Warung Uncluk Barokah KiaiKanjeng

Waktu adalah sebuah bentangan yang teramat panjang, betapapun secara teknis ia dapat dibagi-bagi ke dalam detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dan satuan atau putaran lainnya. Di dalam guliran waktu itu pula, perjalanan manusia berlangsung, melekat, terekam, dan terkandung olehnya. Baik ia bersifat evolusioner, revolusioner, maupun macam-macam jenis perubahan dan perkembangan. Sehingga, apa yang hari ini tampak di depan mata kita sebagaimana adanya belum tentu sama pada waktu sepuluh dua puluh tahun sebelumnya. Barangsiapa memiliki kesadaran waktu yang kuat, ia akan memiliki kesadaran sejarah. Ia terlatih bertanya semisal: mbiyen-mbiyen piye yo kahanane.

Hari ini kita, saya dan Anda, dapat menyaksikan dan menikmati kebersamaan bersama KiaiKanjeng sedemikian rupa asik, nikmat, indah, dan sampai terkangen-kangen. Panggung yang memadai, alat musik lengkap dan komprehensif sehingga dapat digunakan untuk eksplorasi musikal seluas-luasnya, sehingga membuat musisi Barat menyebut pementasan KiaiKanjeng adalah orkestra. Manajemen penanganan acara-acara pun sudah relatif well organized.

Satu contoh sederhana. Untuk sebuah acara, KiaiKanjeng sudah terjadwal datang pada pagi hari di kota tempat akan dilangsungkan acara itu. Dari pagi hingga sampai siang mereka bisa beristirahat, kecuali ada agenda tambahan. Pada saat mereka istirahat, alat-alat musik memasuki tahap loading, di-set alias ditata, kemudian channeling, sampai tahap penataan sound system. Sorenya para personel sudah bisa cek suara, dan bahkan cek suaranya ini pun sudah dapat dinikmati masyarakat, dari orang dewasa hingga anak-anak.

Jangan Anda bayangkan tertib dan urutan itu dapat terjadi katakanlah dua puluh tahun silam. Pada waktu itu, KiaiKanjeng memasuki suatu fase yang mereka menyebutnya Mini Kanjeng. Dari namanya saja sudah terbayang, jumlah alat musik dan pemusiknya tak sejumlah sekarang. Hanya ada tujuh orang: Pak Nevi, Pak Joko Kamto, Pak Bobiet, Mas Bayu, Pak Is, Mas Yoyok, dan Mas Blotong. Plus satu yaitu Cak Nun sebagai leader. Saat awal-awal Mini Kanjeng itu belum ada yang namanya vokalis. Yang ada Cak Nun memimpin langsung shalawatan-shalawatan.

Segera dicatat juga, saat itu belum ada alat komunikasi yang bernama  handphone, apalagi BB, apalagi Android, WA, lan pinunggalane.

Teknologi telekomunikasi belum berkembang dari telepon rumah dan baru ada yang bernama pager. Koordinasi pun serba terbatas, tak seleluasa sekarang, bahkan tahu harus pergi ke suatu daerah bisa hanya dalam hitungan dua jam tiga jam sebelumnya. Cak Nun mengabari Pak Bobiet, nanti sore bisa nggak berangkat. Pak Bobiet langsung menghubungi teman-temannya via pager. Dan bapak-bapak MiniKanjeng bekalnya adalah siap dan standby. Cepat dan efektif sekali ternyata koordinasi dalam sarana yang terbatas itu.

Generasi sekarang tentunya tak sempat merasakan komunikasi pager ini. Sekadar buat gambaran, seperti diceritakan Pak Bobiet, mekanismenya adalah seseorang yang akan menyampaikan pesan ke seseorang harus menghubungi operator pager. Operator inilah yang akan melanjutkan pesan itu kepada nomor pager seseorang yang dituju.

Di sinilah uniknya, yang standby enggak cuma mereka. Operator pager pun siaga. Ketika Pak Bobiet mengabari salah seorang lainnya, operator nanya, “Sama nomor yang ini dan yang ini?”. “Ya.” Saking seringnya, dia jadi hapal, kalau Pak Bobiet hendak mengabari Pak Joko, pasti juga mengabari yang lain-lainnya. Jadi, tak perlu disebut semuanya, sudah tahu kemana pesan harus disampaikan.

