Tashlihul Hayat, Kesungguh-sungguhan Maiyah

“Salam takzim penuh cinta buat Mbah Nun. Saya pulang dengan luapan rasa bahagia malam ini.”
Sabtu malam minggu lalu, Mocopat Syafaat berlangsung untuk edisi September 2022. Sejak usai maghrib, tampak jamaah sudah mulai berdatangan. Beberapa warung di sekitar TKIT Alhamdulillah menjadi jujugan mereka untuk makan malam dulu atau sekadar nyruput kopi sambil menunggu waktu acara dimulai. Di warung ini, mereka juga bisa sembari ngobrol atau bertegur sapa dengan sesama jamaah lainnya.

“Ini nanti semalam habis, Bu?” “Ya, InsyaAllah habis”. Demikian jawab salah seorang ibu yang membuka warung di sisi utara lokasi Mocopat Syafaat. Menu masakannya tersaji di atas meja, mengundang selera, harganya sangat terjangkau, tempatnya bersih dan rapi. Makan satu porsi nasi dengan dua jenis sayur, tempe goreng dua buah, satu sate telur puyuh, dan segelas jeruk hangat, hanya tiga belas ribu rupiah. Padahal bar wae harga BBM mengalami kenaikan harga sebesar 35 persen.
Usai Isya’ suasana sudah semakin ramai dengan makin banyak jamaah yang merapat dan siap Mocopatan. Mocopat Syafaat sendiri sudah berlangsung sejak 1999. Buat jamaah sudah pernah mengikuti Mocopat Syafaat pada kurun waktu tertentu di antara 1999-2022, lalu kemudian karena satu dua hal dia tidak bisa lagi rutin hadir, misal karena pindah ke kota yang sangat jauh dari Yogyakarta, maka mereka akan kangen.
Mindset mereka kemudian dalah kalau pas ndilalah ada tugas atau keperluan ke Jogja dan sekitarnya dan pas kisaran tanggal 17, kalau bisa harus menyempatkan waktu ke Mocopat Syafaat. Begitulah salah satunya yang terjadi dengan Kakak kita yang dari Kalimantan Timur. Kebetulan sehari sebelum Mocopat Syafaat kemarin, dia mesti menyambangi anaknya yang sedang kuliah di UNS Solo. Selepas dari Solo, Mocopat Syafaat di Kasihan Bantul menjadi tujuannya.
Di penghujung acara, saat ‘indal qiyam Tawashshulan, sembari mengirim foto suasana khusyuk ‘indal qiyam, dia berkirim pesan seperti terkutip di awal. “Salam takzim penuh cinta buat Mbah Nun. Saya pulang dengan luapan rasa bahagia malam ini.” Dia pamit pulang duluan karena tujuan yang memancarkan laku keshalehan. “Posisi parkir mobil saya menghalangi banyak kendaraan. Saya nggak nyaman kalau mereka jadi terhalang. InsyaAllah di lain waktu dan kesempatan bisa diperjalankan Allah untuk bersilaturahmi lagi.”






Kakak kita dari Kalimantan Timur tidak sendirian. Luapan kebahagiaan juga dialami semua teman-teman jamaah Mocopat Syafaat. Terbukti, shaf-shaf tanpa garis di depan panggung langsung auto terisi, sampai penuh semua, lalu baru belakang-belakangnya. Celah samping kiri panggung pun tak luput diisi mereka. Tak pernah ada woro-woro seperti laiknya di seminar-seminar ”Silakan maju ke depan untuk mengisi tempat yang masih kosong”. Ketika Mbah Nun sudah rawuh di depan mereka, makin terlihat ekspresi bahagia mereka.
Dalam rasa gembira dan bahagia, teman-teman Jamaah Mocopat Syafaat menerima piweling Mbah Nun bahwa, ”Kita ini sungguh-sungguh dengan Maiyahan. 63 Simpul Maiyah di dalam maupun luar negeri. Mereka semua sungguh-sungguh. Aku sungguh-sungguh mikir kalian semua. Sekolahe anak-anakmu tak pikir. Jamaah Maiyah secara keseluruhan saya pikirkan. Bahkan saya juga memprihatini masyarakat, ya bangsa Indonesia dan umat Islam…”
Mbah Nun mengingatkan bahwa Maiyah bersungguh-sungguh dalam mempersatukan, bersungguh-sungguh dalam memperbaiki atau ndandani (tashlih) keadaan, sungguh-sungguh memikirkan Indonesia. Ini tidak dimaksudkan untuk mengklaim atau membandingkan dengan yang lain, tetapi Mbah Nun memaksudkan agar kita tidak lupa dengan apa yang kita jalani hakikatnya adalah sungguh-sungguh, dan ini menurut Mbah Nun penting supaya kita ingat kepada sesuatu yang berkait erat dengan kesungguh-sungguhan.