CakNun.com

Puisi Puasa: Menjernihkan Hati, Menjaga Asa

Kenduri Cinta Edisi 254, 14 Maret 2025
Kenduri Cinta
Waktu baca ± 13 menit

Dok. Kenduri Cinta

Isi dan Asa

Malam semakin larut, kehadiran Krist Sagara membawakan beberapa lagu turut memberikan kehangatan. Suaranya yang khas berhasil membius penonton, menciptakan momen kebersamaan yang intim di tengah diskusi. Tidak hanya itu, Sabrang juga turut menghangatkan suasana dengan lagu Sebelum Cahaya bersama Krist Sagara.

Setelah sesi jeda berakhir, narasumber kembali naik panggung. Habib Ja’far yang baru saja datang, langsung naik ke panggung, membawa energi baru dalam forum. Selanjutnya, Sabrang meminta Seno, juru bicara PDI yang pernah aktif di Bang Bang Wetan, untuk bergabung di atas panggung. Kehadiran keduanya memberikan perspektif lain yang memperkaya diskusi, menjadikan sesi ini semakin dinamis.

Habib Ja’far mengawali diskusi dengan menjelaskan bahwa puisi lebih dari sekadar kata-kata; ia adalah perpaduan rasio dan spiritualitas. Kisah para nabi sering ditulis secara puitis karena prosa tak cukup untuk menangkap kedalaman maknanya. Dulu, ulama menggunakan puisi dalam debat agama, menciptakan keindahan sekaligus enkripsi. Namun, hari ini pendekatan itu jarang ditemui. Debat agama di media sosial cenderung langsung dan dipertontonkan.

Puasa, sebagai ibadah utama dalam Islam, juga harus dipahami secara puitis, bukan hanya teknis fikih. Anggapan bahwa setan “dipenjara” selama Ramadhan sering disalahartikan, karena keburukan yang terjadi berasal dari sifat buruk manusia sendiri. Puasa harus membakar penyakit hati dan dosa-dosa. Para sufi mengibaratkan puasa sebagai batu penahan balon — mencegah hati dan pikiran melayang akibat pengaruh perut yang penuh.

“Puasa minimal harus mencapai titik sosial, yaitu kemampuan mengendalikan relasi dengan baik,” kata Habib Ja’far. Lebih ideal lagi jika mencapai transformasi spiritual. Meskipun belum pada level tertinggi, puasa yang puitis setidaknya menumbuhkan empati. Melalui puasa, kita diajarkan merasakan lapar dan haus agar peduli pada penderitaan orang lain.

Selain itu, Habib Ja’far juga menanggapi judul Puisi Puasa yang mengandung dua hal penting: asa dan isi. Menurutnya, asa tidak akan pudar selama hati dipenuhi kehadiran Allah. Sebaliknya, putus asa terjadi ketika hati kosong dikuasai oleh iblis, yang secara bahasa berarti “putus asa”. Menjaga hati agar senantiasa dipenuhi Allah menjadi kunci untuk bertahan dan tidak putus asa.

Menurut para ulama, hati hanya bisa diisi satu “senyawa” pada satu waktu. Jika senyawanya adalah Allah, kebaikan akan mudah masuk. Namun, jika yang menguasai hati adalah iblis, hal-hal positif tidak akan mampu menembusnya. Itulah mengapa dalam tradisi sufi, proses spiritual dimulai dengan takhalli (membersihkan diri dari pengaruh buruk), dilanjutkan tahalli (mengisi hati dengan Allah), hingga mencapai tajalli (penyatuan dengan Allah). Orang yang sholat dengan khusyuk, misalnya, tidak akan melakukan korupsi karena ia menjaga hatinya melalui dzikir kepada Allah.

Tugas ulama seharusnya menyelamatkan yang sesat, seburuk apa pun kondisinya. Hari ini, sering kali kita malah mempersoalkan mereka yang sedang berusaha kembali ke jalan kebaikan. Padahal, orang yang memiliki iman dan harapan tidak akan pernah putus asa. Karena pada akhirnya Allah adalah sebaik-baik penjaga, dan Dia Maha Penyayang. Cinta Allah melebihi cinta kita pada diri sendiri. Oleh karena itu, pesan pentingnya adalah: “La tahzan innallaha ma’ana.” Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.

Politik, Ideologi, dan Nilai Bersama

Seno menyoroti puasa dalam fenomena sehari-hari, khususnya di Jakarta. Ia melihat Jakarta sebagai pusat perjuangan. “Banyak dari kita menjalani puasa sepanjang hari, menahan diri dari kemewahan Jakarta yang tak selalu bisa kita nikmati,” ujarnya. Namun, Kenduri Cinta menjadi ruang untuk merayakan penderitaan dan perjuangan bersama. Jakarta adalah kota para pejuang, tempat manusia nothing to lose berkumpul.

