Komplitnya Ngaji di Chaiwan College

Acara di Chaiwan College ini dapat dikatakan sebagai pengajian yang komplit, karena materi yang disampaikan Cak Nun cukup komplit dan komprehensif.

Gedung berkapasitas 1500-an orang itu benar-benar penuh. Sebagian bahkan rela mengambil tempat di luar ruangan. Usai puji-pujian bersama vokalis KiaiKanjeng, acara secara resmi dibuka. Mas Zainul mendapatkan kepercayaan dan kehormatan untuk menjadi qari. Melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Kehadiran Cak Nun dan Ibu Via disambut shalawatan para hadirin, dan begitu berada di atas panggung, Cak Nun langsung ikut bershalawat.

Mengawali muwajjahah ini, Cak Nun mengajak semua hadirin, para TKI, untuk bersyukur dan menikmati hidup. Contoh yang diambil langsung dari sekitar mereka, yaitu kehidupan umumnya masyarakat Hong Kong dan Korea. Cak Nun mendeskripsikan dalam campuran bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, “Aku Mesakno karo wong Hong Kong wong Korea, urip kok neng gupon, gak nduwe latar, gak nduwe sumur. Gedung tinggi bukan lambang kemewahan, melainkan keterpaksaan. Sakno wong kene iki, nek mati gak ngerti arep dikubur nengdi.”

Dengan melihat budaya hidup di masyarakat Hong Kong, tak ada alasan untuk tidak bersyukur, sedang mereka memiliki cara dan lingkungan hidup yang jauh lebih baik dan lebih kaya batin di tanah airnya, yang meskipun saat ini tengah mereka tinggalkan. Mereka jadi ngeh bahwa hidup mereka lebih nikmat dan wajib disyukuri.

Pada intinya, Cak Nun membesarkan hati semua TKI. “Njenengan kerja di Hong Kong ini niatnya menolong orang Hong Kong, mesakke atau kasihan orang-orang Hong Kong ini. Hidupnya sepi. Tidak punya tetangga. Nggak punya sumur. Tidak ada falsafah mendem jero….,” tutur Cak Nun menunjukkan fungsi utama keberadaan mereka yang boleh jadi selama ini tidak mereka sadari sendiri, dan bahwa peran seperti ini adalah peran yang sangat tinggi nilainya karena berdimensi peradaban dan kultural. Mereka bukan sekadar tenaga kerja. Mereka adalah manusia yang bersedia berbagi kemanusiaan dengan masyarakat Hong Kong tempat mereka berada saat ini. Mereka mengisi kekosongan hati dan batin orang-orang Hong Kong.

Acara di Chaiwan College ini dapat dikatakan sebagai pengajian yang komplit. Bukan sekadar karena KiaiKanjeng kali ini lengkap seluruh alat musiknya—beda dengan di Macau–, bukan sekadar lagu-lagu yang dibawakan juga sangat banyak, bukan pula karena kehadiran istimewa Mbak Via, Hayya, dan Rampak, melainkan karena materi  yang disampaikan Cak Nun cukup komplit dan komprehensif. Cak Nun memberikan dasar-dasar sikap hidup yang perlu dipegang. Tambahan pula, durasi waktu untuk acara ini sangat lama, sehingga memungkinkan banyak hal dieksplorasi dan dikaji. Dimensi-dimensi dalam acara ini pun sedemikian kaya: ya musik, ilmu, komunikasi hati, kemesraan, kegembiraan, kekhusyukan shalawat dan dzikir, pendidikan, pembekalan, rekonstruksi pemahaman, dan dimensi-dimensi lainnya. Semua diramu dan teramu dengan sangat apik.

