Maiyah Penangkal Petir
Cak Nun menyitir surat Al-Fajr ayat 27-30; Yaa ayyatuha-n-nafsul muthmainnah irji’ii ilaa robbiki raadliyatan mardliyah. Cak Nun mentadabburi ayat tersebut, bahwa untuk mencapai tingkat muthmainnah, yang harus kita jalani terlebih dahulu adalah raadliyatan mardliyah, di mana kita harus memiliki sikap ridla terhadap ketetapan Allah yang kemudian hasilnya adalah pantulan dari Allah berupa ridla Allah kepada kita, sehingga kita bisa mencapai tingkat muthmainnah.

“Anda itu harus punya antena sendiri dalam diri anda, yang anda ciptakan sendiri secara simulatif atau animatif, jadi anda harus punya penangkal petir yang namanya Tauhid,”Cak Nun menjelaskan bahwa salah satu fungsi Tauhid dalam diri manusia adalah untuk menjadi penangkal petir dalam konteks selain petir yang sifatnya fisika tadi. Sehingga, jika kita tersambar oleh “petir” zaman, maka Tauhid itulah yang menjadi penangkal yang kemudian mengeliminir gangguan-gangguan itu, sehingga kita sebagai manusia tetap mampu untuk fokus ber-Tauhid kepada Allah.
“Anda harus punya mekanisme yang terdiri dari 3 macam mesin; mesin akal pikiran, mesin ruhnya hati dan jiwamu dan mesin syariat tradisional yang kamu lakukan di dalam hatimu kepada Allah,” Cak Nun melanjutkan sembari menjelaskan bahwa setiap manusia seharusnya memiliki catra seperti yang ada di candi Borobudur. Maksudnya adalah, Catra sebagai sebuah medium yang mampu menerima informasi dari Allah, menerima rahmat dan juga rezeki dari Allah.
Mengenai Candi Borobudur, Cak Nun kemudian menarik garis secara geografis di dalam peta dunia antara Borobudur dengan Ka’bah, di antara Borobudur dan Ka’bah terdapat Taj Mahal. Cak Nun menjelaskan, di Borobudur ada tradisi yang namanya Paradaksina, sebuah ritual yang dilakukan oleh ummat Budha. Yaitu mengelilingi Candi Borobudur searah putaran jarum jam (ke kanan). Berbeda dengan yang dilakukan oleh ummat Islam, ketika Thawaf di Ka’bah, putarannya berlawanan dengan arah jarum jam (ke kiri).
Dari letak antara Borobudur, Taj Mahal dan Ka’bah ini, Cak Nun memiliki tadabbur bahwa untuk mencapai kejayaan, manusia harus berjuang dengan sungguh-sungguh dan maksimal. Sementara, untuk menuju Tuhan, manusia tidak perlu mengalami kehancuran terlebih dahulu.
Berbelok sedikit, Cak Nun bercerita bahwa saat ini di Jogja, bersama teman-teman Teater 4 generasi senior dan yunior, akan mementaskan sebuah naskah Teater yang ditulis oleh Cak Nun berjudul “Mlungsungi”. Rencananya akan dipentaskan di Yogyakarta. Cak Nun berharap, bisa juga dipentaskan di Jakarta setelahnya. Cak Nun sedikit membocorkan naskah pementasan teater tersebut, salah satunya mengenai peristiwa diusirnya Nabi Adam dari Sorga.
“Jadi, anda mulai malam ini harus menciptakan semacam logam imajinatif di atas ubun-ubun anda yang berfungsi sebagai Catra,” Cak Nun melanjutkan. Dijelaskan, kenapa diatas ubun-ubun, karena bayi yang baru lahir pun selalu diusap ubun-ubunnya oleh ibunya setiap waktu, baik ketika dimandikan, ketika ditidurkan, ketika disusui dan seterusnya. Maka, seharusnya ketika dewasa, manusia tetap selalu mengusap ubun-ubunnya. “Supaya anda tetap bertahan pada mekanisme muthmainnah, menjadi jiwa yang tenang di hadapan Allah,” lanjut Cak Nun.
Mengusap ubun-ubun memang hanya berupa peristiwa fisik, karena yang terpenting adalah bagaimana kita membangun sistem dalam diri kita, sehingga Catra yang disebutkan Cak Nun sebelumnya dapat kita aktivasi, sehingga kita mampu selalu online dengan Allah melalui sistem yang disebut Tauhid. Salah satu tujuan kita ber-Maiyah tentunya adalah dalam rangka mengaktivasi Catra dalam diri kita ini, sehingga kita tetap terikat dalam sistem Tauhid Allah.
