Daur (306)

Obor-Obor Cahaya

Junit dan lainnya, juga Pakde Paklik, membiarkan Seger selapang-lapangnya memaparkan kegelisahannya.

“Pakde Paklik dan teman-teman semua”, kata Seger, “kalau Mbah Markesot kabarnya pernah menyatakan bahwa makhluk manusia memiliki kecenderungan untuk konsisten terhadap kehancuran, bahkan istiqomah untuk senantiasa berlaku menghancurkan — saya berpikir bahwa tampaknya kita adalah golongan yang paling hancur di antara semua yang hancur”

Seger berhenti beberapa saat.

Daur (305)

AlMizanu wal’Adalah

Bahkan mungkin sebelum hibrida baru Adam diciptakan oleh Tuhan, sejak berpuluh-puluh atau mungkin beratus-ratus abad silam, konsistensi makhluk manusia terhadap watak penghancuran itu berlaku pada semua sistem nilai dasar yang diregulasi oleh Allah.

Daur (303)

Manusia Dalam Gelembung

Seger sangat panjang pemaparannya.

“Kebijakan-kebijakan pemerintah yang ada sekarang yang berkaitan dengan utang luar negeri dan penanaman modal asing merupakan kelanjutan dari kebijakan-kebijakan sejak era yang pro pasar bebas.

Daur (302)

Kepemimpinan Linglung

Bangsa dan Ummat ini secara spiritual dibesarkan oleh ketidaktenangan, ketergesaan, dan kegugupan. Secara psikologis dibesarkan oleh suasana yang sangat menghembuskan kebencian dan dendam.

Daur (300)

Khalifah di Petak Bumi

“Indonesia”, jawab Sapron.

“Bisakah kamu menolak atau membantah kelahiranmu di Bumi?”, Markesot mengejar terus.

“Tidak”.

“Menjadi manusia Indonesia itu pilihanmu ataukah insiatif Allah?”

“Ketentuan Syariat Allah”.

Daur (299)

Islam Belum Lahir Padanya

Di suatu perbincangan di Patangpuluhan sekian puluh tahun silam, Markesot pernah bertanya kepada teman-temannya: “Duluan mana lahirmu dibanding lahirnya Islam?”

Itu dialog untuk membabar pernyataan “karena aku Islamis maka aku Nasionalis, karena aku Nasionalis, maka aku Islamis”.

Daur (297)

Seragam Bersembahyang

Seger menginterupsi suasana “makrifat kecil” itu.

“Minta maaf sekali kepada Pakde Paklik dan semua teman-teman”, katanya, “tadi Pakde Brakodin mengungkapkan bahwa kami anak-anak muda sudah semakin piawai mengendarai gelombang, mengelola getaran, dan menelusuri aliran.

Daur (296)

Makrifat Kecil

“Apa yang lucu, Tul”, Sundusin sekarang yang bertanya. “apakah baik itu lucu, apakah mulia itu menggelikan, dan apakah indah itu layak menerbitkan tertawa?”

“Saya sedang GR, Pakde”, jawab Jitul, “yang kita alami ini rasanya seperti adegan Nabi Musa dengan Nabi Khidlir….”.

Daur (294)

Pinter Minteri

Sundusin gelisah oleh kosakata “pinter” antara lain karena memproduksi pekerjaan “minteri”. Memang tidak lazim dalam Bahasa Indonesia kata “memintari”, sebab “minteri” memang adalah bahasa Jawa.