Tritunggal

Pernahkah kita dihadapkan pada keharusan memilih 1 di antara 3 kemungkinan? Satu kondisi yang pasti menghadirkan situasi dilematis bagi siapa saja. Sebuah keadaan yang dipersulit oleh sifat bawaan manusia; mengelak fokus kepada satu destinasi dan cenderung berharap bisa mendapat semua yang ditawarkan kepada mereka.
Permisalan bisa kita gunakan pada pilihan untuk memilih satu di antara harta, tahta, atau wanita. Tiga kata benda yang begitu melegenda dan hidup di benak pada hampir semua dari kita. Selayaknya buah simalakama, ketiganya seolah “dimakan aku mati tidak dimakan kamyu mati.”
Mungkin, kebanyakan dari kita memilih “harta”. Karena lagu Keluarga Cemara yang dilantunkan Ibu Novia Kolopaking mengingatkan betapa harta yang paling berharga adalah keluarga. Sebuah entitas yang di dalamnya terdapat ibu di mana sorga terhampar di telapak kakinya. Urutan berikutnya adalah tahta; satu posisi yang paling kita idamkan dengan bersusah payah menjadi anak salih/salihah. Daftar ini bisa bertambah misalnya istri atau suami idaman dengan mana kita bisa lakukan gerak kejuangan. Qu anfusakum wa ahlikum naaro.
Kenyataan di dataran hidup keseharian menunjukkan fenomena semacam itu. Gejala yang mewajibkan kita menetapkan satu pilihan. Namun, sik, kalau ditelusuri lebih jauh, ketiga opsi di atas sebenarnya saling berkesinambungan. Kita ambil 1 contoh aktual dari Maiyah: beberapa waktu lalu, Mbah Nun memberi kita memilih “3 Pilihan Daur” (Revolusi Sosial, Revolusi Kultural, dan Revolusi Spiritual). Ada wilayah di mana masing-masing kita — dengan mewakilkannya kepada Simpul terdekat — bebas menetapkan kecenderungan atas gerakan strategis Maiyah dalam menggubah tatanan bangsa dan negara kedepan.
Namun, bila pemikiran kita tambahkan satu langkah saja, akan terlihat bahwa di dalam ketiganya terdapat saling keterkaitan; Manunggal. Titik berat energi kita arahkan kepada penentuan prioritas akan urut-urutan gerak dan pengkhususan.
Sambil mentadabburi catatan yang telah kita toreh sepanjang tahun 2019 ditemani rinai hujan yang masih tersipu-sipu datang tercurahkan, mari bersama merapat hangat dalam forum Sinau Bareng bulanan. Kita pilih dan pilah hal-hal dilematis menuju Sang Tunggal. Berharap gurat Bangbang Wetan 2020 merona cerah menyongsong berpuluh harapan. (Redaksi BBW)