Bhinneka Tunggal Lintingan

Akan sangat menyenangkan jika kita bisa melihat dan turut merasakan kerukunan. Atmosfer yang terpancar darinya pun sangat mendamaikan. Beban-beban kehidupan seolah terbayarkan saat kedamaian itu masih bisa didapatkan. Adakah yang lebih membahagiakan dari anugerah hati yang selalu didamaikan, dari paseduluran yang saling berusaha menjaga kerukunan. Dan seketika imajinasi ini melayang, membayangkan anugerah ketentraman itu setia membersamai kita hingga akhir nanti, sampai terdengar seruan, “Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati ridla lagi diridlai.”
Berbicara tentang lukisan kerukunan yang warnanya sangat mendamaikan, ini bisa kita temui dalam setiap Maiyahan. Ratusan bahkan sampai ribuan nyawa yang semuanya belum saling kenal berbaur menjadi satu. Lautan manusia itu dengan penuh khidmat menyimak untaian ilmu dan hikmah yang ada di sana. Tertawa lepas, menertawai diri sendiri, betapa sebenarnya problematika yang dihadapi bisa diakali dan disyukuri. Kemesraan membalut tubuh-tubuh anak manusia yang tengah sinau bareng di sana, menjernihkan pikiran dan menata hati bersama.
Berbeda dalam Satu
Untuk menjaga kerukunan tersebut, tentu ada banyak jalannya. JM Maiyah Balitar ini misalnya. Dalam setiap perkumpulan, mereka yang mayoritas kaum adam itu seolah tidak bisa dipisahkan dengan yang namanya rokok, lintingan, mbako, dan segala atribut pelengkap ududan mereka. Di mana ada perkumpulan JM Maiyah Balitar, di situ pula kita bisa berjumpa dengan rokok, tembakau, cengkeh, dan yang sebangsanya.
Di sini juga tak jarang menjadi ajang saling tukar-menukar tembakau. Lalu mereka nglinting (membuat rokok sendiri) bersama. Lintingan mereka pun berbeda-beda. Ada yang dikasih PPO, sejenis minyak angin yang sudah dipakai sejak zaman mbah-mbah kita dulu, ada yang ditambahi rempah-rempah lain, ada pula yang hanya cukup dengan tembakau dan cengkeh saja. Ditemani segelas kopi, mereka pun bisa duduk nggayeng ngobrol ke sana ke sini. Suasana keakraban sangat terasa. Mereka yang berasal dari latar belakang berbeda-beda telah dipersatukan oleh lintingan rokok mereka.
Coba sejenak kita lihat kembali lintingan rokok tersebut. Lintingan rokok yang bisa dibuat dari sek, cengkeh, tembakau itu telah memufakatkan diri untuk bersatu. Mereka saling menyadari posisi masing-masing. Sek yang rela menjadi pembungkus paling luar, tembakau yang di dalam, cengkeh yang menjadi penabur di atas tembakau, semua bekerja sesuai perannya. Tanpa ada rasa iri di antara mereka.
Ada baiknya kita pun belajar pada lintingan rokok tersebut. Si lintingan rokok seolah mengingatkan kita kembali, bahwa dunia ini tercipta dengan beraneka warna dan rupa. Dan tentunya, keanekaragaman tersebut akan semakin ‘besar’ dan kuat saat menyatu saling bahu-membahu. Pun juga dengan kita. Tuhan menganugerahkan kita fadhilah yang tak sama. Kita memang diciptakan berbeda. Tapi, bukankah justru karena perbedaan ini kita bisa saling mengisi peran. Hingga ini akan membantu semakin banyak ‘tugas’ yang terselesaikan. Dan semoga persatuan serta kesatuan ini bisa mengundang kekuatan yang kian memberikan kebermanfaatan.
Senada dengaan itu, Mbah Nun pun menuturkan dalam haluan Maiyah Agustus lalu. “Jamaah Maiyah memacu ‘wala tansa nashibaka minad-dunya’, memperluas dan memperkaya wilayah-wilayah ijtihad keusahaannya, kreativitas produktifnya, inovasi, dan invensinya, berakar dan berpijak pada fadhilah atau bakat atau kecenderungan masing-masing.” Berbekalkan fadhilah atau bakat atau kecenderungan kita masing-masing yang tak semuanya sama, kita dianjurkan untuk bersungguh-sungguh di dalamnya. Bersungguh-sungguh dalam menanam sesuai dengan ladang kecenderungan kita masing-masing. Lagi-lagi masih dalam semoga dan mudah-mudahan, buah-buah dari tanaman kita tersebut setidaknya bisa turut menggenapi nashibana minad-dunya.
