Bali

Kupandang lautmu
Bali!
Jagat jadi semu
Batu karang menengadah
Pasti!
Dialah sang Yogi
Duduk bersila di samudera
Tak bergeming ia
Oleh gelombangnya
Langit perkasa
Menyelipkan kembang
Di telinganya
Bulan cantik
Turun
Kepada Dewa di Pura
Ia berkunjung
“Aku persembahkan napasku
Kepada tanah
Dan gunung yang merendah si perkasa.”
**
Dan kami — kautahu?
Adapun kami adalah ayam budak
Keringat ngucur gigolo coklat yang keruh
Kami jilat telapak kaki kami sendiri
Di pasir tanah rusuh
Kami mesti membangun ini dunia
Kami mesti maju
Belajar abcd
Belajar pakai sepatu dan bh
Menubuhkan jiwa
Mengelabui langit dengan seribu muka
Lihat! Kami diseret
Kami disetubuhi oleh para bule.
Angin menggiring ombak ke pantai
Matahari telanjang
Meludahkan api
Dan buih-buih yang tak bertenaga
Pupus ke dalam bumi
Matahari telanjang
Meludahkan api
Kita — kitalah buih-buih itu!
Anak-anak kecil berjaja coca cola
Tubuh polos dua raksasa putih
Mengangkangi wangi jiwa pura
Sementara tiga wanita bersimpuh
: “Pijat sir! Pijat sir!”
**
“Mmm, wonderfull” gumam si Jack
Lama ia tak bersua matahari
Lama didera mesin
Dan keriuhan yang sepi
Si Boneff menyimpan Paris
Di kantong celananya
Sementara Gordon menyelipkan New York
Di dompetnya
dan Jenny — lihat Jenny!
Buka kutang
Angin menyapu bulu-bulunya
Pasir menaburi gunung lembah ngarainya
“Mari, tuan, mari!
Ini tanah kami
Silahkan beli
10 dollars Sir, ini seni khas Bali
Ini Bar dan Restaurant
Ini hotel dan itu gigolo kami
Mari, mari, jangan segan-segan
Zaman menjanjikan — suatu saat
Apa pun bisa tuan dan nyonya beli
Mari telanjang bulat dengan alam
Mari copot pakaian
Copot nilai ganti nilai
Mari rengkuh ombak
Bergulung-gulung di pasir
Tuan butuh hiburan dan kami perlu uang….”
1980