Simbah, Maiyah, dan Berlapis-lapis Berkah


Terakhir kali datang ke Majelis Mocopat Syafaat yakni pada 17 Agustus 2018 lalu. Saya mengajak sang istri yang tengah hamil tua untuk sowan bersua Simbah. Nyuwun tulung kepada Mbah Nun untuk mengelus jabang bayi dengan usapan doa, serta memberikan kado nama untuknya.
Sebulan kemudian, yakni pada hari Sabtu (01/09/2018) pukul 20.46 WIB, alhamdulillah putra pertama kami lahir melalui proses operasi. Sehat, cepat, selamat. Lega rasanya. Bungah luar biasa. Semua seperti dimudahkan-Nya. Pantas Simbah menghadiahi nama anak kami Kumudani Yassarallah (Jawa, Arab). Yang berarti manusia terpuji dan hidupnya dimudahkan oleh Allah. Amin. Sekali lagi matursembah nuwun Mbah Nun.
Oh ya, siang sebelum Mocopat Syafaat Desember ini Mas Helmi (Progress) mengirim sebuah pesan WA. Beliau meminta saya dan rekan JM yang biasa nulis di caknun.com untuk naik ke atas panggung MS pada malam harinya. Untuk membantu meresume sejumlah Maiyahan terakhir, dan ilmu-ilmu/fenomena terbaru apa yang terdapat dalam gelaran Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Beberapa poin coba saya susun sesuai batas dan kapasitas.
Tepat pukul delapan malam, saya beserta rombongan JM Suluk Surakartan tiba di Kasihan. Satu per satu jamaah datang, merapat ke panggung dan mengisi setiap sisi halaman TKIT Alhamdulillah. Mereka para kekasih Allah, pecinta Rasulullah, anak-cucu Simbah berkumpul dalam rangka mengepul ilmu, menyimpul tali rindu. Membilas kembali jelaga hati dan pikiran di “Telaga cinta” Majelis Mocopat Syafaat edisi Desember 2018.
Memasuki pukul 21.30 WIB, Mbah Nun didampingi Kiai Tohar, Master of puisi rusak-rusakan Pak Mustofa W Hasyim, mas Helmi, dan para Pemenek Blimbing (penulis rubrik Menek Blimbing, Mas Karim, Mas Indra, Mas Galih dan saya) beriringan naik ke atas panggung. Tetiba seorang jamaah berambut kribo memekik shalawat menyambut kerawuhan Mbah Nun. Allahuma shalli ‘ala Muhammad. Tanpa dikomando jamaah lain langsung menyahut: shallu ‘alaih.
“Apa yang berlangsung di Maiyah itu kesannya seperti spontan dan mengalir. Padahal sebenarnya ada perencanaan, ada persiapan bahan-bahan sebelumnya untuk disampaikan di atas panggung.”
Kalimat pembuka dari Mbah Nun tersebut menggelitik telinga, menghujam dalam dada. Seketika meruntuhkan niat saya untuk menyampaikan poin-poin yang telah saya susun di rumah. Ada yang kurang pas. Tidak korelatif dengan suasana saat itu. Dan di situlah asyiknya bermaiyah. Akrab dengan kejutan-kejutan. Kejutan ilmu, perspektif baru, serta alternatif cara berpikir. Setiap pekerjaan/tindakan memang perlu perencanaan, pemetaaan konsep, pasang kuda-kuda. Akan tetapi daya tangkap, tanggap, dan kepekaan diri merespons kondisi yang sedang berlangsung juga tak kalah penting. Sangat penting bahkan.
Kemudian Mbah Nun menyambung dan menjabarkan bahwa Maiyah ini paling tidak memiliki tiga lapis keberkahan atau kemaslahatan. Yakni kemaslahatan bagi diri sendiri (individu), kelompok (komunitas), dan InsyaAllah peradaban. Berkaca dari “Maraton Maiyahan” akhir-akhir ini yang hampir tergelar tiap hari, serta menyentuh segala elemen/instansi (sekolah, universitas, pemerintah desa, kantor, dinas, ormas, dll), semakin meneguhkan bahwa fenomena, nilai-nilai, dan manajemen Maiyah bukan hanya telah menjadi budaya di masyarakat. Akan tetapi telah, sedang dan akan terus memuai menjadi peradaban masa depan.
