CakNun.com
Membaca Surat dari Tuhan (33)

Hari-Hari Jakarta Dua

Mustofa W. Hasyim
Waktu baca ± 12 menit

Keuntungan dari dua peristwa dramatis ini, saya jadi mengenal diri sendiri dan makin mengenal karakter orang lain lengkap dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kami, anggota sanggar makin bersahabat erat. Lebh-lebih ketika selama seminggu kami berlatih bersama dengan anak-anak SMP dan SMA Muhammadiyah Pucang. Kami harus menunjukkan bahwa Cah Jakarta itu kompak di hadapan anak-anak Surabaya. Ternyata Arek Surabya ramah-ramah dan mudah bergaul dengan kami. Kak Bambang pun menyebutkan bahwa kita semua adalah saudara seiman dan setanah air, dengan menyebut sebuah ayat di dalam surat Al-Hujurat. “Untuk itu, kita harus saling tolong-menolong dan dekat di hati,” kata Kak Bambang serius.

Dalam adegan drama kolosal alegoris itu saya berperan sebagai muballigh Muhammadiyah yang siap terjun ke masyarakat manapun. Saya mendapat pasangan muballighat yang ketika latihan tampak biasa-biasa tetapi ketika sudah berdandan model wanita Surabaya tampak cantik sekali. Saya lirik dia, mirip dengan penanyi keroncong Sundari Sukotjo muda atau lebih tepatnya mirip Intan Sukotjo anak semata wayang Sundari Sukotjo, hanya bedanya, muallighat ini berkerudung. Ini yang membuat saya bersemangat untuk mengantarkan dia pulang seusai pentas. Dia bilang tidak ada yang menjemput dan rumahnya dekat dengan gedung sekolah. Meski dekat, malam hari di kota besar ini, seorang anak perempuan tetap memerlukan pengawal. Tentu untuk mencegah “hal-hal yang diinginkan”, saya mengajak seorang teman anggota sanggar yang pemalu tidak berani mendekati anak-anak sekolah Surabaya ini.

Kami pentas dua kali. Pertama di Gelora 10 November dalam rangkaian malam kesenian menghibur utusan dan penggembira muktamar. Kedua di Balai Pemuda untuk menghibur warga kota Surabaya. Di kemudian hari, setiap kali saya hadir di acara Bangbang Wetan naik pentas di halaman Balai Pemuda saya selalu teringat akan peristiwa yang amat berkesan indah dalam hidup saya ini. Saya ingat betul, ketika pulang dari pentas pertama tidak terlalu malam. Habis pentas, kami berkumpul di gedung sekolah sebentar lalu anak-anak pulang ke rumah masing-masing, dan kami kembali ke penginapan. Tetapi saat pulang dari pentas kedua malam sudah larut karena ada ada acara perpisahan antara Cah Jakarta dengan arek Surabaya yang mendukung pentas ini. Kak Bambang mengucapkan terima kasih kepada Kepala Sekolah yang mengizinkan murid-muridnya bergaul dan berlatih bersama kami.

“Semoga persahabatan ini tidak terputus sampai malam ini. Semoga kita masih terus dipersahabatkan oleh Tuhan sampai nanti,” kata Kak Bambang disambut tepuk tangan dan suit-suit anak-anak karena mereka tahu apa yang sebenarnya dimaksud oleh kata-kata Kak Bambang.

Ketika mengantar pulang muballighat yang bagai penyanyi keroncong cantiknya ini saya dan teman saya yang mengantar dimarahi oleh ibunya. “Kok malam sekali pulangnya?”. Kami menjelaskan karena sehabis pentas ada upacara perpisahan karena Muktamar hampir usai dan kami akan kembali ke Jakarta. Kami pun meminta maaf atas keterlambatan ini. “Kalau begitu ya sudah,” kata Ibu itu berkurang marahnya.

Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Surabaya tahun 1978 ini merupakan muktamar Muhammadiyah ketiga di zaman Orde Baru. Yaitu Muktamar Muhammadiyah ke-38 tahun 1971 di Ujungpandang, Muktamar ke-39 di Padang tahun 1974 dan Muktamar ke-40 di Surabaya tahun 1978 yang saya bersama anak-anak Sanggar Enam Dua Menteng Raya bersama anak-anak SMP dan SMA Muhammadiyah Pucangan Surabaya ikut memeriahkan dengan pentas drama. Tentu kami sebagai orang yang aktif latihan dan pentas drama, kami posisinya adalah sebagai penggembira Muktamar, bukan sebagai utusan Muktamar. Sebagai penggembira kegiatannya ya menggembirakan diri sendiri dan orang lain.

