Wedang Uwuh (10)

Rempah-Rempah dan Martabat Bangsa

Kedaulatan Rakyat, 20 Desember 2016

Ta’qid : Kan rakyat Indonesia ini harus dihancurkan oleh koalisi dan rivalitas beberapa kartel perekonomian dari luar negeri yang sangat tidak bisa menahan diri untuk merampok harta benda NKRI.

“Bagaimana kalau kita tentukan bicara tentang nilai pol 30% saja, yang 70% materi, yang kasat mata, yang jasad, yang gampang-gampang…”, saya coba menengahi situasi antara Gendon dan Beruk, dengan Pèncèng, yang kalau diteruskan akan menjadi perdebatan seperti kelompok aktivis mahasiswa.

“Maksudnya gimana, Mbah”, tanya Pèncèng.

“Kalian bertiga ini kan saya butuhkan untuk merasakan, mencatat, dan menghayati pengalaman sehari-hari kalian di Yogya. Misalnya dari obrolan di warung, ronda, mancing, rapat RT, kengerian Klithih, subversi narkoba yang dijebakkan dengan dimasukkan ke tas seseorang. Atau tentang jajanan anak-anak sekolah….”

“Ya terus Mbah, saya coba memahami”, kata Beruk.

”Kan rakyat Indonesia ini harus dihancurkan oleh koalisi dan rivalitas beberapa kartel perekonomian dari luar negeri yang sangat tidak bisa menahan diri untuk merampok harta benda NKRI. Maka mereka sangat bernafsu untuk bikin rapuh masyarakat kita. Dipecah-belah, diadu-domba, supaya kita tidak pernah solid dalam persatuan dan kesatuan. Dengan demikian mudah bagi mereka untuk merampok kita. Baik melalui makanan dan minuman, melalui pendidikan dan pikiran, melalui perubahan undang-undang, melalui Perpres sampai Perda dan Perdes….”

Pèncèng memotong, “Kalau begitu bagaimana kita bisa mengelak dari pembicaraan tentang nilai, Mbah? Kita sedang gencar-gencarnya dijajah dengan model-model peperangan yang baru, canggih, dan tidak kentara. Kalau kita harus kasih tahu orang tentang penjajahan, kan terpaksa omong tentang nilai penjajahan, pola barunya, strateginya, siasat, dan tipu dayanya”

“Bukan sama sekali tidak omong nilai”, saya coba menjelaskan, “cuma cara mengkomunikasikannya perlu disederhanakan. Jangan terlalu mendalam dan meluas abstraksi nilai-nilainya. Kan masyarakat kita selama beberapa puluh tahun terakhir ini lebih terlatih untuk melihat materi, memandang benda-benda, tanpa terlalu peduli terhadap nilai-nilai di belakang benda-benda itu”

“Misalnya, Mbah…?”, Gendon bertanya.

“Misalnya, tuliskan bahwa Wedang Uwuh itu diramu dari macam-macam bahan. Katakanlah Jahe, Cengkeh, Bunga Cengkeh, Batang Cengkeh, Daun Cengkeh, Kayu Secang, Pala, Daun Pala, Kayu Manis, Daun Kayu Manis, Akar Sereh, Daun Sereh, Gula Batu, dan Kapulaga….”

“Jadi, data-data kulinernya saja yang ditonjolkan?”

“Ya tidak harus. Tetapi diperbanyak yang faktual dan kasat mata seperti rempah-rempah itu”

“Kan Wedang Uwuh bukan hanya segelas minuman. Ia adalah juga sejarah, yang karena rempah-rempah itulah VOC datang dan kemudian menyandera Bangsa Nusantara 3,5 abad lamanya. Rempah-rempah adalah harga diri kebudayaan bangsa, kreativitas nenek moyang, hasil Ijtihad atau proses eksperimentasi….”

Kalimat Pèncèng dipotong dan diteruskan oleh Gendon. “Dari Wedang Uwuh kita kan bisa bercermin dan menemukan apa kesalahan-kesalahan bangsa kita ini sehingga kacau balau seperti sekarang, kehilangan kedaulatan, tidak percaya diri, mendewakan Barat, Arab, Cina, dan semua yang dari luar. Segala sesuatu yang dari manca, kita dewakan. Segala sesuatu yang milik kita sendiri, yang diri sejati kita sendiri, kita remehkan”

Mereka akhirnya berparade analisis. Semacam pemaparan makalah-makalah. Dan memang itulah maksud saya: memancing mereka, menyinggung perasaan mereka supaya muncul kemarahan dan harga diri. Sehingga ilmu dan pengetahuan mereka menyala.