Di situlah Cak Nun berpesan agar mereka menjadikan ibadah sebagai “urusan dapur” (input) dan meletakkan akhlak sebagai suguhan (output). Keduanya harus saling berhubungan. Yang tempatnya di dapur jangan terlalu ditonjol-tonjolkan. Menyikapi derasnya arus yang menggiring orang untuk bergaya hidup lain, Cak Nun menegaskan, “Kalian jangan jadi orang lain. Jadilah diri anda sendiri.” Tentang salah satu persoalan, yaitu gejala atau praktik lesbian, Cak Nun menyampaikan, “Mesakke arek-arek sing lesbi iki. Pasti hatinya tersiksa. Kita doakan saja supaya mereka sadar. Dan pasti suatu saat akan sadar. Percayalah….”

Di mana pun beracara, bertemu, atau bersilaturahmi dengan para TKI, mulai yang tersebar di Abu Dhabi, Malaysia, Busan, Taiwan, Hong Kong hingga Macau, kepada mereka Cak Nun selalu menempatkan diri sebagai bapak, bukan ustadz atau kiai mereka. “Saya gembira punya anak banyak. Pandai dzibaan, pintar shalawatan, dan pandai lain-lainnya lagi. Saya dan KiaiKanjeng bangga kepada anda semua,” puji Cak Nun.

Belum lengkap kalau para hadirin ini tidak mengenal siapa-siapa personel KiaiKanjeng. Dan untuk ini, Mbak Via mengambil peran. Dikenalkannya satu per satu nama semua pemain dan vokalis. Dalam komunikasi yang enak dan sarat canda, tak lupa Mbak Via membubuhkan keterangan saat mengenalkan Mas Imam Fatawi: dia satu-satunya yang masing bujang di KiaiKanjeng. Sontak, kabarnya, banyak yang ingin mendaftar jadi pasangan  Mas Imam.  Ya, setelah perkenalan ini Mbak Via mempersembahkan lagu Keluarga Cemara berkolaborasi dengan semua vokalis KiaiKanjeng. Semua ikut bernyanyi, dan menikmati.

Acara yang cukup panjang ini sempat break saat waktu sholat dhuhur dan makan siang tiba. Dan sesudah itu, kurang lebih pukul 14.00, acara dilanjut lagi. Seluruh hadirin sudah kembali ke ruangan ini seperti semula dan siap mengikuti jalannya acara.  Mendasari “sesi kedua” ini, Cak Nun menukik ke soal yang paling mendasar yaitu pemahaman mengenai agama dan dunia, dunia dan akhirat, ibadah mahdhoh dan ibadah muamalah, bid’ah dan bukan bid’ah. Salah kaprah dan improporsionalitas mengenai tema ini ditata kembali oleh Cak Nun. Nggak di pelosok desa, nggak di dalam kota, nggak di dalam maupun di luar negeri, persoalan yang sama selalu disodorkan dan dikeluhkan masyarakat kepada Cak Nun. Ternyata, dalam caranya sendiri Cak Nun dan KiaiKanjeng tak henti-hentinya berjuang mengembalikan orang-orang untuk kembali ke “keutuhan”, bukan keterpisahan dan hobi memisah-misahkan yang merupakan ciri sekularisme.

Salah satu keutuhan itu adalah bulatnya ketaatan hanya kepada Allah. Banyak hal dari budaya dan pergaulan yang sangat rentan membelokkan ketaatan itu entah kepada ustadz atau siapapun secara sudah tidak sehat lagi. Cak Nun mengingatkan lagi hal ini. Bahwa mereka sebaiknya hanya taat kepada Allah. Tidak kepada yang lain. Penjelasan yang dikemukakan Cak Nun ini salah satunya menanggapi apa yang disampaikan Mbak Dian dalam sambutan mewakili panitia di awal acara.

Nomor-nomor yang dipersembahkan KiaiKanjeng diperkaya dengan sumbangan lagu dari Hayya dan Rampak. “Fly Me to the Moon” dan “Eyes Nose Lips” dibawakan oleh Hayya dengan piawai dan cantik. Plus, Hayya juga berduet dengan Ibunya, Mbak Via, dalam nomor lagu berbahasa Turki “Yansin Geceler”. Kembali setelah tiga lagu ini, Rampak menyedot tawa hadirin melalui lagu Jawa yang ditembangkannya diringi musik KiaiKanjeng.

