Catatan Tadabburan HUT ke-99 RSUD dr. Iskak Tulungagung, 28 November 2016

Wujud-Wujud Kecil Kebersamaan Indonesia

Wujud-wujud kecil kebersamaan itu telah dihadirkan Cak Nun dalam banyak kesempatan, bergilir dari satu kabupaten ke kabupaten lain.
Foto: Adin.
Foto: Adin.

Tadabburan malam ini diselenggarakan oleh RSUD dr. Iskak Tulungagung dalam rangka hari jadinya yang ke -99, sekaligus dimaksudkan untuk memeringati HUT ke-811 kabupaten Tulungagung. Karena halaman RSUD tidak cukup luas untuk menampung perkiraan jumlah hadirin dan jamaah, maka acara digelar di halaman GOR Lembu Peteng di Jalan Soekarno-Hatta Tulungagung. Perkiraan itu tidak mleset sama sekali. Masyarakat yang datang sangat banyak.

Selepas dari RSUD dan makan malam di Pendopo Kabupaten, Cak Nun, Pak Supriyanto, Setda, Dandim, Kapolres, dan tokoh masyarakat lain bergerak menuju lokasi acara. Di sini orang-orang, khususnya para muda, sudah duduk padat menunggu kedatangan Cak Nun. Tiba di lokasi, Cak Nun dan rombongan langsung naik ke panggung, saat KiaiKanjeng sudah mengondisikan suasana terlebih dahulu dengan beberapa nomor pembuka.

Tidak perlu bertele-tele, kondisi sudah siap. Cak Nun langsung mengajak seluruh hadirin menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Syukur untuk meneguhkan kesadaran rumah besar NKRI. Seturut dengan penjelasan dasar bahwa Tulungagung sebagaimana kabupaten-kabupaten lain jauh lebih tua dari negara Indonesia dan karenanya negara Indonesia menghormati dan belajar darinya.

Sama seperti di beberapa Maiyahan belakangan ini, hujan di sore hari tadi menemani persiapan acara. Panitia telah menyiapkan tenda untuk area di depan panggung hingga ke belakang. Tentu saja tak menampung semuanya. Sebagian harus berada di kuar naungan tenda itu, dan semuanya tak jadi soal, selain karena hujan sudah reda, fokus mereka adalah ngaji bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng dengan perasaan penuh bahagia dan senang. Pak Bupati yang barusan tiba dari Malaysia datang menyusul bersama Wakil Bupati beberapa saat sesudah acara dimulai oleh Cak Nun.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Kepada hadirin Cak Nun menyampaikan bahwa barusan beliau menyaksikan langsung RSUD dr. Iskak, yang bagi beliau merupakan rumah sakit yang fenomenal dan memiliki konstruksi dan filosofi yang tak ada di rumah sakit-rumah sakit lainnya. Rumah sakit daerah yang menurut Cak Nun memiliki kreativitas yang justru belum dilakukan oleh kementerian kesehatan. Fenomenologinya berkelas dunia. Cak Nun meminta Pak Supriyanto untuk mengidentifikasi apa-apa yang merupakan rintisan dan inovasi RSUD dr. Iskak yang tidak ada di tempat lain untuk menjadi ilmu dan pengetahuan bersama bagi hadirin dengan titik berat inilah contoh atau rintisan Indonesia yang semestinya.

Sebelum ke sana, serta sebelum masuk ke tema Tulungagung, jamaah diajak terlebih dahulu khusyuk menghadapkan diri kepada Allah untuk mendapatkan ridho dari Allah melalui doa Ya Allah Ridho yang dilantunkan oleh Mbak Yuli dan serangkaian shalawat yang dipimpin langsung oleh Cak Nun. Suasana khidmat tercipta diantarkan oleh suara Cak Nun yang magi-nya selalu hadir dalam setiap Maiyahan. Suasana yang selayaknya ada dalam kesadaran dan bangunan kebersamaan Indonesia dan perlu dirintis oleh siapapun yang berpikir akan Indonesia. Wujud-wujud kecil kebersamaan itu telah dihadirkan Cak Nun dalam banyak kesempatan, bergilir dari satu kabupaten ke kabupaten lain, termasuk malam ini di GOR Lembu Peteng. Hal-hal yang berkaitan dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat atau rakyat pada segmennya akan mengalir dibincang, diidentifikasi, dan disadari. (hm/adn)