Bergembira dalam Keseimbangan Atmosfer Basyiiran dan Nadziiran


Sering disampaikan di acara Sinau Bareng mereka adalah bagian dari maiyahan sebagaimana jamaah yang hadir memadati halaman pengajian. Undangan juga terbuka bagi teman-teman yang ingin mengguyubi pertemuan itu.
Jeda sejenak, malam itu jamaah berkesempatan menyaksikan tayangan video “Ya Ampun” dan “Ke Mana Anak-anak Itu.” Video tersebut bisa dilihat kembali di CakNun.com.
Mbah Nun dan Kyai Muzamil rawuh bersamaan dengan lantunan shalawat yang dipandu Mbak Yuli.
Mbah Nun kembali menekankan bahwa majelis Maiyah bukan semata-mata pengajian di mana jamaah hanya bertugas mendengarkan. Bersama Kyai Muzamil jamaah diajak meneliti kembali ungkapan dalam Al Quran, seperti afalaa ta’qiluun, afalaa tatafakkaruun, afala tatadazakkarun.

Peringatan dari Allah itu kerap diterjemahkan sebatas “Apakah mereka tidak berpikir?” Atau, “Apakah mereka tidak berdzikir?”
Kasus serupa juga kita temukan pada kata khoir, ma’ruf, sholih yang diterjemahkan “baik”. Sedangkan secara etimologi dan terminologi bukan saja terdapat perbedaan pada setiap kata, bahkan masing-masing ungkapan memiliki kandungan denotasi dan konsekwensi perbuatan yang cukup tajam.
Ambil saja kata ta’qiluun yang berasal dari kata dasar (masdar) ‘aql (akal). Afalaa ta’qiluun yang sering diartikan “Tidakkah kamu berpikir?” menjadi lucu dan aneh kalau diterjemahkan “Tidakkah kamu mengakali?” Barangkali yang bisa diterima oleh logika bahasa Indonesia adalah “Tidakkah kamu menggunkan akal?”
Ternyata kita sering dihadang oleh bias budaya, bias logika, bahkan bias aqidah untuk memaknai sebuah ungkapan yang dituturkan dalam Al Qur’an.

Atas semua relativitas tafsir itu, Mbah Nun menawarkan makna yang lebih mendasar. Ta’qiluun adalah kerja akal atau mengakali dalam konotasi positif untuk menemukan keterkaitan atau keterhubungan segala sesuatu secara komprehensif. Menemukan rangkaian yang terpisah, lalu menyambungnya sebagai othak athik gathuk yang utuh.
Sedangkan proses tafakkaruun cenderung lebih dekat dengan ilmu akademis modern yang mengkategorikan, mengklasifikasi, memetakan bidang-bidang. Spesialisasi keilmuan akademis merupakan produk dari tafakkur.