CakNun.com

Inverted Indonesia, Yang Terbalik Tidak Selalu Tidak Baik

Catatan Kenduri Cinta edisi Maret 2024 — Bagian Pertama
Kenduri Cinta
Waktu baca ± 16 menit

Dok. Kenduri Cinta

Mukaddimah

Selepas Isya’ dan tarawih, forum Kenduri Cinta dimulai dengan wirid dan sholawat. Tentu tidak perlu panjang-panjang wirid dan sholawatnya, sudah tadarrusan 30 juz, masa iya masih serakah wirid dan sholawat yang panjang juga. Kata Bang Udin; Ah, yang bener aje, lu!

Sesi Mukadimah pun digelar. Seperti biasa, ini menjadi sesi ‘pemanasan’ diskusi di awal forum. Mengupas tema, tak perlu ndakik-ndakik¸ sebagai alas sebelum masuk ke menu utama diskusi. Munawir memoderasi sesi Mukadimah ini, mengolah diskusi awal bersama Rizal, Faras dan Pramono Abadi.

Sebulan yang lalu, Indonesia baru saja melaksanakan Pemilihan Presiden. Dan sudah dipastikan Indonesia akan memiliki Presiden yang baru di bulan Oktober nanti. Yak arena Presiden yang sekarang menjabat memang sudah akan berakhir masa jabatannya. Namun, yang menarik dalam diskusi sesi mukadimah adalah ada jamaah yang menyampaikan bahwa konsep one man one votei itu tidak mencerminkan keadilan dalam demokrasi. Karena suara seorang petani setara dengan suara seorang Profesor. Sementara di Pancasila sendiri, ada konsep musyawarah untuk mufakat. Kenapa tidak disempurnakan saja konsep musyawarah itu sehingga dalam memutuskan siapa yang akan menjadi Presiden adalah berdasarkan hasil musyawarah orang-orang yang memang sudah diberi tanggung jawab untuk berfikir dan mencari kriteria yang tepat terhadap seseorang yang akan menjadi Presiden.

Namun tentu saja proses ini tidak mudah. Menggeser hegemoni sebuah konsep yang saat ini masih berlaku, tentu saja tidak mudah. Terlebih elit-elit politik di Negara ini memang menikmati situasi dan kondisi yang ada saat ini. Maka, konsep one man one vote pun dimanfaatkan untuk mencapai kemenangan yang mereka targetkan dalam Pemilihan Umum. Tidak peduli bagaimana caranya mereka memenangkan kontestasi ini, toh aturan dari KPU sudah jelas bahwa yang berhak menjadi Presiden adalah dia yang mendapat total suara 50%+1 dari total jumlah suara sah, dan juga berhasil memenangkan minimal 20% suara di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia. Dan ternyata, itu bisa dilcapai oleh salah satu kontestan di Pemilihan Presiden kali ini.

Dok. Kenduri Cinta

Tentu saja, perdebatan serta pro dan contra dalam penyelenggaraan Pemilihan Presiden kali ini tidak bisa terhindarkan. Dan pada akhirnya, harus diakui bahwa tidak seluruh warga negara Indonesia memilih berdasarkan kriteria mengenai sosok yang pantas untuk menjadi Presiden. Pramono menyampaikan, mengutip dari salah satu buku karya Ronggowarsito; Pustaka Raja Purwa, bahwa seorang pemimpin itu setidaknya memiliki delapan kriteria kepemimpinan. Yang pertama memiliki sifat Bumi; dia memberikan atau menaikan kemakmuran bagi orang-orang di sekitarnya. Dan kalau sifat Bumi ini dimiliki, biasanya ia adalah orang yang kaya, karena dia dermawan. Kemana-mana derma, kasih uang, berbagi kesejahteraan. Yang kedua, Matahari, sikapnya sifat Matahari itu konsisten. Matahari setia memancarkan sinarnya, ia tidak peduli dengan awan yang menghalangi pancaran sinarnya. Dia tetap konsisten menyinari, itu konsistennya. Sifat yang ketiga adalah Baruna. Baruna itu menerima pendapat, seperti laut atau samudera, menerima apa saja yang dialirkan kepadanya.

Kenduri Cinta
Kenduri Cinta, majelis ilmu, sumur spiritual, laboratorium sosial, basis gerakan politik bahkan universitas jalanan yang tidak pernah habis pembahasan SKS nya, kurikulum dan mata kuliahnya selalu bertambah, dosennya adalah alam semesta.
Bagikan:

Lainnya

Topik