KiaiKanjeng Sambangi Hong Kong dan Macau

Maiyahan bersama Cak Nun, Novia Kolopaking dan KiaiKanjeng, Hongkong Tour Desember 2014.

Seakan memuncaki rangkaian padat di sepanjang tahun 2014 ini, tanggal 20-21 Desember ini, KiaiKanjeng menyambangi Hong Kong dan Macau untuk beracara di sana. 20 Desember siang ini KiaiKanjeng tampil di Macau, tepatnya di Campek Community Center Sanmalo Macau dalam tajuk “Ngaji Bareng Cak Nun, Novia Kolopaking, Haya, dan KiaiKanjeng”. Setelah itu, 21 Desember Minggu pagi CNMVKK (Cak Nun, mbak Via, KiaiKanjeng) beralih beracara di Chaiwan College (MTR Exit D) Hong Kong dalam tajuk “Ngaji Bareng Cak Nun, Novia Kolopaking, dan KiaiKanjeng”. Panitia yang mengundang acara di Hong Kong ini adalah kumpulan dari 54 organisasi Muslim di Hong Kong.

Acaranya di Macau dulu, tetapi rute perjalanannya adalah dari Jakarta menuju Hong Kong, dari Hong Kong meluncur ke Macau, dari Macau balik ke Hong Kong untuk acara kedua, dan kemudian dari Hong Kong balik pulang ke Jakarta. Kamis sore 18 Desember, rombongan KiaiKanjeng, setelah melalui persiapan packing alat musik yang tak cukup sehari dua hari ini, dari Bandara Adisucipto Yogyakarta bertolak menuju Jakarta. Transit beberapa jam di bandara Cengkareng, KiaiKanjeng segera menempuh penerbangan sekitar 6 jam menuju Hong Kong.

Sembari menunggu penerbangan ke Hong Kong, di bandara internasional Soekarno-Hatta, KiaiKanjeng menghabiskan waktu dengan minum teh, ngobrol, dan duduk-duduk di Mutiara Longue sekitar 1,5 jam. Sebagian lain mencari tempat khusus. Tak lain tak bukan: Smoking Room. Mengepulkan asap kehidupan. Selama penerbangan malam menuju Hong Kong Bapak-Bapak, Om-om, dan Mas-Mas KiaiKanjeng melewati waktu dengan istirahat demi menjaga stamina agar acara nantinya bisa dilakoni dengan baik.

Jum’at pagi kurang lebih pukul 06.00 waktu setempat, rombongan Pak Nevi dkk tiba di Bandara Internasional Hong Kong. Di sana, rombongan KiaiKanjeng bertemu dengan Cak Nun, Mbak Via, dan Haya yang sebelumnya sudah lebih dulu beracara di Taiwan dan tiba di Hong Kong lebih awal. Cuaca disana sangat dingin saat ini, sekitar 12-15 derajat celcius. Dalam suhu yang dingin itu, seperti pada tur-tur luar negeri lainnya, para personel KiaiKanjeng harus mandiri, bahu-membahu mengangkat, mengusung, dan menggotong alat-alat musik mereka, karena tidak ditemani kru seperti pada perjalanan dalam negeri. Masing-masing harus meng-handle barang-barang yang sudah didistribusikan oleh Mas Jijid dan Mas Donny selaku komandan peralatan.

Setiba di Hong Kong di pagi hari yang gerimis, Mbak Dian dan kawan-kawan, panitia Hong kong, segera menyambut kedatangan orang-orang yang dalam istilah Cak Nun lebih tepat disebut “TKI outsourcing” dua hari. Bus besar sudah menanti mereka.

Suasana antri imigrasi sangat ramai sekali. Pun antri bagasinya. Di imigrasi ini, ada sedikit kejadian unik. Mas Bobit terkena razia, entah karena alasan apa, mungkin razia random, random memeriksa “orang-orang yang mencurigakan”, namun alasan pastinya memang tidak begitu jelas. Sehingga harus di interview dan diperiksa lebih ketat oleh petugas. Tapi lama-lama petugasnya malah semakin akrab sama mas Bobit, dan banyak nanya atau cerita soal Bali. Akhirnya, bebas, dan jalan terus.

Setelah selesai angkut-angkut box-box berisi gamelan, boning, dan alat-alat lainnya, bus besar berwarna putih membawa KiaiKanjeng menuju rumah transit yang akan jadi basecamp selama KiaiKanjeng di Hong Kong dan Macau. Perjalanan memakan waktu 1 jam dari airport. Tampaknya merupakan perjalanan yang menyenangkan bagi KiaiKanjeng di awal menginjakkan kaki di Hong Kong ini. Bus besar ini memanjakan KiaiKanjeng dengan pemandangan melewati jembatan-jembatan antar pulau yang sangat banyak di Hong Kong.

