Puisi Puasa: Menjernihkan Hati, Menjaga Asa


Menjernihkan Refleksi Indonesia
Diskusi semakin menarik ketika Tri bertanya tentang isu politik kepada Sabrang, termasuk tanggapan soal viral-nya video orasi “hidup rakyat” dan konsep Danantara — apakah ini bagian dari risk management dalam puasa atau terkait buka puasa.
Sabrang menjelaskan bahwa hubungan suami-istri dapat menjadi metafora untuk memahami dinamika pemerintah dan rakyat. “Pernyataan yang viral di media sosial bukan soal benar-salah, tapi bentuk kecemburuan,” katanya. Kecemburuan ini muncul karena adanya cinta dan harapan. Ketika pemimpin tidak menjadikan rakyat sebagai prioritas utama, wajar jika rakyat merasa dikhianati. “Fokuslah pada esensi kecemburuannya, bukan objeknya,” tegasnya.
Indonesia adalah ide besar dalam konstitusi, dan presiden dipandang sebagai salah satu champion untuk memperjuangkan ide ini. Tolak ukur keberhasilan bukan siapa yang bertindak, melainkan sejauh mana upaya tersebut mendekatkan kita pada impian para pendiri bangsa. “Apakah kita menuju kondisi ideal atau justru menjauh?” tanya Sabrang retoris.
Mimpi besar Indonesia adalah mencapai kemakmuran. Namun, bulan ini menjadi momen menyedihkan karena beban pajak dan THR harus dibayar bersamaan. Pajak adalah kontrak sosial, tetapi ketika uang pajak dikorupsi, sulit bagi rakyat untuk tidak kecewa. “Kita akan ikhlas membayar pajak jika hasilnya untuk kemaslahatan bersama,” katanya. Yang perlu dilawan adalah ketidak-konsistenan terhadap kontrak sosial, bukan pajak itu sendiri.
Lebih lanjut lagi, Sabrang juga menjelaskan bahwa Indonesia tidak pernah kekurangan ide-ide. Setiap masalah selalu dibahas dalam berbagai simposium dan diskusi. Namun, problem utama Indonesia bukan terletak pada ide, melainkan pada pelaksanaannya. “Nabi Muhammad dan semua nabi tidak mengajarkan struktur negara tertentu, tetapi menekankan pentingnya kesempurnaan akhlak,” kata Sabrang. Apa pun sistem atau struktur yang dianut — baik kerajaan, republik, atau apa pun — jika akhlak pemimpin dan masyarakatnya baik, maka segalanya akan berjalan dengan baik.
Ide seperti Danantara sebenarnya menjanjikan, namun terhambat oleh lemahnya infrastruktur trust di Indonesia. Sabrang memberi contoh bahwa dulu tawar-menawar harga ojek mencerminkan ketidakpercayaan antara penumpang dan pengemudi, sementara sistem otomatis yang imparsial kini menghapus masalah itu. Dalam hukum, hakim seharusnya bersifat imparsial, tetapi ketidakadilan kerap terjadi, seperti hukuman mencuri ayam yang hampir setara dengan korupsi besar. Ketidakadilan ini menghambat pembangunan kepercayaan.
Sabrang mengungkapkan, 3-4 tahun lalu ia putus asa karena sulit menciptakan infrastruktur trust yang imparsial selama manusia terlibat. Membentuk badan pengawas bertingkat hanya menciptakan lingkaran tanpa akhir. Menurutnya, transparansi adalah solusi. Meski transparansi total berisiko membuka rahasia negara, perkembangan AI belakangan ini memberi harapan. “AI bisa menciptakan transparansi tanpa membahayakan rahasia, sehingga memungkinkan kontrol lebih adil,” tambahnya.
“Kami tidak mengabdi kepada siapa pun kecuali mimpi Indonesia,” tegas Sabrang. Semua yang mendukung cita-cita ini adalah teman, dan yang melawan adalah musuh. Dengan prinsip ini, ia membangun bangsa berlandaskan kepercayaan, transparansi, dan komitmen terhadap Indonesia.
Diskusi kemudian kembali ke tema Puisi Puasa. “Sejak awal, kita banyak membahas karya Mbah Nun tentang puasa. Sekarang, biar karya Mbah Nun sendiri yang menjelaskan,” kata Sabrang, mengundang tawa jamaah.
Mengawali penjelasannya tentang puasa, Sabrang mengungkapkan bahwa semua informasi agama sering kali disampaikan dalam bentuk analogi atau amsal. “Kita memahami bentuk rumah karena kita mengalaminya sendiri,” kata Sabrang. Namun, menjelaskan rumah kepada orang lain bukanlah hal yang mudah. Kita hanya bisa menggunakan blueprint, hanya gambaran soal rumah. Demikian pula dengan ilmu agama; informasi yang kita dapatkan sering kali sepotong-sepotong, dan tugas kita adalah menyatukan potongan-potongan itu untuk memahaminya secara utuh.

“Hidup hanya refleksi dari Tuhan,” tegas Sabrang. Hidup kita ibarat ember berisi air. Ketika bulan purnama datang, kita bisa melihat pantulan bulan di dalam ember. Namun, jika air dalam ember bergolak akibat nafsu kita, apakah bulan akan terlihat jelas? Tentu tidak. Puasa dilakukan untuk menenangkan air tersebut sehingga pantulan bulan menjadi jelas.
Kebutuhan puasa setiap orang bisa berbeda-beda, namun intinya sama: mengurangi ketergantungan pada impuls luar. Kita sendiri yang paling tahu cara puasa yang efektif untuk mencapai kejernihan. “Perhatikan apa yang membuat kita goyah dan lakukan puasa atas itu,” saran Sabrang. Banyak orang berpuasa dengan menahan makan dan minum sebagai bentuk latihan dasar menahan diri. Namun, ada variasi lain, seperti Syekh Belabelu yang justru berpuasa dengan makan karena nafsunya terletak pada puasa itu sendiri. Di era digital ini, puasa dari media sosial juga semakin relevan untuk menghindari FOMO (Fear Of Missing Out). “Kita sering lupa bahwa informasi dari dalam diri justru lebih penting,” tambahnya. Melalui puasa, kita dilatih menahan diri, menemukan keseimbangan, dan melihat refleksi kebenaran dengan lebih jernih.
“Jika kita mampu menemukan ketenangan, kita tidak hanya akan melihat refleksi bulan, tetapi juga seluruh jagad raya,” kata Sabrang. Ketenangan adalah kunci memahami esensi kehidupan serta menjaga nilai-nilai besar seperti keadilan, kepercayaan, dan cinta kepada bangsa dan Tuhan. Dengan menenangkan diri, kita bisa melihat arah perjuangan menuju Indonesia ideal — tempat mimpi para pendiri bangsa dan harapan rakyat terus bergema tanpa distorsi nafsu atau ketidakadilan.