Indonesia Malu Kepada Dunia


Kalau parameter berdakwah adalah kepiawaian berbicara, kefasihan menyitir teks-teks agama, utamanya Al-Qur`an dan Hadits, maka di antara KiaiKanjeng hanya Islamiyanto yang memenuhi syarat.
Tetapi kalau kriteria dan pengertian berdakwah adalah berperilaku baik secara keagamaan sehingga menjadi teladan bagi lingkungannya, maka Joko Kamto adalah muballigh utama KiaiKanjeng.
Itu tidak berarti Joko Kamto tidak mengerti ayat-ayat hadits-hadits atau tidak mampu melafalkannya. Juga tidak berarti Islamiyanto berkelakuan yang tidak pantas diteladani.
Itu soal pemahaman tentang afdlaliyah atau skala prioritas atau peletakan primer sekunder pada ekspresi seseorang khususnya pendakwah dalam hal ini.
Ada wacana umum tentang ad-da’wah bil-lisan dan ad-da’wah bil-hal. Dakwah dengan kata-kata atau ucapan. Lainnya dakwah dengan perilaku atau perbuatan, sehingga tidak bisa diukur berdasarkan lisan pengajiannya.
Ada juga terminologi dengan idiom yang berbeda: ad-da’wah bilisanil-qoul atau kalam, ada-da’wah bil-lisanil-hal. Wacana utama yang menjadi rujukan kaum Muslimin haruslah pola yang dilakukan olah Nabi Muhammad Saw sendiri.
Itu pun karena Allah yang menciptakan idiomnya maupun fakta personal kehidupan Nabi.
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
Kenapa pemahaman Kaum Muslimin tentang juru dakwah tidak difokuskan pada perilaku pemimpin-pemimpinnya. Kenapa mainstream dunia dakwah didominasi oleh kemampuan berbicara seseorang?
Kenapa tidak dibangun atmosfer penelitian atau kewaspadaan dan kepekaan ummat Islam terhadap siapa pemimpin yang sepantasnya diteladani?
Kenapa idiom pemilu akseptabilitas tidak dibangun dengan parameter apa saja yang membuat seorang calon dipilih oleh rakyat? Akseptabilitas, juga elektabilitas, adalah output, kenapa tidak dituturkan input-nya?
Kenapa pembelajaran kualitatif perpolitikan kita dibiarkan cacat? Cacat ilmu atau memang tidak lengkap pengetahuannya? Mana guru-guru bangsa kita? Kenapa dimensi kualitas politik tidak pernah menjadi agenda berpikir parpol-parpol kita? Sungguhan apa tidak kita ini bernegara?
Kenapa subjek utama dunia dakwah Islam adalah para juru da’wah atau para da’i dan muballigh, atau secara umum para ustadz, kiai dan ulama? Dan sekarang ditambah habib dan wali?
Kalau sasaran kepentingan utama adalah berhijrahnya kaum Muslimin menuju kehidupan yang lebih memenuhi syarat nilai-nilai Islam, kenapa yang dilakukan oleh teknokrasi sosial dakwah bukan membangun kemampuan ummat untuk melihat dan menilai siapa-siapa di antara tokoh-tokohnya yang “uswatun hasanah” sebagaimana panduan Allah atas Rasulullah?
Kenapa selama ini dunia dakwah lebih memfokus pada produk popularitas dan kekayaan para muballigh dan bukannya peningkatan akhlaqul karimah ummat Islam?
Kenapa taraf dan tahap perikehidupan kaum Muslimin berpuluh-puluh tahun tersandera dalam jargon “meningkatkan iman dan taqwa” belaka?
Sejak sebelum kemerdekaan 1945 berusaha “meningkatkan iman dan taqwa”, dan sampai hari ini belum juga berhasil sehingga jargonnya tetap “meningkatkan iman dan taqwa”.
Indonesia dengan mayoritas ummat Islam warga negaranya berposisi sangat malu kepada masyarakat dunia karena mayoritas kaum Muslimin tidak membuat Indonesia semakin baik secara apapun.
Apalagi diukur dengan konsep “baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur”. Bahkan mungkin lebih mandek atau mundur dari itu. “Baldah”-nya “thayyibah”, adil makmur.
Dan “Rabbun”-nya “Ghafur”, Allah mengampuni mereka karena keseimbangan perhatian bangsa Indonesia terhadap kepentingan dunia maupun akhirat.
Sudah sekian pemerintah mengelola negara dan bangsa ini dengan mendengung-dengungkan Pancasila yang puncak pencapaiannya adalah “Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Di-breakdown menjadi “masyarakat yang adil dan makmur”. Dan itu masih menjadi kecongkakan sejarah Indonesia sampai hari ini. Karena makmur pun belum, apalagi adil.
Bangsa Indonesia oleh seluruh masyarakat dunia dikenal sebagai bangsa yang baik, santun, segar jiwanya, lembut mentalnya, asyik budayanya.
Siapa saja orang dari luar negeri yang datang dan tinggal di Indonesia, rata-rata menjadi jatuh cinta, senang dan gembira, serta tidak mau pulang ke negaranya.
Dan kedahsyatan manusia dan budaya Indonesia itu adalah ciptaan antropologis Allah Swt. Sedangkan yang diciptakan oleh bangsa Indonesia sendiri, melalui sekian kali pemerintahannya, adalah perusakan-perusakan atas manusia bangsanya sendiri.
Perusakan mental pejabat, perusakan birokrasi, perusakan moral, perusakan ilmu dan pendidikan, perusakan martabat dan kebudayaan. Sedemikian rupa sehingga seakan-akan bangsa ini dengan pemerintahnya memang sengaja menumpuk bukti-bukti di bumi.
Bahwa kekhawatiran para Malaikat dulu ada benarnya tatkala Allah menciptakan manusia yang dikhalifahkan di Bumi.
قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ
وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ
Mereka para Malaikat itu berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah? Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”
Kalau kita tidak cukup mendalam menyadari hal ini, kalau kita meneruskan saja apa berbagai keterperosokan yang kita lakukan dan alami, maka kalau memakai idiom dari Allah, bangsa Indonesia berproses sangat cepat untuk berubah dari derajat “ahsanu taqwim” menjadi “asfala safilin”.
Dari kumpulan manusia yang indah dan cerdas, menjadi golongan yang paling rendah dan hina dina.
Saya tidak menyimpulkan bahwa sahabat-sahabat saya Dipowinatan, Dinasti hingga KiaiKanjeng adalah “ahsanu taqwim”, meskipun banyak di antara mereka yang insyaAllah memenuhi syarat untuk itu, meskipun hampir tak ada di antara mereka yang bernampilan santri alim saleh.
Tetapi setidaknya mereka tahu dan berjuang sejak lama untuk jangan sampai menjadi “asfala safilin”.