CakNun.com

Inverted Indonesia, Yang Terbalik Tidak Selalu Tidak Baik

Catatan Kenduri Cinta edisi Maret 2024 — Bagian Pertama
Kenduri Cinta
Waktu baca ± 16 menit

Dok. Kenduri Cinta

”Mohon maaf pada malam hari ini saya agak berbeda biasanya pakai celana panjang, ini pakai kain karena ini akal-akalan saya jadi kebetulan tadi ada taklim kalau saya pulang dulu saya gak akan bisa berangkat kemari karena istri saya, saya termasuk PSTI, Persatuan Suami Takut Istri”, Ustadz Noorshofa menyapa jamaah dan disambut tawa jamaah. Ustadz Noorshofa memang adalah seorang Kyai di Jakarta Utara, sering mengisi kajian-kajian di Jakarta. Alhamdulillah, tersambung dengan Kenduri Cinta, sehingga menambah khasanah warna keilmuan yang ada di Kenduri Cinta.

Beberapa bulan ini Ustadz Noorshofa memang tidak sempat bergabung di Kenduri Cinta, karena satu dan lain hal. Lama-lama, rasa kangen itu tidak bisa ditahan. Sehingga di edisi Maret ini, bersamaan dengan bulan Ramadlan, Ustadz Noorshofa menyempatkan diri untuk hadir di Kenduri Cinta. ”Saya kangen dengan Jamaah Maiyah, mudah-mudahan rasa kangen saya ini juga sama dengan yang dirasakan oleh Jamaah Maiyah sekalian”, lanjut Ustadz Noroshofa.

Bukan Ustadz Noorshofa namanya kalau dalam ceramahnya tidak menyelipkan cerita-cerita jenaka. Seperti di Kenduri Cinta edisi Maret ini, ada cerita jenaka seorang istri yang galak yang dimasukkan ke sebuah sumur oleh suaminya karena ia tidak tahan dengan omelan istrinya. Setelah beberapa saat, ada Jin yang keluar dari sumur itu, kemudian menyatakan kepada si suami tadi; ”Saya nggak tahan dengan istri ente, ngomel mulu di bawah”. Sebuah jokes yang sudah sering disampaikan oleh Ustadz Noorshofa, tapi selalu saja lucu jika diceritakan lagi.

Berkaitan dengan tema Kenduri Cinta, Ustadz Noorshofa menyambungkan dengan Puasa. Bahwa dalam sejarah Islam, pasca selesainya perang Badar, Rasulullah SAW berpesan kepada seluruh sahabat bahwa setelah menyelesaikan perang Badar dan memenangkannya, Rasulullah SAW berpesan kepada para sahabat bahwa akan menghadapi perang yang lebih berat dari perang Badar, yaitu perang melawan diri sendiri.

”Tapi ada yang paling berarti dalam diri kita adalah jiwa kita. Maka tadi dari sudut mana kita memandang, kita pakai sumbu apa, itu kan berpengaruh terhadap jiwa kita. Maka ketika ruh itu keluar dari jasad, itu ada satu kalimat malaikat yang diucapkan kepada ruh tadi; Yaa ayyatuha-n-nafsu-l-mutmainnah, irji’i ilaa robbiki rodliyatan mardliyah. Itu sebetulnya ucapan malaikat, ketika ruh akan keluar dari jasad diiringi dengan kalimat tadi. Wahai jiwa-jiwa yang tenang, yang menghadapi hidup dengan ketenangan, yang berjalan dalam jalan yang sudah ditentukan, tenang hidupnya. Dia gak akan gelisah menghadapi kehidupan tadi”, lanjut Ustadz Noorshofa.

Ustadz Noorshofa menjelaskan kembali mengenai perang melawan diri sendiri. ”Bagaimana kita bisa mengendalikan diri? Kata Nabi ada empat jenis manusia yang diharamkan oleh Allah dari neraka. Arba’un man kunna fiihi harrahullahu ta’alaa ’alaa-n-naari wa ’ashomahu mina-sy-syaithooni: man malaka nafsahu hiina yarghobu, wa hiina yarhabu, wa hiina yasytahii wa hiina yaghdlobu.”, lanjut Ustadz Noorshofa.

4 jenis manusia itu adalah manusia yang mampu mengendalikan diri saat ia senang, saat ia takut, ketika ia punya cita-cita, dan terakhir yang mampu mengendalikan diri saat ia marah.

“Semua orang pasti diberikan kesenangan. Ada kesenangan, ada penderitaan. Setiap orang berbeda-beda tadi. Seperti tadi, dari sumbu mana kita melihat, dari sudut mana kita melihat maka Nabi Sulaiman saja nggak kuat ketika diberikan kesenangan oleh Allah. Ia multi talenta, apa saja dia bisa lakukan Nabi Sulaiman. Bahkan boleh dikatakan kerajaannya itu tidak ada tandingannya. Dia bisa mengendarai angin, dia bisa terbang, dia paham bahasa binatang, dan jin-jin tunduk kepada Nabi Sulaiman. Timbul kekaguman terhadap dirinya, fa’ajab. Ujub. Jadi ujub itu belum sombong. Jadi ujub itu adalah ketika kita merasa lebih dari yang lain dan itu adalah upaya kita, itu udah ujub. Dan kalau dipelihara timbulnya adalah sombong”, lanjut Ustadz Noorshofa memberikan contoh bagaimana seorang Nabi Sulaiman pun diuji atas kesenangan yang dianugerahkan kepadanya.

Kenduri Cinta
Kenduri Cinta, majelis ilmu, sumur spiritual, laboratorium sosial, basis gerakan politik bahkan universitas jalanan yang tidak pernah habis pembahasan SKS nya, kurikulum dan mata kuliahnya selalu bertambah, dosennya adalah alam semesta.
Bagikan:

Lainnya

Topik