Mengembara Model Anak-Anak

Di tempat lain kami ketemu dengan keluarga Bani Anwar utara, atau saudaranya ayah Heniy Astiyanto yang juragan dan pedagang pakaian jadi. Saudara ibu Heniy yang dari Kauman Yogyakarta juga ada yang berdagang pakaian. Lalu ada penjual stagen yang menjual produk tenun stagen cap Werkudara buatan Godean yang dibuat oleh keluarga dari Bani Anwar selatan Kotagede.
Kami terus berjalan dan ketemu orang tua teman sekelas saya yang rumahnya di Karangduren.
Waktu itu isi pasar Beringharjo sebagian besar adalah pedagang muslim dari kampung atau desa yang warganya bekerja di perusahaan pakaian jadi atau kain batik. Pedagang kerudung songket juga ada. Biasanya barang dagangan kerudung disetor oleh juragan kerudung dari desa Wonokromo. Ketika saya sering dolan ke desa ini, banyak perempuan muda menyongket kerudung duduk-duduk di tengah pintu sambil ngobrol sambil melirik kalau ada jejaka santri lewat.
Di belakang los penjual pakaian ada los penjual alat rumah tangga. Misalnya yang dibuat dari tembaga. Kami ketemu dengan juragan dan pedagang benda-benda “sayang”, sebutan untuk hasil produksi kerajinan tembaga Kotagede. Dulu di Kotagede banyak pengrajin sayang, lengkap dengan alat pembakaran untuk mematri dan banyak paron untuk menempa lempeng tembaga. Di kampung Sanggrahan dekat rumah Mbah Lor ada satu. Tempatnya Mbah Kaji Muhsin yang abdi dalem pametakan yang punya jadwal Khutbah Jum’at di Masjid Gede Kotagede. Terus di kampung Alun alun ada tiga. Di belakang rumah Mbah Kaji Mudakir, Mbah Amat Karyo, satunya lagi dekat Njembegan. Di kampung Dalem yang lokasinya dulu bekas lokasi induk Kraton Mataram Islam juga ada perajin sayang. Dan di kampung Sayangan sendiri yang terletak di barat pasar Kotagede juga ada perajin tembaga alias tukang sayang.
Mereka membuat kendil tembaga untuk menanak nasi, atau membuat alat untuk mengukus nasi, dan lainnya. Biasanya, barang dagangan ini dibawa dari Kotagede ke Beringharjo dengan menggunakan andong.
Di seputar pasar Beringharjo, jejak estetik perajin Kotagede juga ada. Di tempat para penjual hasil kerajinan perhiasan emas yang nama bengkel pembuatannya disebut “kemasan”. Di Kotagede dulu perajin pembuatan perhiasan dari emas jumlahnya sangat banyak, di bawah sedikit jumlah perajin perak. Kalau di bagian belakang pasar Beringharjo ada yang menjual hasil kerajinan perhiasan, tapi berbentuk imitasi dengan bahan baku kawat tembaga atau logam lain lalu disepuh (dicelupkan) dalam cairan yang ketika kering tampak sebagai emas. Ini pembuatnya dan pedagangnya juga orang Kotagede.
Pendeknya, kalau dulu kami jalan-jalan ke kota Yogyakarta kemudian masuk ke pasar Beringharjo hampir dipastikan akan ketemu dengan orang Kotagede. Salah satu pendekar yang ikut menjadi keamanan pasar juga orang Kotagede, dia yang mengajari anak-anak Kokam Kotagede generasi awal. Barangkali yang tidak ada orang Kotagedenya hanya di tempat orang berjualan ayam dan pakaian bekas.
Nah waktu pulang juga ada serunya. Kami jarang jajan. Kalau haus minta air segar di warung rames. Atau kalau kami tidak capek banget kami pulang lewat Karangkajen dan mandi di kali Code. Waktu itu kali Code masih jernih sekali airnya. Kami mandi, kena air kulit tidak gatal. Bahkan, di tempat yang agak dalam, kami menyelam dan membuka mata bisa melihat ikan berseliweran.
Akan tetapi kalau kami capek, kami pulang dengan membonceng di bagian bagasi andong. Satu bagasi andong muat dua anak. Jadi rombongan kami memerlukan beberapa andong sebagai penumpang gelap alias gratis. Kalau kusir andong baik hati, mereka membiarkan kami membonceng atau nggandul di bagasi. Kalau kusir andong pemarah dia akan mengayunkan pecutnya ke belakang. Terpaksa kami menempelkan tubuh di bahas erat-erat agar tidak kena sambaran pecut.
Langkah taktis kami agar mudah meloncat, kami menunggu di tikungan dekat Pojok Beteng. Di situ andongnya melambat. Kami dengan sigap meloncat ke bagasi. Tindakan taktis kami turun juga kami perhitungkan. Yaitu saat andong melambat ketika mendaki sisi timur jembatan Tegalgendu Kotagede. Kami meloncat turun, melambaikan tangan ke arah sopir sambil berteriak matur nuwun.
Pengalaman mengembara atau jalan-jalan di waktu liburan bukan hanya kami lakukan lewat rute Kotagede-Yogyakarta saja. Ada tiga rute yang lain yang tidak kalah serunya. Ada rute Sunan Kalijaga, demikian kami menyebutnya. Yaitu menyusuri Sungai Gajah Uwong ke atas atau ke utara, Kotagede-Gembira Loka atau menyusuri Sungai Gajah Uwong ke bawah, Kotagede-Wonokromo. Sungai Gajah Uwong waktu itu masih jernih, belum kotor sehingga sewaktu-waktu ingin mandi kami tinggal mandi di tempat favorit bagi anak-anak. Kalau ke atas, kami berhenti di pagar kandang buaya yang ada lobang kecil tapi lumayan bisa diterobos anak anak. Masuk lewat pagar berlubang, kami mengendap-endap di atas dinding kandang buaya. Kami tenang-tenang saja karena tahu buaya tidak bisa melompat jauh atau terbang. Kalau lewat dekat kandang harimau jelas kami tidak berani. Dan setelah puas melihat binatang di kebun binatang ini kami keluar dengan sopan dan tenang lewat pintu gerbang keluar di sebelah barat. Penjaga pintu heran juga. Anak-anak ini tadi tidak ketahuan kapan masuknya, tahu tahu keluar lewat pintu barat.
