Bukan Sekadar Permainan yang Asal Main-main

Anak-anak memang paling jago bikin orang lain merasa gemes melihat tingkah polahnya. Tak jarang anak-anak itu berlarian, tertawa lepas bermain dengan teman-temannya, seolah tanpa ada beban yang memberatkan mereka. Dunia anak-anak memang cenderung identik dengan dunia bermain. Seolah ada slogan khusus bagi mereka, “Tiada hari tanpa bermain”.
Berbicara tentang bermain, saya pun jadi ingat film Life is Beautiful. Sebuah film garapan Roberto Benigni ini menurut saya cukup menarik. Dalam film tersebut diceritakan tentang seorang Bapak yang mengajarkan kepada anaknya untuk selalu berpikiran positif. Uniknya, dalam situasi yang sangat genting pun, Sang Bapak masih bisa tegar dan mengatakan kepada anaknya, bahwa ini hanyalah permainan saja. Dan kalau ingin menjadi pemenang, kita pun tetap harus bersungguh-sungguh dalam bermain. Alih-alih membuat Si Anak ketakutan, situasi yang sangat menegangkan itu pun mampu berubah menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan bagi Si Anak. Sekali lagi, ini karena Si Anak menganggap semua hanyalah permainan yang menyenangkan baginya.
‘Anakku’, Padamu Aku Berguru
Melihat film ini, saya pun berasa dibawa dalam beberapa lingkaran memori kata. Firman Tuhan dalam Qur`an surat Muhammad ayat 36 yang menyatakan bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau saja. Pikiran ini pun tiba-tiba juga gatal bertanya-tanya, apa dan mengapa Mbah Nun pernah menyinggung tentang anak-anak. Bahwa kita pun perlu belajar kepada anak-anak, dan sekali waktu kita juga perlu kembali menjadi anak-anak. Sekali lagi, kenapa harus anak-anak?
Permainan, anak-anak, dan bermain. Ada apa dengan mereka? Apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan Sang Pemberi Pesan melalui mereka. Belum juga saya selesai melamunkan mereka, tiba-tiba mata ini dibelokkan pandangannya ke Tetes, Dunia = Ilustrasi. “Dunia ini dirancang Tuhan memang untuk sekadar hiasan. Dunia ini dikonsep bukan sebagai substansi, melainkan ilustrasi. Ilustrasinya jangan melebihi dan mengalahkan substansinya. Itu bodoh dan pasti rugi sendiri. Apalagi karena terlalu mensubstansikan ilustrasi maka manusia melakukan korupsi, perebutan, penjajahan, perampokan, penindasan, penguasaan, sekadar untuk berhias beberapa saat.”
Ah, tambah puyeng lah saya dibuatnya. Kembali ke persoalan anak-anak, menurut Mimi Doe dan Marsha Walch dalam bukunya 10 Prinsip Spiritual Parenting, anak-anak adalah makhluk spiritual. Secara naluriah, anak-anak sudah dianugerahi apa yang selama ini kita cari, kemurnian. Anak-anak masih murni, ia masih fitri. Ia sering kali menampakkan wajah aslinya. Ia masih dengan kepolosannya, tanpa ada topeng-topeng yang menutupinya. Dan kemurnian inilah yang kita cari dan kita rindukan selama ini.
Anak-anak juga identik dengan sikapnya yang masih suka bermain manja. Manja kepada orangtuanya, orang-orang terdekatnya, juga kepada Tuhannya.
Manja kepada Tuhannya? Ya, anak-anak tak pernah ragu mengadu dan menyapa Tuhannya. Dan bukankah ketika kita sudah bersama dengan yang sangat dekat dengan kita, batas-batas di antara kita pun akan runtuh semua. Seolah, seketika kita menjelma menjadi anak-anak yang ingin bermanja ria.
Seketika cermin di depan itu pun menyerbu wajah ini yang tepat berada tiga belas senti di depannya, “Apa kabar kamu dengan Tuhanmu? Masihkah kau sering bermanja dan mengadu kepada-Nya. Atau, jangan-jangan kau terlalu berprasangka baik kepada Tuhanmu. Mentang-mentang Tuhanmu serba tahu, kau jadikan itu alasan untuk tak pernah mengadu.” Ah, mohon maafkan ciptaan-Mu ini, Tuhan. Hanya berharap semoga kita selalu diberi ingat, bahwa kita memang perlu belajar kepada anak-anak untuk selalu menyapa-Mu dan mengadu. Bukannya mengadu untuk menuntut ini dan itu, tapi agar kita bisa tetap dan bisa bertambah mesra tiap satuan waktu.
Tidak Asal Main-Main
Dari sini, pelan-pelan saya pun mencoba menarik benang yang menghubungkan di antara itu semua. Anak-anak, bermain, dan permainan. Life is beautiful, Tetes: Dunia = Ilustrasi, dan Qur`an Surat Muhammad ayat 36.
Bahwa dunia ini memang hanyalah permainan saja. Dunia hanyalah ilustrasi. Sekalipun dunia ini hanyalah permainan, hanya ilustrasi, ini tidak serta merta membuat kita leha-leha dan berlaku seenak kita begitu saja. Kita masih tetap harus belajar membedakan mana yang hanya sekadar ilustrasi, dan mana substansi dari ilustrasi itu sendiri. Agar kita tak sampai terjebak dalam jebakan yang ada dalam permainan ini.
Dalam film Life is Beautiful tersebut, seolah ada pesan yang ingin disampaikan. Bahwa sekalipun hanya permainan, tapi kita tetap butuh untuk bersungguh-sungguh dalam melakukannya. Kita masih harus bersungguh-sungguh untuk mengupayakan kemenangannya. Dan untuk menuju kemenangan pun, kita masih butuh sabar untuk menunggu momentumnya. Semua ada waktunya, semua akan tiba tepat pada ajalnya.
Katakanlah ini adalah tentang permainan kita di dunia. Tentu kita tidak bisa asal main-main begitu saja, bukan? Seperti yang pernah disinggung Mbah Nun dalam Padhangmbulan beberapa bulan yang lalu. Bahwa dunia adalah permainan dan senda gurau, ini bukan berarti kita hidup hanya untuk main-main saja. Hanya saja, kita perlu belajar menikmati dan mensyukuri di tengah kesungguhan kita dalam melakoni setiap adegan permainan yang disuguhkan kepada kita.
Sekali lagi, kalau kita ingin menjadi bagian dari yang memenangkan permainan kita di dunia ini, kalau kita ingin mendapatkan hadiah yang sejati dari permainan panjang ini, tak ada salahnya kita belajar kepada anak-anak. Belajar bagaimana menjaga kemurnian dan keintiman dengan Tuhan. Belajar bersungguh-sungguh dalam menjalani permainan. Juga belajar bersabar mendapatkan hadiah kemenangan.
Ada yang bilang, sehebat apapun penderitaan, tapi kalau kita bisa melihatnya dari sudut pandang anak-anak tersebut, yang kita dapatkan adalah keindahan.
Tidak terasa ya, tiba-tiba kita sudah sejauh ini berjalan dalam permainan di dunia ini. Apa kabar permainan kita yang sudah-sudah? Adakah yang perlu kita permak sebagai pijakan permainan selanjutnya, agar semua bisa berakhir dengan indah?