Rupanya KiaiKanjeng mendapatkan tempat stay di Indonesian Promotion Center dan Art Gallery. Ini juga untuk pertama kalinya KiaiKanjeng secara lengkap datang ke Hong Kong. Yang paling sering adalah Cak Nun dan Mbak Via yang kerap diundang teman-teman TKI di sana. Mas Zainul dan Mas Imam didampingi Mas Zakki juga pernah beberapa hari diundang di sana untuk melatih shalawatan konco-konco TKI.

Cak Nun KiaiKanjeng Hongkong Tour 09
Cak Nun KiaiKanjeng Hongkong Tour 2014

Rombongan kali ini lengkap. Can Nun, mbak Novia, dan KiaiKanjeng. Bahkan Pak Nevi secara mandiri mengajak anak putrinya, Nurul. Maksudnya, agar Nurul punya pengalaman baru dan bisa sedikit membantu beberapa hal yang dapat dikerjakan. Tentunya juga agar dia bisa mengawasi sang bapak agar tidak terlalu kreatif fan inovatif (istilah abstrak versi pak Nevi). Nurul jadi satu-satunya perempuan dalam rombongan KiaiKanjeng.

Hari pertama di Hong Kong belum ada agenda acara apa-apa kecuali jalan-jalan keliling kota di sana. Usai shalat jum’at, para TKI Outsourcing ini bersiap untuk city tour dengan naik MTR yang merupakan satu sistem transportasi tercepat di Hong Kong.

Pasar murah Mong Kok merupakan salah satu tempat yang dikunjungi. Macam-macam barang, terutama barang elektronik dijajakan di sana. Di jalan, di tengah padatnya pejalan kaki Hong Kong, banyak orang berebut menyalami Cak Nun. Di pasar Mong Kok ini, hampir semua bapak-bapak KiaiKanjeng belanja kaos dan baju tradisional China dan barang-barang lainnya. Harga kaos paling murah 100 dolar dapat 8 biji. Untung sekali, ada Mbak Ika dan Mbak Aan yang membantu mereka menawar harga agar dapat lebih murah lagi. Selain ke pasar murah Mong Kok, KiaiKanjeng juga mampir ke pasar Sham Shui Po. Di pasar ini, KiaiKanjeng sempat melihat-lihat alat-alat musik tradisional China.

Dalam rangkaian jalan-jalan ini, bukan hanya pasar yang KiaiKanjeng lihat dan nikmati dari suasana aktivitas sehari-hari di Hong Kong, melainkan juga melihat kehidupan Hong Kong secara umum, ya orang-orang, pemukiman, sarana dan prasana transportasi, stasiun, jalanan, gedung-gedung, apartemen-apartemen, dan lain-lainnya.

Mas Zakki yang sudah bertahun-tahun menemani KiaiKanjeng keliling ke mana-mana dalam maupun luar negeri, sehingga memiliki mata pandang sosiologis yang lumayan tajam tentang ragam kehidupan manusia di pelbagai tempat, menuliskan kesan, “Hidupnya mereka habiskan di jalanan. Di pasar. Di stasiun-stasiun. Orang Hong Kong menghindari rumahnya sendiri. Setelah seharian kemarin jalan-jalan, hari ini rombongan Cak Nun KiaiKanjeng memulai kegiatan ke Macau.

Baru kali ini kami ke Macau. Negeri yang konon katanya pusat perjudian. Agak penasaran juga dengan Macau. Hong Kong yang katanya negeri maju, ah nggak lah. Ini negeri “miskin”. Warganya hanya tinggal di kamar-kamar apartemen yang sempit. Mereka tidak punya halaman. Apalagi kebun belakang. Pagi mereka berangkat, jalan kaki ke stasiun-stasiun, ke pasar-pasar. Sepanjang hari mereka di luar rumah. Memasuki malam, mereka masih betah di luar rumah. Jam 9 atau 10 malam warga Hong Kong baru masuk rumah. Dengan keadaan lelah karena aktifitas. Mereka tinggal selonjor dan tidur malam kecapekan. Pagi bangun dan mengulangi aktivitas lagi. Rumah bukanlah istana. Rumah hanya tempat tidur. Rumah hanya untuk membaringkan badan yang capek. Dan rumah mereka tidak menampung keluh kesah hati dan pikiran mereka. Ini bukan negeri yang maju. Ini negeri yang sempit untuk jiwa manusia. Mereka pekerja keras, bukan karena jiwanya pekerja keras, tetapi mereka dihadapkan pada keadaan harus bekerja keras….”

Pagi tadi, pukul 08.00, setelah menaiki MTR,  rombongan menuju kapal Ferry mewah dengan mesin turbo berkapasitas 300-an penumpang dan berkecepatan tinggi untuk bergerak menuju Macau melalui medan perairan kurang lebih selama satu jam. Di sana Cak Nun dan KiaiKanjeng akan bertemu publik atau audiens khususnya para TKI di Macau dalam sebuah acara yang digelar di tempat indoor. Dalam perjalanan di atas air ini, KiaiKanjeng merenung dan bersyukur karena untuk kesekian kalinya diperjalankan oleh Allah ke belahan bumi-Nya yang luas dengan kehidupan di atasnya yang begitu ragam dan beranena rupa dimensinya.