Kesabaran Cambah Rawon


Ini adalah Ramadhan kali ke-3 di Belanda dan baru di tahun ini saya berhasil puasa penuh sampai Maghrib. Maklum puasa pertama bertepatan dengan musim panas yang mengharuskan umat muslim di Belanda berpuasa selama kurang lebih 19 jam. Sedangkan puasa ke-2 saya sedang hamil muda, dan disarankan dokter untuk tidak berpuasa karena waktu yang juga lebih dari 15 jam.
Tahun ini, Alhamdulillah saya dimudahkan Allah untuk menikmati puasa Ramadhan pada musim semi dengan waktu puasa kurang lebih 14–15 jam. Sebelum menjalankan puasa Ramadhan, saya berusaha melakukan puasa sunnah pada bulan Rajab dan Sya’ban sebagai sarana latihan untuk mengukur kemampuan fisik saya. Saya mencoba untuk melakukan puasa Senin Kamis setiap pekan.
Pada puasa “latihan” ini, saya dapat menyimpulkan bahwa kemampuan puasa 6 jam, 12 jam, 15 jam hingga 18 jam atau puasa ngebleng ala orang Jawa, bukan ditentukan oleh fisik kita saja, akan tetapi pikiran kitalah yang paling menentukan untuk terus berpuasa atau mokel karena tidak tahan godaan. Selain itu niat awal dan doa kepada Allah, sebab tanpa kemudahan dari Allah kita tidak akan mampu menjalankan ibadah, begitu yang pernah saya dengar dari Gus Mus pada salah satu ceramah online tentang tafsir Al-Fatihah.
Menjalani puasa Ramadhan di Belanda, khususnya pada masa pandemi juga memberikan tantangan tersendiri bagi saya pribadi yang terbiasa bertemu banyak orang. Sudah dua kali Ramadhan, semua umat muslim dibatasi aktivitas ibadahnya. Tidak semua masjid buka dan kalaupun buka harus mendaftar jauh-jauh hari melalui email untuk bisa shalat berjamaah. Belum lagi adanya jam malam yang berlaku sejak pukul 22.00–04.30 CET di tahun ini, semakin mengekang aktivitas masyarakat di luar rumah maupun untuk bersilaturrahim ke teman-teman muslim sekadar berbuka puasa bersama.
Buka bersama teman-teman Indonesia adalah ritual yang selalu dilakukan oleh komunitas muslim Indonesia di Belanda. Selain sebagai ajang silaturahim, juga menjadi ajang temu kangen dan berbagi menu-menu khas Indonesia, menikmati makanan yang tidak mungkin disantap bersama keluarga sendiri karena perbedaan selera lidah. Sebagai orang Jawa Timur, rawon adalah menu spesial yang sangat diminati ketika ada pertemuan dengan sesama perantau asal Indonesia. Selain butuh keterampilan memasak yang memadai, juga dibutuhkan bumbu dan taoge jenis tersendiri yang tidak mudah ditemui di toko-toko Asia Belanda.
Memasak kuliner daging sapi kuah hitam yang sangat terkenal di Jawa Timur, bahkan di Indonesia seolah menjadi ajang latihan kesabaran, keuletan, juga ketauhidan bagi saya pribadi. Hal pertama yang harus saya lakukan agar rawon saya setara dengan Rawon Shen daerah Probolinggo adalah menyemai biji kacang hijau menjadi kecambah. Butuh waktu dua sampai tiga hari pada musim panas, dan kurang lebih hampir seminggu pada musim dingin agar berkecambah. Seumur-umur saya tidak pernah “membuat” taoge sendiri ketika tinggal di Indonesia, bahkan di sini saya juga belajar teknik baru bagaimana agar taoge cepat berkecambah meski sedang berada di musim dingin.
Kesabaran menunggu biji kacang hijau berkecambah saja sudah membuat air liur menetes membayangkan nikmatnya menyantap rawon ditemani telur asin, tempe goreng, dan kerupuk udang. Tapi ujian kesabaran tidak berhenti di situ saja, setelah taoge mulai berkecambah, saya harus membersihkan kulit kacang hijau yang masih bercampur atau masih menempel pada biji taoge. Tiba-tiba terbersit pikiran tentang penjual taoge di Pasar Induk Bondowoso, yang menjual berbagai macam jenis taoge. Ada cambah panjang, pendek, hingga cambah dele, semuanya tertata menggunung di lapaknya. Saya nggumun sendiri bagaimana penjual taoge itu membersihkan kulit taoge setiap hari, menjaga taoge-taoge nya tetap terlihat segar dan bersih agar pembeli tak perlu capek membersihkan kulitnya.