Merayu Tuhan dengan Kebersamaan
Berbicara tentang persatuan, entah kenapa tiba-tiba bayangan ini jatuh pada sosok orangtua. Sebagai orangtua, tentu akan senang hatinya saat melihat putra-putrinya berkumpul dalam keharmonisan. Melihat anak-anak yang saling guyub rukun, tentu akan menyenangkan hati siapapun yang melihatnya. Tidak hanya orangtua anak-anak itu saja, bahkan tetangga yang tidak ikut melahirkan ataupun membesarkan pun juga ikut senang melihatnya.
Ketika sosok orangtua sudah senang dibuat anak-anak yang berdamai dalam kebaikan, tanpa segan-segan orangtua akan semakin deras aliran kran pemberiannya. Kasih sayang orangtua yang tanpa batas kepada buah hati tersebut akan semakin mengucur deras saat disentil dengan kerukunan putra-putrinya. Sebesar apapun ongkos yang dibutuhkan untuk menggenapi kebutuhan si anak, orangtua akan mengupayakannya. Bahkan, tak hanya kebutuhan pokok saja yang akan diperjuangkan sang orangtua, kebutuhan tambahan pun juga turut diupayakannya. Diberikan tambahan uang jajan, misalnya. Tiba-tiba si anak dibelikan ini itu karena saking bungah–nya hati sang orangtua.
Dan saya pun membayangkan bahwa Tuhan juga demikian. Meskipun dengan penuh kesadaran telah kita ketahui bersama, bahwa sampai kapanpun Tuhan tidak akan pernah sama dengan makhluk-Nya. Kita tidak akan pernah bisa menyamai Tuhan kita. Hanya saja, ini salah satu ikhtiar saya untuk berusaha memahami Dzat Sang Maha Kuasa, Sang Pemilik jagad raya dan seisinya.
Sebagai pemilik, pengelola, dan penguasa atas apapun tentang kita, saya pun membayangkan Tuhan juga akan sangat bahagia kalau melihat makhluk-makhluk-Nya bersatu, hidup saling berdampingan dalam kerukunan dan kedamaian. Ditambah selama ini Tuhan sangat menganjurkan kita untuk berjama’ah, bersama-sama dalam melakukan kebaikan dan beribadah. Tak segan-segan, Tuhan memberikan iming-iming ganjaran 27 kali lipat jika kita mau berjamaah.
Tak hanya itu, berkenaan dengan kebersamaan dan kerukunan, Kanjeng Nabi pun menyatakan bahwa ada beberapa golongan yang mendapatkan naungan Tuhan di hari kebangkitan. Dan di antara golongan-golongan tersebut, secara tegas disebutkan dua orang yang saling mencintai karena Allah. Bukankah orang-orang yang saling mencintai akan hidup dengan saling berusaha menjaga kerukunan di antara mereka. Orang-orang yang saling mencintai juga akan mengupayakan keindahan kehidupan bersama di antara mereka. Kalau boleh saya menarik garis lurus, mereka yang bersatu dan saling berusaha menjaga kerukunan di atas segala perbedaan karena Allah pun juga termasuk dalam golongan yang mendapatkan naungan ini.
Tentu saja pemberian dan kasih sayang Tuhan tidak hanya terlukiskan sebatas pada dua hal yang disebutkan tadi. Akan tetapi, setidaknya ini bisa menjadi gambaran bahwa betapa Tuhan sangat mencintai kebersamaan. Hingga tak segan-segan Tuhan mengalirkan kasih sayang dengan begitu derasnya kepada orang-orang yang saling menyayangi dalam kebersamaan. Apapun akan diberikan kepada mereka yang disenangi-Nya. Apapun akan disuguhkan kalau Tuhan pun sudah telanjur sayang. Lantas, adakah yang lebih menggembirakan selain katresnan dan kasih sayang Tuhan?