Daur (289)

Zaman Sedang Menangis Darah

Tahqiq : “...Seakan-akan otak manusia berdarah. Hatinya terluka parah. Keduanya menerbitkan cairan-cairan yang menyatu di kantung mata mereka, kemudian menetes, bahkan mengucur. Campur antara airmata dengan darah....”

Di sela-sela pertemuan rutin itu bahkan masing-masing terkadang melakukan semacam kegiatan olahraga yang khas masing-masing. Tujuannya untuk menghimpun tenaga kembali, atau untuk refreshing, atau untuk perpindahan jenis kegiatan, atau memang dimaksudkan untuk memelihara kesehatan.

Tarmihim merenggangkan kaki, menggerak-gerakkan secara bergiliran kaki kirinya kemudian kanannya, tangan kiri kemudian kanannya, dengan jenis gerakan seperti akan melemparkan atau melepas atau seperti akan membuang ujung kaki dan tangannya, dengan menggetar-getarkannya. Termasuk kepala yang seperti akan ia buang dari lehernya.

Sundusin melakukan push up, sit up, menekuk-nekuk badannya seperti karet, menggembung-kempiskan perut dan dadanya seperti balon, menggerakkan jari jemarinya dengan irama yang sangat pelan. Entah metode apa itu. Malahan Ndusin menggerak-gerakkan memutar-mutar bagian depan wajahnya, bibirnya, hidungnya, pipinya, bola matanya, mulutnya.

Sementara Brakodin seperti tidak melakukan pergerakan apa-apa. Ia hanya menekuk badannya ke arah belakang, ditekuk menjadi dua lapis, kepalanya rebah di belakang telapak kakinya. Brakodin bernapas panjang pendek dengan beda-beda irama dengan hitungan-hitungan yang sepertinya terukur. Kemudian malah tampaknya ia tertidur dalam posisi menekuk itu.

Demikianlah, maka berikutnya, dalam suatu pertemuan yang semua pesertanya dalam keadaan segar, Seger mencatat dengan jernih pula uraian Sundusin Pakde mereka. Anak-anak muda itu berbagi untuk mencatat apa saja yang terungkap oleh Pakde Paklik mereka.

Sesuai dengan namanya, Ndusin menguntai dan mengurai buah-buah pikirannya dengan kelembutan sutera. Sundusin bersyukur atas apa yang terjadi dan terus bergulir di Ibukota. Yang disyukuri bukan pertengkaran dan permusuhannya. Bukan keterinjakan dan yang menginjaknya. Yang menjajah dan yang dijajahnya. Yang berkuasa dan mbegugug ngothowaton mempertahankan keberkuasaannya. Juga bukan aura kebencian dan ketahanan cintanya.

Yang disyukuri adalah anugerah Allah kepada hamba-hamba-Nya yang belajar kepada kehidupan dan mempelajari kehidupan. Dan pelajaran hidup dari Ibukota itu bukan terutama pelajaran tentang teks dan bacaan-bacaan. Juga tidak terutama kognitif. Ini pembelajaran dari peristiwa, kejadian, fakta-fakta cinta, keringat dan kebencian. Ini pembelajaran lebih dari sekadar empirik.

Sebab di dalamnya termuat bumi dan langit sekaligus. Dunia dan akhirat sekaligus. Yang tampak dan tersembunyi sekaligus. Yang paling rendah dan tertinggi sekaligus. Yang paling sempit dan luas sekaligus. Yang sangat dangkal dan mendalam sekaligus. Yang parsial dan menyeluruh sekaligus. Tatkala tangan mengepal dan mulut berteriak, bisa dirasakan semua yang melandasinya: aliran darah yang bergejolak, jantung yang sangat berpacu memadatkan waktu, urat saraf yang menegang, kaki yang mengkuda-kuda, iman yang meregang di dalam dada.

Juga rasa terbelah-belahnya kepala oleh gumpalan otak yang berputar-putar sangat kencang, sub-sub gumpalannya bertabrakan satu sama lain, seluruh khazanah pengetahuan, ilmu, pemahaman, penghayatan, pendalaman dan berlapis-lapis makrifat berdesakan dan menciptakan padatan dan cairan. Seakan-akan otak manusia berdarah. Hatinya terluka parah. Keduanya menerbitkan cairan-cairan yang menyatu di kantung mata mereka, kemudian menetes, bahkan mengucur. Campur antara airmata dengan darah.

Zaman sedang menangis darah. Berbarengan terbit sukses pengetahuan ilmu, separsial dan seterserpih apapun. Tapi juga dari gambar besar tertentu tampak sebagai peristiwa gagal ilmu. Akan tetapi harus dicatat bahwa kalau ada tampakan gagal atau sukses ilmu, itu semata-mata untuk pembelajaran internal lingkaran silaturahmi Pakde Paklik dan anak-anak muda.

Tidak berarti lingkaran mereka ini tidak memiliki ekspresi sosial, sikap politik atau pemihakan golongan. Sebab kalau memang ini semua adalah medan perang, justru kewaspadaan yang tertinggi adalah strategi agar pihak yang memusuhi jangan sampai mengerti berapa jumlah pasukan kita, jenisnya apa saja, yang ditampakkan berapa dan yang siluman berapa, dari mana peluru diluncurkan.

Peperangan adalah adu hitungan ruang dan waktu, menghimpun pengetahuan maksimal ke dalam pasukan, dan meminimalisir serapan pengetahuan pasukan musuh tentang kekuatan kita. Ummat Islam atau siapa saja pasti bisa belajar dari kecerdasan ketika Perang Badar, tapi juga kesemberonoan ketika Perang Uhud.