Ar Rum 30: Membangun(kan) Manusia


Bukan kebetulan jika kita membuka Al-Qur’an surat ke-30 ayat ke-30. “Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Rum: 30)
Apa pasal ayat ini nongol di depan hidung kita padahal ia tidak pernah pergi ke mana pun? Apakah karena suasana yang semakin panas menjelang kontestasi di “negara sebelah” sehingga kita kehilangan kewajaran dan kewarasan sebagai manusia? Atau 30 justru mengantarkan kita pada Ar-Rum ayat ke-30?
Ahad, 29 Oktober 2023 Pengajian Padhangmbulan berusia 30 tahun. Lalu kita membuka Al-Quran: ada apa, mengapa, bagaimana dengan tiga puluh? Kita terperanjat, kaget, dan terpukul. Allah langsung memberi perintah: “Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada al-din!”
Kita pun terperangah. Jadi, ke mana selama ini wajah kita menghadap? Ke mana orientasi cita-cita kita mengarah? Apakah wajah kepentingan kita menatap blok barat dan blok timur?
Jika akhlak Nabi Muhammad adalah isi Al-Quran yang membentangkan jalan kenabian, lantas di manakah posisi Maiyah? Jika Maiyah berada dalam lingkaran besar jalan kenabian, di manakah posisi kita?
Maiyah tetap tegak di jalan Allah kendati risikonya adalah jamaah Maiyah, aku, Anda, kita semua menjadi makhluk asing di tengah kebenaran yang bukan kebenaran, kebaikan yang bukan kebaikan, kemuliaan yang bukan kemuliaan. Kita terkucil dari hingar bingar orang-orang yang memekik-mekikkan perjuangan atas nama bangsa dan negara.
Wa akhrijnaa min bainihim salimin. Kita memilih berjuang merawat fitrah dasar kemanusiaan melalui jalan kenabian: independen, penyucian jiwa, kebijaksanaan, amanah, dan cinta kasih. Kita merawat fitrah ciptaan Allah yang terinstal secara laten dalam diri kita masing-masing.
Maiyah menghadirkan atmosfer dzaalika al-din al-qoyyim; atmosfer yang konsisten—alias tidak cengengesan—dalam menjalani nilai-nilai jalan kenabian. Dan ternyata kita adalah minoritas di tengah aktsarannasi laa ya’lamun, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
Artinya, secara kualitatif manusia Maiyah berjumlah sangat sedikit bila dibandingkan kebanyakan manusia yang entah sadar atau tidak—bisa karena tidur, tertidur, ditidurkan, dininabobokkan sihir Firaun sehingga kepalanya lunglai—lantas berpaling dari al-din al qoyyim. Sihir itu bekerja siang malam. Akibatnya, fitrah dasar: akal yang waras—lumpuh seketika.
Kita tidak boleh besar kepala, gumede, dan merasa paling tegak di hadapan Allah. Jangan-jangan kita sedang terlunta-lunta di jalan yang terjal sambil merintih-rintih, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (Al-Ahzab: 67)
Ini momentum 30 tahun Padhangmbulan menjadi saat paling tepat membangun dan meneguhkan kembali nilai-nilai jalan kenabian sekaligus membangunkan manusia-manusia yang tidur lelap.[]
Jombang, 29 Oktober 2023