakhir surat at-Taubah. “Laqad ja’akum rosulun min anfusikum….”. Sebuat ayat yang menggambarkan ketinggian akhlak Nabi Muhammad SAW. Lantunan ini pun segera menghadirkan suasana sakral. Tak salah mereka menyebut KiaiKanjeng dengan sebutan sacred music.

Kemudian KiaiKanjeng segera menyambung dengan nomor Pambuko I. Sebuah nomor pembuka agak panjang dan menjadi salah satu kekuatan di mana bunyi gamelan KiaiKanjeng tampil secara dominan dan kuat, sehingga dapat dirasakan dimensi magisnya. Sebuah jenis bunyi yang tentunya jarang didengar langsung oleh publik Maroko. Gamelan KiaiKanjeng sendiri digubah secara khusus konsep notasinya oleh Novi Budianto dan piranti fisiknya dibuat oleh tangan istimewa Mas Gianto.

Nomor Pambuko I ini kemudian diteruskan dengan shalawat Ya Imamar Rusli. Nomor yang diambil dari salah satu khazanah madah Nabawi ini mengungkapkan kerinduan kepada Nabi Muhammad Saw, sosok pemimpin agung, yang karakter-karakter kepemimpinannya digambarkan dengan indah dalam nomor ini. Melalui lagu ini terselip doa dan harapan agar Rasulullah berkenan mengulurkan tangannya menjemput dan menarik tangan-tangan kita semua untuk memasuki surga. “Ya Rasulallahi khudz biyadi”.

Begitu selesai Ya Imamar Rusli, segera Cak Fuad naik ke panggung dan menyapa hadirin dalam bahasa Arab. “Hadirin yang mulia. Kami sungguh bahagia sekaligus takjub, bahwa kami KiaiKanjeng yang dipimpin oleh Emha Ainun Nadjib bisa berada di sini dalam acara yang spesial ini, padahal kami berasal dari negeri yang nun jauh di ujung Asia Tenggara, yang untuk sampai ke negeri berjuluk Jendela Eropa ini kami harus menempuh perjalanan udara sekitar 20 jam, melewati tiga perempat luas bulatan bumi. Tapi itulah kehendak Allah Yang Maha Kuasa. Sebelum melanjutkan penyajian lagu-lagu, izinkan kami pertama-tama mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada Anda semua khususnya bangsa Maroko atas keramahtamahan Anda semua. Dan secara khusus kami sampaikan penghormatan dan penghargaan yang tertinggi kepada Yang Mulia Raja Muhammad VI yang masyhur dengan kedermawanan dan penghormatannya kepada para tamu. Sejak menginjakkan kaki di negeri ini, kami segera merasakan bahwa penduduk negeri ini sangat bangga dengan negeri mereka, dan teguh dengan keotentikan akhlak Islam dan Arabnya. Tidak lupa kami juga menyampaikan terimakasih kepada Yang Mulia Duta Besar RI dan segenap staf serta warga Indonesia di Maroko yang telah bekerja keras sehingga kami bisa memenuhi undangan mereka hadir di negeri ini….”

Satu per satu lagu-lagu kemudian dibawakan dengan sangat apik oleh KiaiKanjeng yang malam itu mengenakan baju batik berwarna putih, sebuah busana khas-milik Indonesia. Penonton Maroko ini sangat serius menikmati nomor-nomor KiaiKanjeng seperti Dauni Dauni, Ing Donya Piro Suwene, dan Gundul-Gundul Pacul. Terutama sekali mereka sangat asyik menikmati dan terdiam, tatkala Zainul Arifin melantunkan suluk-suluk dengan kekuatan cengkok Timur Tengah-nya, dan di ujungnya mereka memberikan aplaus. Mereka mulai cair ketika KiaiKanjeng sebagai bentuk penghormatan kepada bangsa Maroko membawakan sebuah lagu asli Maroko. Dan sambutan meriah juga mereka berikan saat KiaiKanjeng membawakan satu nomor yang oleh KiaiKanjeng disebut Medlei Maroko. Medlei ini menggunakan Bahasa Jawa, Prancis, Maroko, India, Cina, dan dipuncaki dengan sebuah shalawat.

