CakNun.com

Menep

Mukadimah Majlis Ilmu Maiyah Serdadu Cinta Juni 2018
Serdadu Cinta
Waktu baca ± 2 menit

SC kali ini mencoba untuk mbeber tema tentang “Menep“. Ketika kita berbicara tentang menep, erat kaitanya tentang hati, ihlas, sabar dll. Membahas hati memang tidak akan segera menemui titik akhir. Dalam banyak forum berkali-kali kita menyelaraskan keseimbangan posisi hati sehingga tetap pada posisi waspada dalam berbagai keadaan. Pertanyaan yang muncul adalah: menep yang bagaimana?

Dalam kitab Al-Hikam disebutkan bahwa tidak ada yang bermanfaat kepada hati melebihi uzlah (nyepi), yang dengan nyepi itu orang tersebut memasuki medan berpikir, yaitu dunia rasa. Mbah Nun dengan Maiyah menempuh uzlah yang lain. Tapa ngrame. Meskipun berada di tengah-tengah tarikan politik yang ada, beliau tetap tidak terbawa oleh arus. Dalam nasihat yang lain, Ibnu Atho’ilah pernah berkata: “Pendamlah dirimu dalam bumi yang gersang. Sesuatu yang tumbuh karena tidak dipendam tidak akan kuat dan tidak akan berbuah banyak.”

“Urip kudu pinter-pinter ngudo roso”. Sebuah statement yang sering diucapkan oleh orang-orang tua. Bahwa di atas hukum, di atas hak dan kewajiban, ada yang lebih penting. Yaitu urusan rasa memanusiakan yang lain. Karena puncak kecerdasan dari segalanya adalah cerdas rasa.

Dengan banyaknya sudut pandang yang kita pakai, akan menjadikan kita lebih menep. Filosofi menep itu seperti paku yang masuk ke dalam. Orang kalau menep itu tidak mudah goyah hatinya.

Menep adalah proses pribadi sebagai jalan muntuk menuju kepada Allah karena segala tujuan tak lain adalah Allah. “Menep itu bukan sebuah tujuan, tapi sebuah proses. Kita harus belajar titi, setiti, ati-ati.

Mbah nun pernah ngendikan: “Urip kuwi kudune dudu karepe dhewe”. Ketika dalam kehidupan kita selalu mengangungkan ke-aku-an, menuhankan akal, dan ketika kita merasa diri kita penting, maka yang terjadi adalah kekecewaan. Apalagi di tengah konstalasi politik yang hari ini menghalalkan segalanya untuk membenar-benarkan golongannya, mem-branding tokoh  yang kurang tahu apa-apa untuk disuguhkan ke masyarakat seolah sebagai dewa penolong. Maka dibutuhkan menep.

Di tengah hiruk pikuk saling klaim yang benar adalah golonganya, maka kita sebagai #GenerasiMaiyah harus bisa menep agar bisa bijak dalam mengambil sikap dengan pertimbangannya apakah yang kita lakukan sudah maslahat untuk orang lain atau belum.

Maka, persiapkan diri untuk berani melalui proses penghancurkan diri sendiri untuk menjadi lebih baik. Seperti proses padi yang menjadi beras, beras menjadi nasi, nasi kemudian bermanfaat bagi umat manusia. Anggap diri kita ini tidak penting. Mulai berpikirlah untuk menjadi bagian sejarah yang baik untuk anak-cucu kita kelak.

Lainnya

Mosok Dijajah Terus Ker?

Mosok Dijajah Terus Ker?

21 April 2015, dinginnya kota Malang tak mengurungkan niat dulur-dulur Maiyah Rebo legi untuk tetap berkumpul di beranda masjid An-Nur Politeknik Negeri Malang.

Nafisatul Wakhidah
Nafisatul W.

Topik