CakNun.com

Refleksi Pandemi Buat Negeri

dr. Ade Hashman, Sp. An.
Waktu baca ± 10 menit

Bagi orang beriman, semua peristiwa baik menyenangkan atau bencana penderitaan pada dasarnya tetap dapat disikapi dan dimaknai secara positif. Orang beriman adalah a man for all seasons. Sebagai umat yang beriman, kita diminta selalu berbaik sangka kepada Allah atas segala fenomena kehidupan ini. Sesuatu yang terkesan buruk, di mata pandang orang beriman itu hanyalah “tampakan permukaan” saja. Selalu tersimpan sesuatu yang tersembunyi di balik setiap layar tampak. Guru-guru kita biasa mengatakan “cari dan temukan hikmah di balik lapis-lapis setiap peristiwa”. Kita diminta untuk merenungkannya, menyelaminya, menjelajahinya, menemukan hikmah di balik segala peristiwa ini.

Terkadang Tuhan memuliakan derajat hamba-hamba-Nya lewat permasalahan, ujian-ujian, dan kesulitan. Laksana mutiara yang Dia rahasiakan di dalam cangkang karang yang keras lagi tersembunyi di gelap gulitanya samudera yang terdalam. Menjadi tugas kita untuk berupaya gigih menyelam lalu membuka cangkang demi menemukan mutiara yang tersembunyi itu. Kita perlu menyelami dan menggali apa hikmah di balik peristiwa besar pandemi ini.

Andaikan pandemi ini suatu “peristiwa ujian” dari Tuhan, maka itu berarti kehidupan kita akan mengalami kenaikan level, apabila kita lulus dalam ujian ini.

Andaikan pandemi ini sebuah “peristiwa peringatan” dari Tuhan, maka itu bermakna wujud kasih sayang-Nya untuk menyadarkan atas segala kekhilafahan yang selama ini kita lakukan dalam kehidupan ini.

Bahkanpun, andaikan peristiwa pandemi ini debutlah sebagai “hukuman” dari Tuhan, kita juga masih dapat memaknainya secara positif, terutama secara spiritual, yakni inilah bentuk pembersihan atas dosa-dosa yang mungkin telah kita lakukan.

Secara mengejutkan, ada sebuah redaksi dari khazanah hadits yang bahkan menyebutkan wabah sebagai suatu “RAHMAT”. Izinkan saya mengutip hadits tersebut untuk memperkaya perspektif pemaknaan kita.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi Saw. mengatakan “Zaman dulu wabah adalah siksa yang dikirimkan Allah kepada siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya, tetapi Allah menjadikannya sebagai RAHMAT bagi orang beriman. Tiada seorang hamba yang sedang tertimpa wabah, kemudian “menahan diri di negerinya dengan bersabar” seraya menyadari bahwa wabah tidak akan mengenainya, selain karena telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid”.

Maka tidak menutup kemungkinan, bercermin atas keterangan Nabi lewat hadits tersebut wabah ini dapat dipandang sebagai rahmat dari-Nya, yang tersembunyi di balik sesuatu yang tampaknya menyengsarakan, tetapi muatan hakikatnya jika terus digali lebih dalam adalah cinta dan berkah dari-Nya. Namun tentu pemaknaan itu berlaku, bila kita berhasil menyikapinya dengan hikmah dan kebijaksanaan.

***

Bila keadaan mengharuskan kita untuk “menjaga jarak” dari sesama manusia, berarti bersamaan dengan itu seharusnya kita lebih berupaya mendekatkan diri kepada Tuhan, lebih-lebih-lebih akrab dari biasanya. Bila mempersepsi Covid-19 hanya hadir sebagai adzab, maka mungkin yang kita lihat adalah peristiwa kerusakan jasad dan kehidupan, perusakan mental dan keruntuhan perekonomian dunia. Namun bila Covid-19 dibaca sebagai Rahmat, Corona virus dapat menjadi wasilah bagi setiap jiwa manusia untuk semakin mendekat pada Tuhan Penciptanya. Saat social distancing dipopulerkan, maka pada saat itu kita lebih berupaya meningkatkan kuantitas dan kualitas spiritual connecting.

Kita umat manusia, berikhtiar dengan pikiran, ilmu, tenaga, dan segala sumber daya kemampuan maksimal yang kita miliki kemudian berdoa mengemis penuh harap hingga di batas keyakinan kita bahwa Allah akan menolong kita mengatasi semua persoalan ini. Kepastian atas jawaban itu sepenuhnya ada di genggaman kekuasaan Allah. Tidak ada yang sulit bagi-Nya jika Dia menghendaki, karena Dialah Penguasa jagad raya ini. Mari sama-sama tanamkan keyakinan, bahwa pertolongan Allah itu teramat dekat.

Jangan pernah kehilangan harapan, Insyaallah kita semua akan mampu melewati semua ini dengan baik. Insyaallah badai akan berlalu, fajar akan menyingsing dan hari yang cerah itu akan terbit. Janji Tuhan kepada kita “Sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan, bersama kesulitan ada kemudahan”.

Allah Tuhan Yang Maha Pelindung, Maha Memelihara dan Maha Menjaga adalah sebaik-baiknya penolong dan pelindung kita.

Hasbunallah wani’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir.

Semoga Allah melimpahkan bagi kita selalu kesehatan, keselamatan, kesejahteraan serta umur yang berkah. Dan semoga Allah memperkenankan kita dapat mengisi sisa umur kita di dunia ini, dengan menjalaninya penuh kemanfaatan bagi sesama.

Sangatta, 13 Agustus 2021.


Disampaikan dalam acara “Friday Awareness and Blessed” yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia pada Jumat 13 Agustus 2021.

Lainnya

Topik