Spesial persembahan ketika ananda Haya beserta ibunya, Novia Kolopaking, membawakan sebuah lagu dari Turki berjudul Yansin Geceler. Para penonton ikut bergembira menikmati lagu ini, dan begitu selesai, tepuk tangan yang panjang diberikan, membahana memenuhi gedung ini. Gemuruh kegembiraan juga terjadi ketika Imam Fatawi membawakan lagu dangdut berjudul ‘Musik’ karya Haji Rhoma Irama. Mereka tak bisa mengelak untuk tidak ikut dalam alunan irama dangdut ini. Setelah lagu ini, Cak Nun menjelaskan tentang musik dangdut dan bangsa Indonesia.

Juga pada bagian yang lain, Cak Nun dan Cak Fuad memperkenalkan tentang gamelan KiaiKanjeng yang baru saja mereka rasakan keindahannya, serta menguraikan prinsip cinta segitiga antara Allah-Nabi Muhammad-Kita, sebuah prinsip yang mendasari seluruh lagu-lagu yang dibawakan KiaiKanjeng. Nomor-nomor yang dibawakan KiaiKanjeng pun dikupas dengan sangat bagus oleh Cak Fuad dalam bahasa Arab sehingga ratusan orang Maroko yang hadir malam itu mendapatkan wawasan baru mengenai kesenian Indonesia dan juga khususnya bagaimana Islam menampilkan kesenian dalam format dan bahasa yang menarik dan kultural.

Nomor-nomor yang  dibawakan KiaiKanjeng membuat mereka menikmati suara gamelan KiaiKanjeng yang rancak dan menggetarkan. Dan, sesungguhnya tanpa terasa, waktu yang sedianya diberikan hanya 90 menit, rupanya terus mengalir hingga 2 jam lebih sepuluh menit. Di penghujung acara, Cak Nun mengajak Dubes Tosari Wijaya untuk naik ke panggung. Begitu juga dengan perwakilan dari Malaysia, para mahasiswa dari berbagai daerah. Selanjutnya mereka menyanyikan bersama-sama dan mengajak para hadirin keliling ke Indonesia dengan mendengarkan kekayaan lagu-lagu daerah Indonesia.

Di puncaknya, KiaiKanjeng mempersembahkan lagu Kalimah-nya Fairuz salah satu bintang musik Timur Tengah yang telah diaransemen secara khusus. Tepuk tangan sangat panjang dan paling panjang malam itu begitu lagu Kalimah selesai dinyanyikan, sekaligus mengakhiri performance Cak Nun dan KiaiKanjeng di bawah host Cak Fuad di Teater Mohamed V ini.

Selesai acara, KiaiKanjeng harus mengeluarkan ketangguhannya lagi: meringkas alat-alat secara mandiri, untuk di-packing lagi, dan bersiap-siap melanjutkan perjalanan menuju kota Efrane untuk pementasan selanjutnya dalam pembukaan Seminar Internasional tentang Islam di Asia pada 20 Juni 20013, pukul 19.30 waktu Maroko.

Di sela-sela itu, KiaiKanjeng menerima komentar beberapa hadirin. Di antaranya, Yousef Bannanie (Ketua Pemuda dan Kesenian Masyarakat Asila), yang menyatakan bahwa irama musik KiaiKanjeng sangat menusuk hati. “Saya menyesal tidak membawa keluarga saya,” tuturnya. Sementara itu, Prof. Mariam Aid Ahmad dari Kenitra menyampaikan, “penampilan yang memukau dengan mengemban risalah persaudaraan, toleransi, dan cinta kasih. Musiknya mengalir sebagai sebuah alunan musik sufi”.