Jendela di Sorga

Seandainya Allah berkenan memasukkan kita ke sorga, lantas suatu sore kita beristirahat, bermain gitar, bersenandung sambil memandang keluar jendela, dan tampak saudara-saudara kita sendiri yang kita kenal baik sedang meraung-raung disiksa di kubangan api neraka, rasanya tidak tega juga.

Padahal kita sah masuk sorga dan saudara-saudara kita itu memang pantas masuk neraka. Tapi kita tetap tidak tega.

Padahal itu di sorga. Apalagi di dunia ini. Kita belum tentu pantas berbahagia, karena mungkin jalan kita untuk kaya dan sejahtera tidak seratus persen sah secara sistem. Jutaan saudara-saudara kita juga bisa jadi seharusnya tidak melarat dan menderita, seandainya tatanan yang mengatur kehidupan kita semua ini berlaku semestinya.

Tapi tatkala kalimat-kalimat ini saya ungkapkan kepada teman-teman, mereka berkata: “Masa di sorga ada sore hari dan ada jendela. Masa di sorga kita bisa main gitar dan bersenandung”.

Padahal saya tidak berbicara tentang sorga, melainkan seratus persen tentang dunia.