CakNun.com

Jangan-jangan Aku Belum Bermaiyah

Hilwin Nisa
Waktu baca ± 3 menit

Saking senang dan bersyukurnya seorang pemuda itu dikenalkan dengan Maiyah, ia pun ingin mengajak saudara-saudaranya, tetangganya, bapak-bapak ibu-ibu semua yang ada di sini, semua kalau bisa diajak ngaji di Maiyah. Semangatnya yang menggebu itu seolah menggambarkan kebulatan tekadnya untuk menyisir siapapun saja diajak berenang bersama di samudera cahaya Cinta.

Tapi jangan dibayangkan juga pemuda ini mendatangi orang-orang dari satu pintu ke pintu lainnya. Kemudian ia mempresentasikan Maiyah itu begini begitu bla bla bla… Jangan juga dibayangkan dia berteriak di jalanan mengajak orang-orang bermaiyah, “Yo, yang Maiyah yo… Maiyah…” Saya rasa bukan seperti itu ajakan yang beliau maksud waktu itu.

Apa Kabar Maiyahku?

Cerita dari sang pemuda itu pun kemudian ditanggapi oleh salah seorang yang juga duduk di atas panggung malam Padhangmbulan kala itu. Mohon maafkan, saya lupa siapa waktu itu yang memberikan respons. Mohon maklum, saya memang agak susah mengingat nama, mengingat siapa yang berbicara. Tapi mungkin akan sedikit berbeda kalau waktu itu kamu juga ada di sana. Kali aja otak ini akan bisa bekerja lebih ekstra kalau kita duduk bersanding bersama.

Kembali ke perihal tanggapan tadi, waktu itu si bapak yang memberikan tanggapan ini membagikan ceritanya tentang pengalaman seorang jamaah pertama kali mengenal Maiyah. Jamaah ini mengaku heran dengan kakaknya yang mendadak rajin shalat dan ngaji. Kakak jamaah ini juga sering ‘keluyuran’ malam, duduk bersama ratusan bahkan sampai ribuan orang sampai larut pagi. Dan anehnya, kakaknya itu bisa kuat paginya langsung berangkat bekerja seperti biasanya. Belakangan ia tahu, kalau acara yang sering dihadiri kakaknya itu adalah ngaji bareng, sinau bareng. Meskipun begitu, masih saja terbesit tanya pada jamaah ini. Pengajian kok laki-laki sama perempuan jadi satu gini, nggak ada satir-satirnya gitu.

Singkat cerita, karena merasa penasaran akan perubahan yang terjadi pada kakaknya, ia pun mulai datang dan merasakan sendiri acara yang didatangi kakaknya itu. Belakangan ia juga tahu, kalau acara itu ternyata sering disebut dengan Maiyah. Dan diam-diam, ternyata ia pun mulai jatuh hati juga kepada Maiyah.

Cerita ini seolah sedikit banyak turut memberikan jawaban atas angan-angan pemuda tadi. Angan-angannya untuk mempromosikan Maiyah disentil oleh dongeng ini. Dongeng tentang seorang kakak yang tanpa banyak kata pun diam-diam justru menyeret adiknya terjun ke samudera Maiyah.

Dongeng ini pun juga mengingatkan saya pada sesuatu. Bahwa Maiyah ini memang bukanlah padatan. Sehingga Maiyah tidak perlu ditunjuk-tunjukkan. Meminjam bahasanya salah seorang penggiat Simpul, Maiyah itu seperti uyah. Ia bersembunyi di kedalaman, tapi rasa dan manfaatnya sangat bisa dirasakan.