Kami tidak mengikuti berita tentang bagaimana Muktamar ke-40 ini dibuka oleh Wakil Presiden Adam Malik dan para utusan berpikir keras serius untuk merumuskan Khittah Surabaya sebagai peyempurnaan Khittah Ujungpandang tentang posisi netral Muhammdiyah di tengah dinamika politik nasional. Partai yang dibidani Muhammadiyah dan ikut dalam Pemilu pertama zaman Orde baru di tahun 1971 hanya bisa mendulang suara sebanyak 6 persen, mirip dengan suara PAN yang dilahirkan oleh semangat ijtihad politik Pak Amien Rais di era pasca suksesi nasional yang dikemas secara heorik sebagai era reformasi. Intinya, dalam khittah Surabaya Muhammadiyah menegaskan posisinya yang netral dalam politik kepartaian walau dalam politik kebangsaan, politik kemasyarakatan dan politik kemanusiaan Muhammadiyah tetap menjalankan politik bebas aktif seperti biasanya.

Kami tidak tahu dan kurang ingin tahu dengan semua itu. Kedatangan kami di Surabaya bertujuan untuk pentas, dan pentas telah sukses dilaksanakan. Kami pun bersenang-senang mendatangi pameran niaga Mukatamar. Di tempat ini kami bertemu dengan Cak Dil atau Adil Amarullah yang menawari kami kaos unik gaya IPM Yogya. Tulisannya sungguh menggelitik. Welle, begitu saja marah lantas mau mukul, begitu tulisan pada kaos yang dibawa Cak Dil yang lantas kami borong. Kami pun diajak oleh Cak Dil untuk menemui ibunya, Ibu Halimah yang waktu itu menjadi utusan Muktamar mewakili ‘Aisyiyah Jombang. Kami, dengan mengenakan kaos seragam dengan percaya diri masuk ke asrama untuk utusan Muktamar di saat rehat. Bu Halimah senang melihat teman anaknya lucu-lucu. Kami waktu itu di mata orang tua pasti kelihatan lucu dan naif dengan mengenakan kaos seragam itu.

Kami kembali ke penginapan di SD Muhammadiyah Pucang Anom, menghitung sisa bekal uang kami dan merancang kepulangan kami. Ternyata sebelum berangkat ke Surabaaya, Kak Bambang telah menghubungi Mbah Zen dan keluarganya dan menghubungi anak-anak AMM Kotagede. Kak Bambang bilang, kami akan menyewa mobil mengangkut kami dari Surabaya ke Kotagede. Di Kotagede kami menginap di rumah Mbah Zen dan akan pentas dramatisasi atau teaterikalisasi puisi kaya Mohammad Iqbal berjudul Cordoba. Kami memang pernah berlatih mementaskan puisi karya pujangga Pakistan yang ditrjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia tetapi baru tahu kalau ini akan dipentaskan sungguhan di Kotagede. Tepatnya di Gedung Pertemuan Aisyiyah Kotagede. Katanya, “Mudah-mudahan kita dapat sangu dari Kotagede. Bisa untuk membeli tiket kereta api ke Jakarta.”

Mustofa W. Hasyim
Penulis puisi, cerpen, novel, esai, laporan, resensi, naskah drama, cerita anak-anak, dan tulisan humor sejak 70an. Aktif di Persada Studi Klub Malioboro. Pernah bekerja sebagai wartawan. Anggota Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta dan Lembaga Seni Budaya Muhammadiyah DIY. Ketua Majelis Ilmu Nahdlatul Muhammadiyin.
Bagikan:

Lainnya

Jalan Baru Ekonomi Kerakyatan

Jalan Baru Ekonomi Kerakyatan

Rakyat kecil kebagian remah kemakmuran berupa upah buruh murah, dan negara kebagian remah kemakmuran berupa pajak.

Nahdlatul Muhammadiyyin
NM
Exit mobile version