Kepada Allah Jangan Menuntut, Tetapi Memohon

Selain Pak Camat, bergiliran kesempatan diberikan kepada Pak Danramil, Pak Kapolsek, dan Pak Kiai maupun tokoh lainnya. Banyak soal yang lalu ditanggapi oleh Cak Nun. Mulai dari soal medsos yang membahayakan bagi anak-anak, medsos sebagai arena penjajahan, tentang hingga keamanan dan ketertiban dalam berlalu lintas.

Saya dan para jamaah selanjutnya menyimak kalimat-kalimat Cak Nun yang menebarkan muatan-muatan beragam. Tentang logika cinta segita, tentang sikap dan persepsi tentang maulid Nabi, tentang kenduren, tentang pesantren sebagai masa depan, filsafat panggung KiaiKanjeng, prinsip lokal (uri-uri kebudayaan, rakyat harus bekerja dengan hati tenteram, dalam pembangunan dan penjagaan masyarakat, tentang “surga” itu lahir daro pelatihan hati, tentang anak harus didoakan terus, jangan tidak pernah tidak nempel dengan Allah, hidup abadi, Islam dan Indonesia, Jawa bukan feodal, hingga metode Ngaji Bareng itu adalah menabur benih yang harus ditanam.
Dari semua itu ada satu hal menarik saya. Maiyahan dari satu desa atau kabupaten ke desa atau kabupaten lain difungsikan dan dimanfaatkan secara unik oleh Cak Nun dalam memformulasikan temuan-temuan sosial budaya yang kiranya mengandung makna bagi masa depan. Apa itu? Cak Nun merasa bahwa kini makin banyak lurah atau kepala desa yang pinter ngaji dan bahasa Jawanya halus ndeles. “Itu membanggakan dan membahagiakan….” Ringkasnya, Cak Nun melihat perbedaan mencolok pergerakan bobot antara elit pusat dengan pemimpin-pemimpin di bawah. Maiyah menemukan banyak mutiara-mutiara itu. Selaras dengan makin menguatnya sel-sel rakyat Indonesia.
Kini, memasuki pukul 00.50 dua kekuatan itu telah berdiri bersama memuncaki pertemuan malam ini. Mereka diajak melantunkan Tombo Ati oleh Cak Nun. Dan kemudian doa penutup dimohonkan kepada Pak Kiai setempat. Jamaah mengamini. Malam yang mulai dingin di kawasan yang dikelilingi kebun-kebun salak bertabur doa dan harapan kebaikan. Cak Nun sangat berharap dengan tarikat mereka bersekian jam setia di sini Allah tak membiarkan mereka diganggu siapapun saja.
Seperti biasa, KiaiKanjeng memulai mengantarkan kepulangan mereka dengan sejumlah nomor. Di sepanjang acara tadi, KiaiKanjeng juga telah menghadirkan berbagai nomor. Ada Janji-nya Siti Nurhaliza oleh Mas Imam Fatawi yang mengingatkan akan musik Melayu yang indah dan digendong dalam ideologi musik KiaiKanjeng. Tak lupa pula Rampak Osing Banyuwangi oleh Mas Islamiyanto. Dolanan Demak Ijo oleh Pak Nevi Budianto. Medley Nusantara untuk meneguhkan takdir tempat kekhalifahan Tuhan atas manusia. Tak ada One More Night Maroon 5 malam ini, karena dengan pilihan komposis nomor-nomor tadi KiaiKanjeng sedang menggodok lagu-lagu baru yang lebih fresh lagi.

Sejumlah pertanyaan telah pula dilontarkan para jamaah. Pertanyaan-pertanyaan yang mendasar, dan ada pula pertanyaan yang disampaikan dengan segar. Kesegaran ini pula yang sempat ditegaskan. Hidup harus segar, tidak boleh tegang terus. Pertanyaan mereka mulai sari soal ruh-jasad-arwah, bagaimana memaksimalkan potensi akal, peran ibu dalam mendidik anak, bagaimana agar masjid di masa kini dapat membantu menciptakan keadaan yang harmonis dan tidak memecah masyarakat, dan tadabbur mengenai ayat wasilah.
Ada satu respons dari Cak Nun yang sangat mengesankan di antara jawaban-jawaban yang disampaikan. “Jangan menuntut kepada Allah, tetapi memohonlah, sebab Allah boleh apa saja karena Dia Maha Mutlak. Dia tidak terikat kewajiban apapun kepada manusia. Dan toh Allah Maha Adil, bukan karena wajib melainkan karena kasih sayang-Nya kepada manusia. Beda dengan presiden atau pemimpin yang harus adil karena terikat oleh nilai-nilai tertentu oleh rakyat yang dipimpin.
Nomor Ya Rasulallah Salam’Alaik yang dikomposisi dengan indah dan bernuansa gembira menutup proses salaman para jamaah dengan Cak Nun dan para narasumber. KiaiKanjeng berkemas untuk kembali ke rumah masing-masing, pulang paling akhir. (hm)