CakNun.com

Puasa: Merenangi Sensasi ataukah Menyelami Esensi?

Muhammadona Setiawan
Waktu baca ± 3 menit

Ramadhan tinggal menghitung hari. Dan “hantu” pandemi masih terus membayangi. Tampaknya, yang banyak dikhawatirkan orang akan terjadi. Puasa tahun ini berlangsung sepi, penuh ironi.

Dalam sebuah hadits qudsi Allah Swt menyatakan bahwa “Ibadahmu yang lain untukmu, tapi puasamu untuk-Ku”. Apa maksudnya? Pada kalimat pertama, Allah secara terang-terangan menyatakan kalau ibadah yang kita kerjakan selain puasa (shalat, sedekah, zakat, infak, haji, dll.), otomatis pahalanya menjadi milik kita.

Sedangkan di kalimat kedua, Allah dengan tegas “mengakuisisi” ibadah puasa kita. Artinya, Allah merahasiakan tentang mekanisme “laba pahala” bagi orang yang menjalankan puasa. Allah tidak mau mem-blow up-nya. Allah begitu “posesif” terhadap puasa kita. Dengan kata lain, pekerjaan puasa seorang hamba mendapat privilege dari Allah Swt. Sampai-sampai Tuhan sendiri yang akan kasih bonus dan hadiah bagi orang yang berpuasa.

Tetes-an mutiara hikmah dari Mbah Nun (baca Tetes tema puasa di caknun.com) menggugah kesadaran kita, bahwa pelajaran utama dari ibadah puasa adalah pentingnya rahasia, substansi, esensi dan nuansa, yang pancaindra tidak bisa menemukannya.

Pintu ilmu pun terbuka. Puasa adalah ibadah private. Ibadah sunyi, sendiri — dan sembunyi. Hanya Tuhan dan pelaku puasa itu sendiri yang tahu, bahwa dirinya sedang menjalani tirakat puasa.

Tapi mari kita tengok bersama. Bagaimana mayoritas masyarakat kita menyambut dan menjalani puasa di bulan suci? Sejak dulu hingga kini, Ramadhan selalu penuh kegilaan perayaan, sampai “wajah” puasa yang sejati jadi hilang, kabur, dan tenggelam.

Laku puasa kita berenang-renang di permukaan sensasi, belum menyelami samudra esensi. Kita sangat sibuk dengan agenda ngabuburit di mana, bukber di resto apa, takjil dan makan besarnya pakai menu apa, sampai sahur nanti makan nasi apa roti. Bulan Ramadhan bukannya bersikap hemat. Kita malah boros pengeluaran. Kita pun kalap, lepas kendali dan kehilangan akurasi mana keinginan mana kebutuhan.

Puasa sekadar diartikan menunda lapar dari pagi hingga petang. Usai adzan Maghrib berkumandang kita lantas melampiaskan. Makan sekenyangnya, minum sepuasnya. Berbuka seolah menjadi ajang balas dendam. Ujung-ujungnya perut begah. Males obah. Ngapain aja wegah.

Padahal, puasa adalah pekerjaan menahan. Ngempet. Ngerém. Defensive dalam istilah bola. Menahan dari segala hal yang berpotensi membatalkan hingga merusak kekhusyukan shiyam.

Ramadhan tinggal menghitung hari. Dan pandemi belum juga berhenti. Jika kita mengacu cara berpikir substansi, esensi, hingga tahap sublimasi puasa, maka bala tentara Corona ini sejatinya anugerah luar biasa. Allah lagi sayang-sayangnya kepada kita.

Corona menjadi cara Allah me-lockdown diri kita. Bukan hanya lockdown badan, tetapi juga lockdown ego, nafsu, dan birahi terhadap segala sesuatu yang berbau duniawi. Lockdown secara total dan radikal.

Bertahun-tahun puasa Ramadhan dirayakan dengan gegap gempita sebagai ritual tahunan. Dengan anggapan semakin banyak orang merayakan seolah semakin bagus amaliah, serasa membuat kita lebih akrab dengan Tuhan.

Tapi tahun ini (dan mungkin tahun-tahun berikutnya) kita mengisi Ramadhan dengan sikap yang berbeda. Pemerintah, MUI, bersama ormas Islam telah sepakat mengimbau masyarakat untuk tidak menggelar acara atau kegiatan yang melibatkan banyak orang selama Ramadhan. Ngabuburit, ifthor, sahur on the road, pengajian, tablig akbar, sebaiknya di-off-kan. Bahkan ibadah wajib dan sunah (shalat lima waktu, tarawih, tadarus, i’tikaf, hingga shalat Ied) dilaksanakan di rumah saja.

Ramadhan 1441 H ini kita tengah diuji. “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman’ dan mereka tidak diuji?” (Al Ankabut: 2).

Kita tengah dilatih untuk mengasyiki puasa Ramadhan tidak dengan perayaan, tidak dengan keramaian, juga tidak dengan selebrasi atau seremoni. Tidak pula dengan berjamaah, berkumpul bareng, atau berkerumun bersama-sama.

Dalam hening beningnya hati, Tuhan sedang menuntun kita untuk menemukan inti, esensi, hakikat puasa yang sejati.

Akhirnya selamat menjalankan ibadah puasa. Selamat menempuh jalan sunyi, mengayuh, merengkuh ridla Illahi. Shallu ‘alan Nabi Muhammad.

Gemolong, 17 April 2020

Lainnya

Topik