Berbelok sedikit, Cak Nun mengajak jamaah untuk sedikit berpikir lebih mendalam, “Untuk apa ada Islam? Salah satu alasannya adalah agar Allah memberitahu informasi kepada anda yang sebenarnya anda tidak mungkin mengetahuinya”. Cak Nun menjelaskan bahwa ada banyak hal yang manusia tidak mungkin mengetahui informasi secara detail. Seperti informasi mengenai Malaikat, tanpa diinformasikan oleh Allah melalui Islam, manusia tidak akan mengetahui apa itu Malaikat dan berapa jumlahnya. Termasuk Jin, Iblis dan seterusnya.
Mengaktifkan Catra dalam Diri
Berbicara kembali mengenai gangguan-gangguan berupa petir, Cak Nun menegaskan bahwa kita sebagai manusia tidak mungkin diwajibkan oleh Allah untuk melakukan hal-hal yang berada di luar batas kemampuan kita. Ayatnya di dalam Al-Qur`an pun sudah jelas; laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa. Cak Nun berpesan agar jangan sampai kita menghabiskan energi untuk memikirkan hal-hal yang ada di luar kemampuan kita, harus selalu mengutamakan hal-hal yang primer dalam hidup kita, quu anfusakum wa ahliikum naaro. Itu saja sudah cukup. “Anda jangan sampai stres memikirkan sesuatu hal yang di luar yuridiksi tugas anda,” tegas Cak Nun.
“Level terendah dari penangkal petir dalam dirimu adalah anda harus punya Catra sendiri, yang bahan-bahannya anda himpun sendiri dari bekal-bekal yang sudah anda dapatkan di Maiyah. Jadi anda harus tenteram hidupnya,” Cak Nun melanjutkan bahwa setiap orang Maiyah harus mampu menemukan alasan untuk terus bahagia dan bersyukur. Dari Catra yang disusun sendiri itu, Cak Nun berharap bahwa orang Maiyah mampu menikmati hidup, mampu tertawa, dan menertawakan hidup. Manusiawi jika pernah mengalami jatuh dan kesedihan, tetapi harus juga mampu untuk kembali bangkit dan berjuang. “Level tertingginya adalah bahwa Indonesia tidak akan hancur selama masih ada Maiyah. Ini kita amini dan kita ikhtiari. Jadi anda benar-benar menjadi manusia yang menyelamatkan Indonesia,” tegas Cak Nun serius.
“KC ini sudah 22 tahun tidak ada portalnya kan? Anda ke sini tidak perlu membayar apapun, bahkan kepada saya. Tidak pernah ada diskusi mengenai honor saya di sini kan? Begitu juga ketika saya datang ke Padhangmbulan, Mocopat Syafaat, dan lain sebagainya. Saya sepenuhnya bersedekah untuk anda semua. Bahkan, saya tidak pernah mewajibkan anda untuk taat kepada saya kan?,” Cak Nun melanjutkan. Kemerdekaan ini yang juga ditularkan oleh Cak Nun ke semua Simpul Maiyah, sehingga setiap simpul secara mandiri kemudian antar penggiatnya saling berkolaborasi untuk saling melengkapi apa saja yang diperlukan, sehingga setiap bulannya dapat menyelenggarakan Maiyahan.
Tentu kita juga masih ingat Cak Nun berulang kali menyampaikan kepada kita agar kita mampu membaca ayat-ayat Allah yang tidak difirmankan. Karena memang ada banyak hal yang sejatinya kita tidak ketahui secara kasat mata, atau tidak kita lihat secara langsung peristiwanya, tetapi hal itu merupakan hal esensial juga yang mendukung terjadinya sebuah peristiwa. Malam itu, Cak Nun kembali mengingatkan kepada jamaah Maiyah di Kenduri Cinta bahwa dalam beragama, meskipun kita beriman dan selalu berlandaskan dalil AlQur`an maupun Hadits Rasulullah Saw, namun jangan pernah meninggalkan kemanusiaan kita. Begitulah manusia sebagai khalifah, mampu melakukan apapun saja atas perkenan Allah. Itulah manusia yang bertauhid, dan di Maiyah ini kembali ditegaskan oleh Cak Nun bahwa Tauhid adalah sesuatu yang mutlak.
Cak Nun kemudian mentadabburi Surat An-Nuur ayat 35. Cak Nun menjelaskan bahwa Allah tidak pernah menciptakan kegelapan, karena kegelapan terjadi akibat cahaya yang ditolak. Yang diciptakan oleh Allah adalah cahaya. Namun demikian, kita sebagai manusia pun tidak bisa melihat cahaya, yang kita lihat adalah benda yang ditimpa oleh cahaya. Cak Nun kemudian merefleksikan Maiyah sebagai sebuah entitas software, Maiyah tidak dikenal oleh masyarakat awam, bahkan juga tidak dikenal secara mainstream tetapi kita semua di Maiyah serius menjalaninya, maka ini yang disebut oleh Cak Nun sebagai wujud ikhtiar kita di Maiyah agar Maiyah menjadi Catra bagi Indonesia. Dan kita juga tidak mencita-citakan agar Maiyah ini dilihat oleh banyak orang.