CakNun.com

Tikungan Iblis (Bagian 1/5)

Pentas Kebahagiaan Dinasti
Yogyakarta, Indonesia, 2008-2009
Emha Ainun Nadjib
Waktu baca ± 14 menit

Smarabhumi
Ya, saya

Dengan sangat sopan dan dingin

Boleh saya memperkenalkan diri, boleh ya….

Respon rombongan

Benar boleh?

Respon rombongan

Tidak akan menimbulkan masalah?

Respon rombongan

Janji ya tidak masalah?

Respon rombongan

Saya tidak lantas dituduh sesat, anarkhis, kafir atau apapun lainnya?

Respon rombongan

Baiklah saya memperkenalkan diri
Nama saya Iblis

Rombongan tidak yakin apa yang didengarnya

Nama saya Iblis…

Rombongan mencoba meyakinkan kembali apa yang didengarnya

Setelah nama Iblis disebut tiga kali, rombongan mulai ketakutan, tetapi ada dua orang yang tidak percaya

Prawidi
Iblis bagaimana

Smarabhumi
Ya mohon maaf, memang nama saya Iblis

Prawikun
Nama Sampeyan Iblis, tapi Sampeyan bukan Iblis tho?

Prawidi
Maksud kami, Iblis itu kan hanya nama Sampeyan tho, seperti juga ada orang namanya Cikrak, Gudel, Jemek, Gathul…

Smarabhumi
Tidak. Saya ini memang Iblis, makanya nama saya juga Iblis

Prawidi
Termangu-mangu
Sampeyan ini Iblis, maka nama Sampeyan juga Iblis…begitu?

Sarabhumi
Karena jumlah Iblis memang hanya satu, ya saya ini saja, tidak ada Iblis yang lain, maka tidak perlu dikasih nama apa-apa kecuali ya Iblis saja

Kalau manusia kan banyak, maka harus diberi tanda satu persatu: Sukarno, Suharto, Gareng, Bagong, Limbuk, Buto Kempung, Betoro Kolo dan lain sebagainya

Prawikun
Ah, kalau menurut saya Sampeyan ini ya manusia kok, semua penampilan Sampeyan, bentuknya, segala sesuatunya – manusia. Mosok Iblis…

Prawidi
Mas Mas, dalam dunia manusia, Iblis itu hanya istilah, hanya lambang, Iblis itu digunakan untuk menggambarkan kejahatan, keserakahan, kapitalisme…

Smarabhumi
Tertawa
Sudah lama saya tahu itu. Tapi biarlah saya jawab satu persatu

Pertama, Iblis itu lambang kejahatan…
Maaf ya, Iblis tidak punya kepentingan apa-apa untuk berbuat jahat

Iblis tidak butuh jadi pejabat, tidak butuh kaya, bahkan tidak butuh apapun saja yang dibutuhkan oleh makhluk manusia macam kalian. Jadi untuk apa Iblis berbuat jahat?

Rombongan mulai berubah sikap terhadap Smarabhumi, tampak berguman-guman di antara mereka dengan agak gembira

Smarabhumi
Kedua, Iblis lambang keserakahan…

Mohon maaf agak hati-hati ya Mas kalau bicara

Sebenarnya terus terang sejak dahulu kala saya tersinggung berat dijadikan lambing keserakahan, sebab saya tidak pernah mengkonsumsi apa-apa, saya tidak butuh menumpuk-numpuk harta, bahkan saya tidak butuh makan atau minum. Jadi saya ini serakah apanya? Emang saya manusia?

Rombongan tiba-tiba dengan progressi tertentu bertepuk tangan

Smarabhumi
Dan tadi itu Sampeyan ngomong apa?
Iblis lambang kapitalisme?

Tertawa

Kapitalisme itu Iblis palsu!
Iblis bukan makhluk kapital
Iblis tidak butuh kapital
Jadi mustahil Iblis itu kapitalis!

Prawikun
Ya maaf-maaf, mungkin karena riwayat Iblis dulu : memperdaya Adam sehingga makan buah terlarang, kemudian dihukum dikeluarkan dari sorga dan dicampakkan di bumi yang penuh kesengsaraan ini…

Smarabhumi
He, kamu kenal Adam?