Meski dihadapkan pada krisis, penderitaan, dan ketidakpastian, kita tidak gentar. “Indonesia mungkin tertinggal dalam banyak hal, tapi tidak dalam ketahanan berpuasa,” tegas Seno. Puasa tertinggi adalah mengisinya dengan berpuisi, ekspresi spiritual dan intelektual yang melampaui kata-kata. Dari Maiyah, kita belajar bahwa di tengah perjuangan sehari-hari, puisi menjadi cara merawat harapan dan memelihara makna.

Diskusi kemudian berlanjut ke sesi tanya jawab. Aqil, jamaah yang tinggal di Depok, bertanya, ”Apakah ketika Allah ‘menahan’ azab-Nya hari ini adalah bentuk puasa Tuhan? Jika iya, lalu kapan Allah akan ‘berbuka’?”

Habib Ja’far menjawab, “Karena itu adalah permintaan Nabi Muhammad.” Hal ini menunjukkan betapa besar cinta Nabi kepada umatnya, seburuk apa pun kondisi kita. Habib Ja’far melanjutkan dengan riwayat yang menyebutkan bahwa di Padang Mahsyar kelak, umat manusia akan mendatangi para nabi untuk memohon syafaat, namun semua nabi akan menjawab, “Nafsi, nafsi.” Hanya Nabi Muhammad yang akan bersujud kepada Allah, memohon agar umatnya dimasukkan ke surga. Allah pun berfirman, “Angkat wajahmu wahai Muhammad. Mintalah apa yang kau minta. Syafaatilah siapa pun yang ingin kau berikan syafaat.”

Dalam kesempatan yang sama, Husein juga bertanya, “Jika berpuasa memberi makan ruh. Lalu, ke mana energi dari puasa ini dialirkan?”

Habib Ja’far kembali menjawab bahwa tenaga ruh yang kita dapatkan dari puasa digunakan untuk menuju Allah. Menurut ulama seperti Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, perjalanan menuju Allah sangat jauh. Syaikh Akbar Ibnu Arabi bahkan menggambarkan bahwa ada 1000 tingkatan dalam perjalanan menuju Allah. Tingkat pertama saja digambarkan ketika seseorang mampu merasakan panas yang memancar dari apa pun yang haram. Karena perjalanan ini begitu panjang, maka bekal ruh harus diperkuat. Kuatkan ruh kita agar perjalanan ini bisa kita tempuh hingga akhir.

Iqbal juga turut serta bertanya dalam aspek politik, “Apakah pemimpin terpilih yang mengikuti retreat dapat dianggap sebagai bentuk puasa sehingga menunjukkan sikap ketaatan yang tinggi kepada pemimpinnya?”

Dok. Kenduri Cinta

Sabrang mengingatkan bahwa alasan utama seseorang bergabung dengan partai seharusnya adalah kesamaan ideologi, bukan kekuasaan. Dalam hal ini, ideologi menjadi “master,” bukan individu atau kekuasaan. Saat seorang pemimpin terpilih, ia harus mewakili seluruh rakyat, meski nilai-nilainya berasal dari partainya. Namun, banyak orang yang bergabung dengan partai demi kekuasaan, sehingga mereka lebih mengabdi pada individu daripada ideologi.

Banyaknya jumlah partai juga membuat perbedaan ideologis semakin kabur, menyisakan hanya simbol seperti warna atau logo. Sabrang menekankan bahwa jika partai-partai masih berpegang teguh pada ideologi, Maiyah harusnya menjadi tempat ideal untuk beradu pandangan. Namun, jika tujuan mereka hanya mencari kekuasaan, keberadaannya di Maiyah tidak relevan karena Maiyah memberikan kebebasan memilih tanpa paksaan.

Sabrang menutup diskusi dengan pesan bahwa kita mengabdi pada nilai-nilai bersama, seperti mimpi Indonesia yang berlandaskan kebersamaan. Manusia menciptakan masalah dan bertanggung jawab menyelesaikannya. Meski Tuhan dapat turut campur, hal itu bukan karena keharusan, melainkan karena terharu atas usaha manusia. Usaha adalah bagian dari perjalanan hidup, meski hasilnya tak pasti. Forum ditutup khidmat dengan Indal Qiyam, lantunan Shohibubaiti, dan doa penutup pada pukul 3.20 dini hari. (RedKC/Haddad)

Kenduri Cinta
Kenduri Cinta, majelis ilmu, sumur spiritual, laboratorium sosial, basis gerakan politik bahkan universitas jalanan yang tidak pernah habis pembahasan SKS nya, kurikulum dan mata kuliahnya selalu bertambah, dosennya adalah alam semesta.
Bagikan:

Lainnya

Topik