CakNun.com

Bukan Sekadar Trending Topic di Media Sosial

Redaksi
Waktu baca ± 4 menit

“Adapun ‘mencintai’ adalah sikap sosial. Keputusan dari dalam diri ke luar diri dan untuk yang bukan dirinya sendiri. Apabila ‘cinta’ diaplikasi menjadi tindakan ‘mencintai’, maka begitu ia mensosial: wujudnya, bentuknya, formulanya, prosedurnya, nada dan iramanya, sudah ‘bukan’ cinta itu sendiri. Sang cinta ada di balik itu semua.” – Emha Ainun Nadjib, DAUR I – Mempelajari Cinta dan Belajar Mencintai.

Dalam 24 jam sepanjang 27 Mei 2019, begitu banyak ungkapan cinta yang disampaikan oleh jamaah Maiyah di lini masa media sosial. Berbagai kreasi desain foto, dipadukan dengan beberapa ucapan selamat ulang tahun dan juga kutipan-kutipan dari tulisan Mbah Nun bertebaran. Sebuah ungkapan cinta dari anak cucu kepada Mbah Nun, sosok yang tidak hanya mereka kagumi, tidak hanya mereka hormati, namun juga sosok yang begitu lekat dalam benak hati anak cucu Maiyah. Sosok yang begitu dekat, yang telah menumbuhkan rasa cinta itu.

27 Mei adalah tanggal lahir Mbah Nun, 66 tahun lalu Mbah Nun lahir di Menturo. Lahir dalam keluarga sederhana; Ayahanda Muhammad dan Ibunda Chalimah. Dari Menturo, Mbah Nun menapaki perjalanan episode kehidupan. Gontor, Yogyakarta, Jakarta adalah episode-episode yang telah membentuk karakter kepribadian Mbah Nun sehingga menjadi sosok yang kita kenal hari ini. Bersama KiaiKanjeng, terhitung hingga detik ini 4071 titik sudah disinggahi oleh Mbah Nun dan KiaiKanjeng.

Lazimnya manusia modern, usia 66 tahun adalah usia senja. Masa-masa pension, masa-masa menikmati usia menua. Tapi itu sama sekali tidak berlaku bagi Mbah Nun. Angka 66 tahun bukan sebuah angka yang menandakan usia senja bagi Mbah Nun. Justru Mbah Nun semakin prima. Hampir setiap malam menemani jamaah Maiyah di berbagai daerah, setiap hari selalu ada saja yang baru dari Mbah Nun untuk kita, jamaah Maiyah.

Hasil dari perjuangan tak pernah mengkhianati proses. Kesetiaan Mbah Nun menemani rakyat kecil pada akhirnya melahirkan benih-benih cinta pada mereka yang tersentuh pendaran cahaya nilai-nilai Maiyah. Entah dari gelombang dan spektrum mana yang menyentuh mereka, pada akhirnya mereka telah mencintai Mbah Nun.

Momen 27 Mei setiap tahun menjadi salah satu momen bagi jamaah Maiyah, anak cucu Mbah Nun, handai taulan, para sahabat, juga keluarga tentunya untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Mbah Nun atas kesetiaannya selama ini menemani mereka.

Apa yang terlihat di lini masa media sosial di setiap 27 Mei adalah bukti nyata, betapa Mbah Nun sangat dicintai oleh banyak orang. Mbah Nun telah menjadi inspirasi bagi banyak orang. Mbah Nun telah menjadi kekasih bagi banyak orang.

Mari sedikit kita simak beberapa ucapan yang disampaikan kepada Mbah Nun di media sosial;

@alifagng: Panjenengan panutan banyak orang mbah, termasuk saya salah satunya. Seorang sosok inspiratif dengan kedalaman pola pikirnya. Bangsa ini butuh lebih banyak orang seperti anda Cak. Semoga panjang umur dan sehat selalu agar kami terus bisa mendengar nasehat-nasehatmu. #66TahunCakNun

@gegaras: Dan karena beliau pikiran ku bisa tenang, hati ku bisa luwes menghadapi keadaan dan kedaulatan. Terima kasih mbah telah menjadi mbah ku dan mbah mbah semua. #66TahunCakNun

@imambejoks: Mbah Nun, manusia biasa yang biasa dicintai banyak manusia. #66TahunCakNun

@rifaasyari_: Terima kasih atas segalanya. Atas kesabaran panjenengan membersamai kami mencari cahaya, agar kami tidak tejebak dalam kegelapan. Semoga semesta tetap mengizinkan kebersamaan ini, kebersamaan menuju Kesejatian. #66TahunCakNun

@uruhakurenai1: Terima kasih Simbah. Engkau mengajak kami semua, anak cucu mu, menghayati pencahayaan di tengah hipokrit dunia yang menggirin manusia menuju kegelapan. Sugeng Ambal Warso Mbah Nun (dari cucu mu yang masih terbata dalam mengeja kehidupan) #66TahunCakNun

@andosatriya: Benar katamu, Mbah Nun “Hanya sunyi yang sanggup mengajarkan kita untuk tak mendia”, barangkali karena sunyi diciptakan, agar orang mampu mencapai dua hal: tajam nalar dan peka rasa. Sugeng ambal warsa. Mugi tansah pinaringan keberkahan daning Gusti Allah. #66TahunCakNun

