CakNun.com

Puisi Puasa: Menjernihkan Hati, Menjaga Asa

Kenduri Cinta Edisi 254, 14 Maret 2025
Kenduri Cinta
Waktu baca ± 13 menit
Dok. Kenduri Cinta

Jembatan Dimensi Spiritual dan Sosial

Selama Ramadhan, kita dilatih menahan diri dari hal fisik seperti lapar dan haus, serta non-fisik seperti ego yang dapat merusak hubungan dengan Allah dan sesama. Ini bukan hanya ujian sebulan, tetapi juga tantangan untuk menjaga nilai-nilai tersebut setelah Ramadhan berakhir. Pertanyaannya, mampukah puasa benar-benar mengubah perilaku kita?

Menariknya, puasa juga merupakan fenomena alami dalam kehidupan. Seperti kata Mbah Nun di forum Maiyah, “Bagaimana jika gigi kita tidak pernah ‘berpuasa’ dan tumbuh tanpa batas?” Kehidupan adalah harmoni alami, di mana segala sesuatu memiliki batas. Melalui puasa, kita belajar pentingnya mengetahui batas demi mencapai keseimbangan.

Refleksi tentang keseimbangan ini muncul dalam email panjang Mbah Nun kepada Ian L. Betts pada 2015. Dalam diskusi lanjutan, Ian menyampaikan paparannya dalam bahasa Inggris. Ia mengungkapkan bahwa Mbah Nun mengekspresikan perasaan senang, kecewa, patah hati, namun tetap optimis terhadap dinamika politik dan ekonomi Indonesia pasca-reformasi. Mbah Nun juga menyoroti bahwa bangsa Indonesia belum sepenuhnya belajar dari pengalaman masa lalu. Namun, di tengah tantangan itu, beliau tetap yakin bahwa kemanusiaan terus mencari dan perlahan menemukan kebenaran. “Humanity continues to search and slowly finds the truth ,” tulisnya. Maiyah, sebagai bagian dari perjalanan ini, mengajarkan jamaah untuk menemukan nilai kemanusiaan sejati di tengah tantangan.

Dinamika yang kita alami di setiap forum Maiyah adalah bagian dari perjalanan kolektif menuju kebaikan. Tantangan besar tak menghalangi kita untuk terus hadir di Maiyah. Forum ini tidak hanya mengajarkan ketahanan, tetapi juga menjadikan dinamika sebagai batu loncatan menuju kebaikan yang lebih besar. Pesan Mbah Nun untuk membawa nilai-nilai Maiyah ke luar Indonesia pun terbukti relevan, karena Maiyah diterima dan dirayakan secara global.

Salah satu momen berkesan malam itu adalah ketika Ian membacakan puisi terjemahan Bahasa Inggris karya Mbah Nun, Doa yang Kusembunyikan, yang mengekspresikan harapannya bertemu manusia sejati — yang hidup secara fisik sekaligus memiliki kedalaman spiritual, empati, dan kesadaran terhadap sesama. Menutup pemaparannya, Ian menyampaikan “Even if you don’t understand, we need to continue learning. The impact of Maiyah should reach global level. So let us show to the world.

Ansa menyampaikan pendapatnya bahwa apa yang dilakukan Ian adalah bentuk puasa. Meskipun Ian fasih berbahasa Indonesia, ia memberikan tantangan pada jamaah untuk memahami bahasa Inggris. Ia juga menyoroti keindahan dialektika di Kenduri Cinta, yang menciptakan harmoni dialog, kedalaman refleksi, dan optimisme. Mbah Nun kerap mengingatkan agar kita melampaui dikotomi benar-salah dan fokus pada dimensi keindahan sebagai output puisi.

Dalam buku Tuhan Pun Berpuasa, khususnya esai Revolusi Puasa, Ansa menggarisbawahi bahwa puasa mencakup tauhid vertikal dan horizontal. Ansa memperkuat gagasan ini dengan pandangan Cak Fuad: 96,5% isi Al-Qur’an membahas hubungan manusia dengan manusia, sementara hanya 3,5% tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Dengan demikian, puasa harus mengajarkan perbaikan hubungan sosial.

Dok. Kenduri Cinta

Buku tersebut juga mengkritik fenomena orang yang mengejar kekayaan hanya untuk diri sendiri, alih-alih membantu yang miskin menjadi sejahtera. Jika kita paham esensi puasa, seharusnya puasa menjadi alat untuk menjembatani kesenjangan sosial. Namun, merujuk pada pembelajaran Maiyah tentang spectrum of control — lingkar peduli, perhatian, dan pengaruh — ketimpangan sosial masih berada di lingkar peduli dan perhatian. Meski belum memiliki pengaruh besar, setiap individu dapat berkontribusi di lingkar terdekat. “Bayangkan jika semua orang melakukan hal serupa,” kata Ansa. Meski dampaknya kecil, hasilnya bisa signifikan jika dikalikan dengan banyaknya orang.

Puasa adalah latihan selama 1 bulan agar selama 11 bulan berikutnya, nilai-nilai puasa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika puasa tidak mengubah perilaku sosial kita, apakah kita benar-benar sedang berpuasa, atau justru sekadar “berpuas-kah”?

Kenduri Cinta
Kenduri Cinta, majelis ilmu, sumur spiritual, laboratorium sosial, basis gerakan politik bahkan universitas jalanan yang tidak pernah habis pembahasan SKS nya, kurikulum dan mata kuliahnya selalu bertambah, dosennya adalah alam semesta.
Bagikan:

Lainnya

Exit mobile version