Catatan Ngaji Bareng Gelar Seni dan Budaya, Lumbungrejo Tempel Sleman 2 Januari 2017

Harapan-Harapan yang Diam-Diam Dicurahkan Lewat Maiyahan

Foto: Adin.

Tak perlu saya gambarkan berulang ihwal banyaknya jamaah atau masyarakat yang datang di Ngaji Bareng, termasuk malam ini. Tetapi ada satu hal barangkali bisa saya tekankan. Bahwa mereka benar-benar mencurahkan perhatian, di mana pun mereka mengambil tempat. Tak terkecuali sebarisan orang yang ada di bawah backdrop panggung atau di bibir panggung bagian belakang.

Perhatian yang konstan dan asik itu rasa-rasanya tak lepas dari harapan mereka akan acara ini. Harapan untuk mendapatkan ilmu, barokah, kegembiraan, pemenuhan batin, wawasan intelektual, dan lain-lain. Dilihat dari sudut ini, betapa berat tugas atau beban yang diberikan kepada Cak Nun dan KiaiKanjeng. Penyelenggara memiliki harapan atau tema sendiri. Individu-individu jamaah yang hadir banyak jumlah itu pun punya harapannya masing-masing. Apakah kabul cita-citanya dalam dagang, karier, jodoh, rezeki, kesehatan, bisa bayar utang, ketenteraman keluarga, atau harapan-harapan lain.

Mampukah Ngaji Bareng ini menjawab atau merespons harapan-harapan itu? Lakukanlah riset. Tetapi, jika tidak, toh kita sama-sama bisa melihat Ngaji Bareng ini berjalan terus di berbagai tempat. Seakan tak ada tanda-tanda akan berhenti. Jamaah yang hadir terus membludak. Komposisi anak mudanya makin banyak. Soliditas mereka kuat. Sedikit banyak, kita bisa menangkap dan merasakan itu isyarat bahwa ada kebutuhan-kebutuhan yang terpenuhi di kalangan jamaah. Sifatnya bisa individual dan bisa pula kolektif-sosial.

Cak Nun punya banyak paradigma dan metode berpikir yang memungkinkan apa yang disampaikan atau dilakukannya dapat menyentuh hati semua hadirin. Saya melihat kekhidmatan terbangun, sesaat kemudian gelak tawa yang terkontrol mencuat atau ekspresi senang dari wajah-wajah jamaah. Cak Nun juga responsif menanggapi sambutan atau paparan Pak Camat dan lain-lain betapapun bobot soal yang diungkapkan cukup berat dan butuh pemikiran.

Salah satunya adalah respons kepada Pak Camat yang memprihatinkan keadaan anak-anak. Anak-anak yang dalam bahasanya adalah kurang kasih sayang. Kurang perhatian orangtuanya. Salah satu outputnya adalah mereka hidup di jalanan dan nglithih atau melakukan kejahatan kepada orang lain.

Secara mendasar Cak Nun mengingatkan bahwa di dalam masyarakat ini ada pembagian tugas. Ada tugas orangtua dan keluarga. Ada tugas masyarakat. Dan ada tugas pemerintah atau negara. Semua harus ditata terus-menerus supaya tidak terjadi saling njagakke. Terjadinya klithih itu tanda mulai kaburnya pembagian tugas itu. Pendidikan itu pertama-tama adalah tugas orangtua atau keluarga. Terutama dalam hal akidah, moral, dan tata krama. Sementara sekolah membantu anak punya pendidikan bebrayan atau bersosialisasi. Dari sini, Cak Nun melengkapinya hingga ke perlunya dewan orang tua atau kasepuhan untuk memantau dan merespons persoalan pendidikan di masyarakat, dan muatan lainnya mengenai tingginya kedudukan keluarga bagi masyarakat.

Foto: Adin.

Tak hanya urusan kognitif-intelektual. Yang berhubungan dengan emosi, rohani, jiwa, dan keindahan sudah pasti diberi ruang dan waktu di dalam Maiyahan. Mungkin di lain forum juga demikian, tetapi yang membedakan adalah bagaimana chemistry dan metode Cak Nun dalam mengatur komposisi dan persambungan nilai di antara keduanya. Kerap kali tak terduga. Pengantar-pengantarnya selalu hidup, karena bukan hafalan, tetapi respons here and now atas apa yang dihadapi Beliau.

Begitulah Syi’ir Tanpo Waton tadi dihadirkan oleh KiaiKanjeng. Juga partisipasi satu nomor dari mbak-mbak kelompok Shalawat yang bawakan Rohatil Athyaru. Dan kehadiran Mas Imam dan Mas Doni yang kali ini baru yang ditembangkannya: Ling-Eling Siro Manungso yang digabung dengan satu nomor Barat.

In the final analysis, kita tahu bagaimana bagus Cak Nun memanage alur dan irama bergulirnya acara. Semuanya ditata selaras seimbang antara pembicaraan dan musik. Antara otak dan hati. Antara kecemasan dan harapan. Termasuk situasi-situasi yang tak terduga. Dan terutama sekali saya merasakan, di luar kemampuan menata dan berkomunikasi, akan Kekuatan Agung yang kepada-Nya Cak Nun bersandar dan mengajak jamaah bersandar pula kepada-Nya, sehingga semua siap menerima datangnya hidayah-Nya yang kerap tak terduga. Semua harapan pun diam-diam atau eksplisit sejatinya dengan penuh rendah hati dikembalikan kepada-Nya. Saya sangat merasakan hal itu di dalam setiap Ngaji Bareng ini. (hm)

Penyelenggara memiliki harapan atau tema sendiri. Individu-individu jamaah yang hadir banyak jumlah itu pun punya harapannya masing-masing.