Pulang lewat kampung Warungboto sambil mencari buah talok. Lalu kami harus lewat jembatan besi bekas jembatan kereta api di Winong. Jembatan itu cukup tinggi dan hanya dua anak yang berani menyeberang sungai lewat jembatan ini. Saya dan beberapa teman tidak berani melewati jembatan yang sempit tanpa pagar yang tingginya dari dasar sungai setinggi pohon kelapa lebih. Kami yang penakut memilih menyeberangi sungai lewat bawah jembatan. Lalu melewati hutan kecil yang kami sebut hutan pohon jambu monyet. Kami kalau haus hanya perlu berperan sebagai monyet, makan jambu yang banyak airnya ini.
Kalau kami mengembara ke arah bawah, karena kami sebelumnya sering diajak oleh mas-mas yang senior memancing di sini, kami jadi bisa mengenal dalam dangkalnya sungai lewat tanda-tanda tertentu. Di tempat yang dalam dengan tanda air mengalir dengan tenang kami tidak berani masuk untuk mandi. Lebih-lebih di atas bendungan Mantras. Kami memilih turun di bawah bendungan yang airnya mengalir deras berbatu-batu tanda airnya dangkal. Di pinggir sungai banyak bongkahan padas tempat kami shalat Dhuhur dengan gaya Sunan Kalijaga.
O ya, bermain-main di sungai Gajah Uwong dan kalen (selokan) di atasnya juga kami lakukan di bulan puasa. Waktu liburan itu kami manfaatkan untuk memancing. Lumayan, dapat ikan banyak. Tapi risikonya, kalau terlalu lama memancing, siang hari yang panas membuat kami haus. Terpaksa kami mencari belik atau sumber air di pinggir kalen atau di pinggir sungai. Kami berkumur berkali kali agak lama dan sering tidak sengaja terminum airnya. Karena kami merasa minum air tidak sengaja kami tentu saja merasa tidak batal puasanya. Ini kenakalan gaya anak tempo dulu.
Yang selalu saya ingat, ternyata dulu sungai kaya akan ikan. Banyak orang bisa hidup dengan menjala atau menggunakan pecak untuk menangkap ikan. Selain itu banyak orang membuat kolam di pinggir kalen atau kali.
Rute perjalanan kami yang lain adalah, kalau ke timur kami menempuh jalur Kotagede-Piyungan. Berhenti di pasar Piyungan untuk membeli getuk. Bolak-balik sampai kami hafal penanda tempatnya. Sudah sampai mana tandanya apa, pohon atau gedung sekolah atau pasar-pasar desa. Kalau ada yang haus tinggal mencari daun asam Jawa muda atau sinom di situ untuk dikunyah-kunyah. Apalagi kami sering diajak Mbah Jumeri yang sopirnya Pak AR di kantor Depag yang kalau membawa pulang mobil dinas mencucinya di daerah Piyungan yang ada selokan besar banyak airnya. Kami ramai-ramai naik mobil, bersenang senang ikut mencuci mobil.
Rute yang lain, ke selatan lewat jalur Kotagede-Imogiri. Kalau di pasar Jejeran pas ada pasaran asyik juga. Kami bisa mampir melihat-lihat. Di pasar ini dulu dijual barang-barang daur ulang. Benda kaca seperti botol besar dan pendek yang dibuat menjadi lampu sentir.
Sampai pasar Imogiri lama kami kembali. Kadang tidak sampai pasar kami kembali karena sudah capai. Yang mendebarkan adalah ketika lewat jembatan Karangsemut yang kalau malam katanya angker.
Nah, apa yang kemudian muncul dalam pikiran saya waktu sekolah menengah mendapat tugas menghafal surat Al-Jumuah? Saya ingat pengalaman mengembara ke kota Yogyakarta, menyusuri sungai sampai ke kebun binatang Gembira Loka, sampai ke kuburan Gajah Uwong di Wonokromo, sampai pasar Piyungan dan Imogiri? Ternyata di sepanjang jalan kami berpetualang ini saya melihat banyak orang mengamalkan bunyi ayat fantasyiru fil ardli wabtaghu min fadllillah. Beterbaranlah kalian di muka bumi dan carilah rezeki, apa yang disiapkan oleh Allah untuk kalian. Dan pintu rezeki paling banyak dibuka di perdagangan. Yang lain, yang paling murni, di pertanian yang petaninya selalu rajin ketika kami temui di perjalanan.
Bahkan para petani ini pemurah. Ketika suatu hari kami lihat mereka sedang panen tomat dan buah tomat yang segar dan matang kami puji, kami mendapat bonus untuk ikut panen, mengambil buah tomat sebanyak kami mau untuk bekal perjalanan. Tentu dengan gembira ria kami memetik buah tomat. Tentu kami tahu diri. Paling banyak kami memetik dua atau tiga tomat cukup. Tiga buah tomat kali lima anak kan banyak juga. Tapi sawah untuk menanam tomat ini lumayan luas, diambil lima belas buah tomat tidak terasa. “Matur nuwun sanget nggih, Pakde,” kata kami, kemudian meneruskan perjalanan.
Yogyakarta, 11-13 Agustus 2021.