Kehadiran Rampak menjadi jalan bagi Cak Nun untuk menularkan konsep pendidikan anak. Setelah bercerita tentang tingkah dan kebiasaan rampak di rumah maupun di sekolah, Cak Nun menjelaskan, “Anak kecil itu jangan dicetak, tapi diikuti dan dikawal. Biarkan dia mencari jati dirinya.” Boleh jadi, konsep pendidikan ini sangat dibutuhkan oleh para TKI ini yang sebagian juga bekerja mengasuh anak-anak majikannya, sehingga mereka bisa menerapkan pendekatan pendidikan yang tepat. Biar pun bukan anak mereka sendiri dan mengasuhnya lebih dikarenakan tuntutan pekerjaan, kalau mereka mendampingi anak-anak itu dengan baik, pasti merupakan sumbangsih yang baik pula bagi kehidupan.

Sihir Si Bujang Imam Fatawi

Banyak sekali lagu disuguhkan KiaiKanjeng, di antaranya Give Me One Reason oleh Mas Doni, Demak Ijo oleh Pak Nevi, dan ada satu segmen di mana bergiliran setiap player menampilkan kebolehannya dalam memainkan alat musik masing-masing. Dan puncak dari persembahan musikal ini adalah nomor dangdut Gelandangan yang dinyanyikan Mas Imam Fatawi. Sangat apik, memikat, dihiasi goyang, dan semuanya bersorak gembira menyambut penampilan Mas Imam ini. Semua tersihir. Semua terpikat. Dan fokus yang membuat mereka terpikat adalah simpati pada “bujang”-nya Mas Imam. Jadi, bukan tanpa efek positif ketika Mbak Via memperkenalkan masing-masing personel KiaiKanjeng. Begitu pun saat mas Imam membawakan nomor unik nan menghibur berjudul “Cinta Bla Bla Bla”. Kabarnya, ketika acara usai, dan Mas Imam turun panggung, banyak mbak-mbak yang mengerumuninya, berkenalan, dan meminta foto bersama.

Sebelum acara sampai pada penghujungnya, Cak Nun sempat menitipkan sejumlah pesan mengenai jangan mudah tertipu oleh pakaian atau penampilan luar, tentang bagaimana sebaiknya menyalurkan shadaqah secara mandiri dan tepat sasaran, dan saran agar ketika mereka ditimpa masalah yang berat untuk mengumandangkan adzan meskipun cuma dalam hati. Cak Nun mengajak mereka semua untuk sering mewiridkan ‘Ya hafidz ihfadhna (Ya Allah yang Maha Menjaga jagalah kami).

Suasana makin khusyuk tatkala Cak Nun melantunkan Ilir-ilir dan di salah satu bagiannya berdoa dan sempat menangis, sehingga semua masuk dalam suasana syahdu dengan jiwa menunduk. Pada saat itu, Cak Nun berdoa memohonkan kebaikan bagi hadirin, semua tenaga kerja Indonesia yang ada di Hong Kong, mendoakan agar Allah memberikan kebaikan dan keberkahan bagi keluarga mereka. Menutup rangkaian pengajian ini, Cak Nun meminta Mas Islamiyanto untuk memimpin doa bersama.

Usai acara, KiaiKanjeng segera mengemas alat-alatnya sembari melayani hadirin yang meminta berfoto bersama. Hampir semua masing-masing personel KiaiKanjeng ada yang ngajak foto, bergiliran. Tidak hanya terfokus hanya pada satu dua orang. Bahkan Mas Adin sang fotografer KiaiKanjeng yang malah jarang berfoto, kali ini tak bisa menolak permintaan berfoto bersama. Menyampaikan kesan dan rasa syukurnya, Isna, salah seorang TKW, mengungkapkan bahwa dia sangat senang dan exited sekali dengan acara pengajian yang luar biasa baginya ini. Dia juga menyampaikan keinginannya, agar KiaiKanjeng sering-sering datang ke Hong Kong.