Diskusi yang serius antara ‘guru’ dan ‘murid’ dicairkan lewat satu nomor Permintaan Hati dari Letto. Sebelum musik berdentum, lagi-lagi rekan jamaah berambut Kribo itu memekik shalawat. Allahuma shalli ‘ala Muhammad. (Saya yakin Kanjeng Nabi mèsem menyaksikan prejengannya, haha).
Kehadiran mas Sabrang dkk kian ‘menghancurkan’ poin-poin yang sedianya ingin saya sampaikan sebagai resume Maiyahan sebulan terakhir ini. Ya sudah mengalir saja.
Di tengah lagu, Mas Karim yang duduk di sebelah saya berbisik, “Forum atau majelis ilmu yang mampu mengasah logika, mengaduk emosi, serta menyentuh relung spiritual, hanya berhasil saya temukan di Maiyah. Tiga komponen sekaligus kita dapatkan di sini (di Maiyah).”
Saya anggukan kepala berkali-kali tanda setuju. Memang faktanya demikian. Di forum Maiyah, logika kita diajak aktif berdialektika, tidak mandek, terus bergerak menemukan letak presisi. Sebaik mungkin. Seindah mungkin. Sebijaksana mungkin. Kemudian emosi kita juga diajak menari-nari naik turun. Kadang serius, adakala rileks. Dan musik, bebunyian, lagu, instrumen adalah alat/potensi untuk me-refresh ketegangan atau kejenuhan.
Sampai pada esensi yang sejati, di mana proses Sinau Bareng di Maiyah selalu mengetuk pintu spiritual kita untuk menuju titik vertikal. Bahwa Maiyah hanya dititipi Tuhan untuk menebar dan menyebar manfaat kemaslahatan. Ungkap Mbah Nun. Sehingga ketika ada Jamaah Maiyah atau siapa saja yang kecipratan berkah Maiyah, satu-satunya cara adalah mensyukurinya. Yang secara otomatis dapat menambah pundi-pundi cinta kita kepada Allah Swt.
Menjelang pukul 23.30 WIB, mas Helmi memberikan kesempatan kepada teman-teman Pemenek Blimbing (ini istilah baru dari mas Helmi dan saya suka, haha) untuk menyampaikan poin atau ilmu atau fenomena apa yang berhasil ditangkap terutama di sebulan terakhir Maiyahan. Dan saya ketiban jatah yang pertama untuk berbicara. Asli grogi. Bicara di atas panggung, di samping ada Mbah Nun, di hadapan ribuan pasang mata, di depan banyak lensa kamera, di-shooting pula, sumpah ini tidak mudah teman-teman. Jangankan saya, Mas Helmi saja yang kerap berada di atas panggung, mengaku setiap datang tanggal 17, makan rasanya ndak enak. Hambar katanya. (Saya terpingkal mendengarnya).
Maka yang bisa saya sampaikan malam itu tidak lain adalah rentetan keberkahan Maiyah yang saya alami dan rasakan sendiri. Begitu banyak berkah Maiyah, mulai dari yang kecil-kecil dalam kehidupan sehari-sehari, sampai skala yang besar. Bahkan keajaiban-keajaiban.
Mbah Nun pun kemudian merespons dengan mengatakan, kasus-kasus seperti itu sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Di mana pun saya berada, bertemu dengan banyak orang, hampir semua mengatakan turut merasakan keberkahan-keberkahan dari Maiyah. Wujudnya pun beragam. Bisa fasilitas, keselamatan, kesembuhan dari penyakit, materi, peluang karir, bonus, rekanan, paseduluran, dlsb.
Tak terpungkiri lagi, Maiyah sarat berlapis-lapis berkah. Berkah bagi pribadi, kelompok, dan peradaban baru generasi masa depan anak-cucu.