Saya jadi sangat bersyukur dan lebih mencintai Indonesia. Betapa banyak kemudahan yang kadang terlupakan ketika kita tinggal di sana. Sambil membersihkan kulit cambah, pikiran saya terus mengajak berjalan menemukan Tuhan dalam sebiji taoge, mengingat wejangan Mbah Nun tentang kasih sayang Tuhan yang juga selalu memberikan banyak kemudahan bagi hamba-hamba-Nya. Salah satu contoh adalah proses berkecambah biji kacang hijau, bahkan memperoleh biji kacang hijaunya saja, sudah mampu mengajak kita menelusuri berbagai ruang menuju Tuhan.
Perjalanan kecambah taoge mengantarkan saya pada rasa syukur tak hingga, seolah sedang menelusuri sebuah konsep mega supply chain, sebuah bidang pekerjaan yang sedang saya tekuni saat ini. Untuk memperoleh kecambah, dibutuhkan biji kacang hijau yang saya beli di supermarket, dijual oleh importir produk Asia, melibatkan banyak orang mulai dari perusahaan forwarder, shipping line, container, pabrik pengemas, supir truk yang mengantar hasil panen kacang hijau, hingga petani yang menyemai biji, dan lagi-lagi bertemu Tuhan yang menumbuhkan, menjalankan semua proses secara otomatis di luar kemampuan manusia. Allahu Akbar .. what a great supply chain isn’t it!?
Usai membersihkan taoge, nggumun saya masih belum usai terlebih ketika memikirkan siapa yang pertama kali menemukan resep rawon? Bagaimana mungkin nenek moyang kita bisa tahu buah kluwak bisa diolah menjadi kuliner yang lezat? Mempertemukan daging sapi, bawang merah, bawang putih, ketumbar, lada, cabe merah, kunyit, jinten, biji pala, kemiri, jahe, batang sereh, lengkuas, daun salam dan daun jeruk bersatu dalam kuali lalu disebut RAWON! Pikiran saya semakin liar mengembara membayangkan bagaimana proses penemuan resep masakan ini. Jangan-jangan Malaikat Jibril juga punya peran penting menyampaikan ‘ilham’pada nenek moyang kita dulu! Apakah nenek moyang kita harus bersemedi berhari-hari untuk mendapatkan ilmu ngracik bumbu rawon ini ya?
Ahh.. untunglah sekarang kita anak cucunya tinggal menikmati hasil, bahkan tidak perlu susah nguleg bumbu bagi Anda yang tidak bisa memasak, karena ada bumbu rawon instan yang banyak dijual di supermarket, tinggal plung.. rawon siap disajikan di meja makan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? Gila ya .. bermaiyah menjadikan saya mampu menyelaraskan hal-hal yang umumnya dianggap di luar bagian dari “agama” menjadi sebuah kesatuan, bahwa keseluruhan hidup kita ini adalah bagian dari Islam itu sendiri! Tidak ada satu pun hal dalam kehidupan yang tidak ada kaitannya dengan agama.
Satu hal lagi yang juga perlu kita garis bawahi dalam tulisan ini, khususnya tentang siapa diri kita sebenarnya. Kalau dulu, VOC berbondong-bondong ke Nusantara untuk menjarah rempah-rempah, dan saat ini Belanda menjadi pusat rempah-rempah terlengkap di kawasan Eropa. Bahkan biji kluwak pun bisa Anda dapatkan di toko-toko Asia. Belanda mampu meraup “mega profit” dari penjualan rempah-rempah untuk membangun Negeri Kincir Angin ini, menjadikan masyarakatnya sejahtera meski meninggalkan banyak “kedhaliman” di masa lalu terhadap Indonesia, akan tetapi Belanda dan bangsa-bangsa Eropa lainnya, tidak akan pernah mampu sehebat nenek moyang kita! Mereka boleh mengambil rempah-rempah Nusantara, tapi mereka tidak pernah bisa meramu rempah-rempah menjadi menu sehebat Rawon! Yang bisa mereka lakukan adalah mencontoh lalu berinovasi menciptakan kreasi masakan lain, dan pastinya tetap tidak sekuat serta sekomplit rasa Rawon.
Ketika cerita ini selesai ditulis, rawon saya pun juga siap untuk disantap menemani buka puasa di sini. Kenikmatan mencium aroma sup hitam yang menyeruak di dapur saya membawa kegembiaraan yang tak terhingga, kepuasan batin melewati proses mengolah reno-reno pendamping rawon, terlebih ketika memasukkan sesuap perpaduan nasi, kuah rawon, daging sapi, kecambah dan sambel terasi ke dalam mulut.. Ohh it’s real heaven! Echt lekker!! Nikmatnya sampai ke hati menembus ubun-ubun. Detik itu saya benar-benar mampu memaknai kalimat Alhamdulillah ‘ala kulli hal
Saya berterima kasih juga kepada Kanjeng Nabi dan tentunya teman-teman Maiyah, wa bil khusus Mbah Nun yang mengenalkan tentang bagaimana menelusuri setiap sudut ruang dalam Islam yang indah dan membahagiakan. Semoga tulisan ini bisa menjadi pemacu semangat saya untuk semakin berjalan menuju Tuhan.
Almere 21.04.21