@KhoirNimah: Sekarang #66TahunCakNun. Sugeng ambal warso Mbah Nun. Banyak sekali ilmu yg kami dapat dari panjenengan, tentang logika, kepasrahan, sikap dan mental yg kuat serta keistiqamahan dalam hidup. Dan.. cinta tentunya

@Anisah_Minsohi: Guruku Abah ku.. Sehat Selalu Abah, trimakasih selalu mengajarkan cinta dimana mana, terimakasih selalu mengajarkan kemanusiaan dan persatuan #66TahunCakNun

@dRiveea05: Darimu.. kami belajar Istiqomah. Di usia yang sudah 66, Engkau tidak pernah Lelah menemani kami orang2 kecil ini. Setiap hari, sepanjang bulan, terus berjalan menemani, membesarkan hati.. Maturnuwun Cak! #66TahunCakNun

@viarfitra: Mbah Nun bukan siapa-siapa, beliau tidak ingin dipercaya, beliau tidak mau diagungkan, beliau kesehariannya hanya membawa bahan. Untuk diolah bersama, berproses bersama, menemukannya bersama. #66TahunCakNun

@yudhistira_gp: Hampir satu dekade aku berguru dan mengikuti langkahmu, selalu ada pelajaran baru yang aku dapatkan. Teruslah ajari aku untuk menjadi manusia, Mbah. Doa terbaik untukmu #66TahunCakNun

@tiahdar: Baru sekali datang kajian beliau di kenduri cinta dan dari awal sampe akhir Cuma bisa merinding sama pemikiran beliau. Gak aneh ratusan orang dari segala lapisan kelas sosial rela duduk diskusi bareng beliau. Sehat terus mbah Nun #66TahunCakNun

@dulurepolisi: Aku tidak mengagumkanmu mbah. Tapi aku berterima kasih kepada tuhan karena diberi kehidupan yang semasa denganmu. Sugeng ambal warsa mbah. Mugi tansah kapinaringan kawilujengan, kasarasan lan panjang yuswo #66TahunCakNun

@TretanMuslim: if someday I can meet cak nun, just wanna say thanks for open mind and enlightening people. Respect and happy birthday Mr Emha Ainun Nadjib #caknun #66TahunCakNun

Tidak ketinggalan pula, ucapan terima kasih kepada Ibu Via, karena telah merelakan sebagian besar waktunya Mbah Nun untuk menemani jamaah Maiyah;

@Nink-Nonk: Maturnuwun Ibu Via yg telah setia menemani Bapak, yg telah merelakan sebagian waktu Bapak menemani kami, anak dan cucunya bermaiyah.. Semoga sehat selalu.. #66TahunCakNun #66TahunMbahNun #MiladMbahNun

@trim0624: Maturnuwun Mbak Via, atas keikhlasan hati memberi ruang kepada Cak Nun bagi kami anak-anak yang lain #66TahunCakNun

@pelurukared: Terima kasih Ibu Via telah rela menjadi ‘istri ke-seribu’ (sesuai judul buku beliau) sesudah ‘istri-istri’ lain yang bernama: rakyat dan hajat hidup orang banyak. Terimalah sesaji syukur dan rasa haru kami #66TahunCakNun #PADHANGMBULAN

Dan masih banyak sekali ucapan selamat, ungkapan syukur yang disampaikan kepada Mbah Nun. Seolah menjadi bukti sahih, betapa lebih banyak orang yang mencintai Mbah Nun daripada yang membenci. Hiruk pikuk media sosial beberapa minggu terakhir cukup ramai oleh mereka yang membenci Mbah Nun, tetapi tagar #66TahunCakNun memberi bukti, ada lebih banyak orang yang mencintai dan bergembira bersama Mbah Nun. Atau jangan-jangan, mereka yang kemarin menyerang Mbah Nun, diam-diam menggunakan akun anonim untuk mengucapkan terima kasih dan rasa cinta kepada Mbah Nun?

Meskipun demikian, media sosial hanyalah secuil dari bagian yang tersentuh oleh Maiyah. Pasti ada ribuan doa, ribuan ungkapan, ribuan ucapan syukur yang diam-diam disampaikan oleh lebih banyak orang, yang hampir setiap malam ditemani oleh Mbah Nun, merasakan kegembiraan sinau bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Semua jamaah Maiyah memiliki harapan agar Mbah Nun, Ibu Via juga KiaiKanjeng terus diberi kesehatan dan keberkahan dari Allah sehingga masih terus menemani kita semua ber-Maiyah.

Selamat ulang tahun, Mbah Nun. Maafkan kami yang selalu merepotkanmu, Mbah.

Lainnya

Fiqih Tanpa Aqidah, Bumi Tanpa Langit

Fiqih Tanpa Aqidah, Bumi Tanpa Langit

Setelah Wirid Wabal yang dipandu Hendra dan Ibrahim, Kenduri Cinta edisi Maret 2016 yang mengangkat “Fiqih Tanpa Aqidah, Bumi Tanpa Langit” kemudian dimulai dengan sesi prolog.

Kenduri Cinta
Kenduri Cinta

Topik