CakNun.com
Majelis Ilmu Bangbang Wetan Surabaya edisi September 2021

Belajar Tumbuh dengan Baik dan Selamat di Hadapan Allah

Amin Ungsaka
Waktu baca ± 9 menit

Pesan Mbah Nun dengan Covid-19 ini meminta jamaah untuk belajar memetakan diri kita pada terminologi pertama: ada orang yang pintar dunia, bodoh akhirat; ada yang pintar akhirat, bodoh dunia; ada orang pintar dunia, pintar akhirat; ada juga orang yang bodoh dunia, bodoh akhirat. Nah kita termasuk yang mana?

Perihal terminologi pertama, ada orang yang pintar dunia yang pintar mencari uang, tetapi hubungan sama Allah ambyar. Terus ada orang yang pintar akhirat tetapi bodoh dunia, kalau soal ayat Al-Qur’an dia pintar, tetapi soal nyambut gawe gak iso.

Terminologi kedua: ada orang yang sregep dunia untuk akhirat, ada orang sregep dunia untuk dunia, ada orang sregep akhirat untuk akhirat, ada orang yang sregep akhirat untuk dunia dan ada orang yang sregep dunia sekaligus sregep akhirat. Berikutnya pertanyaan Mbah Nun kepada jamaah, yang kita lihat selama ini pada bangsa Indonesia ini sregep dunia untuk akhirat atau untuk dunia? Ada atau tidak yang sregep akhirat untuk dunia? Karena hanya pintar agama dan tidak pintar nyambut gawe, maka menjual ayat-ayat dan kepintaran agama yang dipahaminya untuk survive di dunia.

“Mulai sekarang kita harus pintar dunia, cuman harus untuk akhirat,” Saran Mbah Nun kepada jamaah yang hadir.

Wirausaha yang Amal Shaleh

Perihal pintar dunia, Mbah Nun membagi pemahamannya soal wirausaha. Menurut Mbah Nun wirausaha itu orang yang berusaha dengan kesatriaannya membangun kehidupan. kita di masjid-masjid ‘kan pernah mendengar istilah amal shaleh. Selama ini menurut ulama yang dimaksud amal shaleh itu ‘kan perbuatan baik.

Selanjutnya Mbah Nun bertanya,misalnya kita jualan bakso atau menjadi buruh sapu itu termasuk baik atau tidak? Termasuk amal shaleh apa tidak? Kita jualan online dengan jujur termasuk amal shaleh atau tidak? Jadi menurut Mbah Nun, amal shaleh itu wirausaha. Kita menemukan apa yang bisa kita lakukan itulah wirausaha.

Kalau lebih luasnya misalnya, jika kita pulang nanti, yang kita cari bukan kita bisa mengerjakan apa atau bisa usaha apa, tetapi melakukan apa yang dibutuhkan orang sehari-harinya. Menjadi kewirausahaan yang berangkat dari kebersamaan. Berangkat dari kebutuhan bersama. Bukan berangkat dari nafsu dan kapitalisme pribadi. Itu namanya wirausaha yang amal shaleh. “Jadi amal shaleh itu jangan dipersempit hanya pada melakukan puasa, berbagi nasi atau Jumatan. Meskipun kita menjadi tukang sapu, pagi-pagi memakai seragam kuning itu ya amal shaleh. Menyapu itu jelas amal shaleh karena mengubah yang kotor menjadi bersih,” tegas Mbah Nun.

Merespons pertanyaan jamaah tentang vaksin, Mbah Nun berbagi pandangan bahwa kalau tidak vaksin itu kita sama halnya memperlambat redanya Covid-19. Mbah Nun berbagi sikap hidupnya bahwa misalnya jika dokter menyarankan macam-macam Mbah Nun memilih diam saja, meskipun Mbah Nun tahu itu salah menurut pandangan beliau. Mbah Nun membiarkan dokter berbicara apa saja karena dasar yang diomongkan itu karena sayang ke Mbah Nun.

Misalnya ketika Mbah Nun disuruh minum obat apa saja atas saran dokter, Mbah Nun meminumnya. Karena menurut Mbah Nun, yang masuk dalam tubuh itu bukan obatnya melainkan katresnan dokter itu ke Mbah Nun. “Dia beritikad baik ke saya, yang saya terima adalah cintanya,” cara berpikir Mbah Nun meyakinkan jamaah.

Di penghujung acara, Mbah Nun bertanya ke jamaah, kita sebenarnya putus asa atau tidak? Boleh atau tidak putus asa jika melihat Negara dan dunia seperti sekarang ini? Berangkat dari ayat “wa lā tai`asụ mir rauḥillāh, innahụ lā yai`asu mir rauḥillāhi illal-qaumul-kāfirụn (dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir),” Mbah Nun berbagi pandangan bahwa jika kita melihat keadaan dunia seperti ini kita tidak putus asa berarti ‘gendeng’.

Wajar kalau kita putus asa, bagaimana bisa memperbaiki keadaan seperti sekarang ini? Kita boleh putuas asa jika melihat keadaan sekarang ini yang tidak ada perubahan, malah semakin lama semakin mblendre tidak keruan, sebab kasihan anak-anak kita nanti. “Kita boleh putus asa, yang tidak boleh itu berpendapat bahwa Allah tidak akan menolong. Jadi Anda tetap yakin bahwa Allah tetap menolong. Teruskan mencari fathonah dan temukan fadilahmu. Dan jangan putus asa bahwa Allah akan menunjukkan kepadamu,” pesan Mbah Nun membekali jamaah.

Surabaya, 24 September 2021.

Lainnya

Fiqih Tanpa Aqidah, Bumi Tanpa Langit

Fiqih Tanpa Aqidah, Bumi Tanpa Langit

Setelah Wirid Wabal yang dipandu Hendra dan Ibrahim, Kenduri Cinta edisi Maret 2016 yang mengangkat “Fiqih Tanpa Aqidah, Bumi Tanpa Langit” kemudian dimulai dengan sesi prolog.

Kenduri Cinta
Kenduri Cinta
Exit mobile version