Biarkan Maiyah tetap berada dalam dapur kita. Kalau memang kita ingin mengenalkan Maiyah dan mengajak orang lain bermaiyah, saya rasa akan jauh lebih baik jika bukan dapur yang kita sodorkan. Akan tetapi, hidangan, hasil olahan dapur kitalah yang kita persembahkan. Dan biarkan orang lain mengincipi hasil olahan Maiyah kita. Kalaulah sewaktu-waktu ada yang jatuh hati dengan ‘masakan’ kita, dan mereka bertanya akan resep kita, barulah mungkin bisa kita buka resep Maiyah ini bersama-sama. Dalam bermaiyah, kita sama-sama dan saling belajar resep, mengasah ketitisan kita dalam mengolah inputan-inputan yang ada, hingga menjadi ‘hidangan’ yang halalan thayyiban di hadapan Allah Sang Audiensi kita.

Begitulah kira-kira pesan yang saya tangkap dari sang bapak tadi. Beliau memberikan gambaran, contoh nyata kepada kita semua. Bahwa untuk mengajak, memperkenalkan sesuatu, kita pun tidak perlu mendeskripsikannya panjang lebar seperti itu. Cukup dengan bukti nyata akan tindak tanduk kita. Jika mereka tertarik, mereka sendiri yang akan mencari tahu lebih tentang ‘resep dapur’ kita.

Saya sempat membayangkan sesuatu. Singkat kata, begini kira-kira bayangan saya itu. Kira-kira, menurut Kakak-kakak yang budiman dan rupawan, adakah beda antara seseorang yang datang dengan hanya sekadar janji-janji, bercerita itu dan ini, memastikan itu salah dan yang benar ini, dengan seseorang yang datang langsung memberikan teladan. Tangan kanannya membawa kedamaian, sedang yang kiri memberikan kebebasan. Diberikannya kita kebebasan untuk berdialektika mencari kebenaran. Mari kita bayangkan, renungkan, dan rasakan. Semoga ini bisa sedikit memberikan kita gambaran akan bagaimana cara yang baik, benar, dan indah guna mengajak diri sendiri dan yang lain bersama-sama menuju keindahan.

Bayangan ini hadir sesaat setelah mengingat dongengan bapak tadi. Dan gegara dongengan si bapak, saya pun jadi kepikiran lagi. Jangan-jangan selama ini saya diam-diam malah terlena. Bukan hidangan yang saya hadirkan, tapi malah dapur yang saya tonjolkan. Jangan-jangan, di lain sisi saya merasa aneh melihat orang-orang berdakwah dengan mematok pasti kebenaran adalah yang itu dan yang ini salah, tapi diam-diam saya mengkultuskan Maiyah. Saya juga beranggapan bahwa kebenaran dan kebaikan hanya yang ada di Maiyah, sedangkan yang lainnya salah. Saya sok-sokan bermaiyah, padahal saya sendiri sebenarnya belum bisa benar-benar bermaiyah. Jangan-jangan Maiyah saya hanya seremonial belaka, sedang esensinya sendiri saya belum bisa menangkapnya.

Duh Gusti, semakin ke sini semakin banyak saja ‘jangan-jangan’ yang menghantui. Semoga dengan ‘jangan-jangan’ yang bergentayangan ini, setidaknya membuat saya dan kita semua tidak menutup mata dan telinga. Terus saja belajar memperbaiki diri, mensucikan niat dan diri, wudlu berkali-kali, mati dan lahir setiap hari, agar kita bisa belajar menjadi lebih suci dari diri kita yang tadi. Hingga kita pun, pelan-pelan dan sedikit demi sedikit, bisa mendekati dan mendapatkan intisari dari Maiyah itu sendiri.

Seperti yang telah dituliskan Mbah Nun tempo hari. Adalah mereka yang bisa ridla dan tetap belajar berusaha berada di wilayah grafitatif Tuhan, orang-orang yang berhak mendapatkan Maiyah itu. “Meskipun Maiyah adalah mataair yang dicurahkan dari langit ke suatu titik di tanah Indonesia, tetapi ia diperuntukkan hanya bagi hamba-hamba yang di dalam dirinya terdapat jiwa yang segelombang dengan amr dan irodah Maha Ruh sumber mataair itu, melalui garis syafaat kekasih-Nya Muuhammad Saw.” — Mataair Maiyah (Satu dari Sepuluh)

Lainnya

Topik