Prawikun
…ndak, Mas

Smarabhumi
Kenalan sama Adam di mana? Di Blok M? Glodog?

Prawikun
…ndak kenal, Mas

Smarabhumi
Sudah berapa kali ke sorga?

Prawikun
…Belum pernah, Mas

Smarabhumi
Wong ndak kenal Adam, ndak pernah ke sorga, lha kok sok pinter membanding-bandingkan dengan bumi…

Smarabhumi tertawa geram

Itulah kebiasaan manusia.
Selalu ngomong, menulis, memberi pernyataan dan memperdebatkan segala sesuatu yang mereka tidak benar-benar paham
Manusia itu baru bisa bunyi tapi sudah ngurus kata
Kemudian mulai belajar satu kata, langsung loncat ke wacana
Akhirnya, mereka belum sungguh-sungguh menguasai wacana, tapi sudah nekad praktek bikin Negara, pembangunan, demokrasi, modernisasi, globalisasi dan segala yang ndakik-ndakik — akhirnya bertengkar sendiri dan mampus!

Riuh tepuk tangan rombongan

Smarabhumi menguasai panggung

Duduk kalian bertiga!
Sekalian saya kasih kalian pelajaran taman kanak-kanak, supaya kalian sedikit mulai belajar mengenali kehidupan

Lihat saya! Semua lihat saya!

Saya ini Penghulu seluruh Roh di alam semesta
Kalau pakai bahasa sana, sebutan resmi saya: Sayyid Muluk

Saya Khazanul Jannah, Bendaharawan Kerajaan Sorga

Prawikun Prawidi Prawijo salah tingkah tapi rombongan bergembira dan bertepuk tangan

Para penghuni Sap Langit Pertama menggelari saya Begawan Manembah, alias ‘Aabid
Di Sap Langit Kedua saya disebut Rooki’ atau Panembahan Andhap Asor
Di Langit Ketiga katanya saya ini Sajid, Ahli Sujud
Di Langit Keempat mereka memanggil saya Empu Menep, Khooosyi’

Di Langit Kelima gelar saya adalah Qoonit, Pendekar Rawe-rawe Rantas Malang-malang Putung — karena setiap keputusan dan perbuatan saya tidak pernah pakai “tapi”, “asal” atau apapun, bahasa jelasnya: saya ini melakukan tugas saya secara total, tanpa reserve

Di Langit Keenam saya Mujtahid, pejuang tafsir dan analisis
Adapun di langit Sap tertinggi, Lapis Ketujuh: saya dijunjung sebagai Zahid
Karena mereka tahu saya ini makhluk yang hidup sangat sederhana
Saya mentertawakan semua yang gebyar
Saya memperhinakan segala jenis kemewahan
Kecuali yang membawa kedekatan kepada Tuhan
He! Sekarang kalian mulai tahu kan siapa Iblis yang sebenarnya!
Ah, tapi sudahlah. Lupakan gelar-gelar itu

Smarabhumi
Kepada Prawidi Prawikun Prawijo
Kalian kok salah tingkah?

Bingung atau apa?
Tidak bisa nerima kenyataan saya?|
Tidak rela pada kenyataan bahwa Iblis adalah seniornya makhluk-makhluk langit?

Ini, saya tinggali kartu identitas saya…

Kalian bisa temukan di sini data-data bukan hanya tentang Iblis, tapi juga file-file beberapa TERA-BYTE tentang apa yang akan kalian alami mulai tahun 2012

Prawidi Prawikun Prawijo tidak berani menerima kartu itu, Smarabhumi membuangnya di lantai

Silahkan baca. Kapan saja kalian memerlukan saya, untuk apapun, saya siap meladeni kalian!

Kepada Rombongan
Ayo ikut saya!

Saya perlihatkan kepada kalian pemandangan-pemandangan yang kalian tidak pernah membayangkannya!

Rombongan berduyun-duyun mengikuti Smarabhumi
Smarabhumi tertawa terpingkal-pingkal

Lainnya

Tikungan Iblis (Bagian 5/5)

Tikungan Iblis (Bagian 5/5)

Aku, Iblis, bukan temannya Setan, bukan Mbahnya Setan, tidak segolongan, tidak separtai dan tidak seiman dengan Setan.

Emha Ainun Nadjib
Emha Ainun Nadjib
Exit mobile version