Dalam waktu ringkas akhirnya mereka bertujuh sudah siap berangkat. Naik apa? Jangan bilang bis besar pariwisata. Mereka menggunakan colt L300 sewaan. Mobil jenis ini dirasa cukup besar dibanding mobil lainnya, sehingga dapat mengusung tujuh orang berikut alat- alat musiknya. Ya walaupun seringkali harus umpek-umpekan.

Sesampainya di lokasi setelah menempuh perjalanan, apakah mereka njujug hotel untuk istirahat dulu? Tidak. Yang kerap terjadi, mereka langsung menuju tempat acara. Kadang acara sudah berlangsung, dan Cak Nun sudah berorasi di depan banyak orang.

Sementara bersamaan dengan itu, alat-alat musik baru mulai di-set. Pasti tak ada waktu untuk sesi sound check. Di tengah-tengah ceramah, Cak Nun menoleh ke belakang ke KiaiKanjeng, “Wis siap rek?”. Begitu alat-alat itu sudah tertata, terhubung sound system, barulah Cak Nun mengajak hadirin untuk bershalawat, khusyuk, dan khidmat.

Selepas satu acara, bisa saja KiaiKanjeng langsung berkemas dan pindah ke tempat lain untuk menemani Cak Nun menjumpai masyarakat dengan latar belakang, keperluan, dan tema yang berbeda lagi. Pernah dalam satu malam, KiaiKanjeng melayani acara di tiga tempat hingga subuh.

Demikianlah secuil kecil gambaran KiaiKanjeng pada masa MiniKanjeng. Serba terbatas, tetapi tetap harus cekatan, siap sedia, dan sangat padat jadwal karena ditunggu selalu oleh masyarakat. Masa-masa itu penuh perjuangan dan tantangan, meskipun hingga saat ini pun KiaiKanjeng tetap dalam perjuangan terus-menerus, dengan daya adaptasi yang tak pernah pudar terhadap bermacam-macam keadaan. Pentas dalam kondisi apapun siap. Hujan oke, sumuk tak soal, mati lampu tak kurang cara, bahkan berbanjir ria pernah dijalaninya. Transit di tempat ala kadarnya dan jauh dari kelayakan hingga hotel berbintang juga siap-siap saja.

***

Lalu apa hubungannya dengan warung uncluk? Warung apa itu? Di mana ia berada?

Warung Uncluk adalah salah satu entri dalam kamus perjalanan KiaiKanjeng. Sebuah warung favorit yang harus disambangi setiap kali KiaiKanjeng punya agenda acara di wilayah barat, misal di Jakarta.

Warung ini terletak di kota Ciamis, di areal sebuah SPBU. Bukan warung besar yang menyediakan makan nasi, melainkan warung kecil dengan menu minuman kopi, teh, indomie rebus dan goreng, kerupuk-kerupuk, telur asin, pop mie, dan yang ringan-ringan lainnya. Memang sepertinya dimaksudkan untuk teman rehat sejenak bagi orang-orang yang sedang bepergian jauh.

Warung ini ditemukan KiaiKanjeng di masa MiniKanjeng, pada sekitar tahun 97-an. Sebelum sejarah Indonesia memasuki pergolakan reformasi, tetapi Cak Nun dan KiaiKanjeng sudah menyusur ke pelbagai daerah di Indonesia menyampaikan pesan, pendidikan, hingga indzar-indzar politik kepada masyarakat dan penguasa Orde Baru.

Warung itu tak ubahnya warung angkringan saja, sederhana, dan terkesan miskin, serta tempatnya yang nempel di dekat SPBU yang kala itu juga masih kecil. Sejak mengenal warung ini, KiaiKanjeng selalu ke sana setiap kali melewati Ciamis. Sampai akhirnya mereka akrab dengan pemilik warung itu. Seorang yang datang dari lapisan wong cilik, sebagaimana pedagang-pedagang kecil lainnya. Rupanya KiaiKanjeng memang lebih berjodoh dan krasan berada di warung-warung rakyat, ketimbang restoran-restoran mewah, walaupun tetap bisa menikmati budaya dan tatacara makan di restoran berkelas.

Pemilik warung itu adalah sepasang suami-istri yang barusan menikah. Mereka berdua sehari-hari jualan di warung itu. Kok namanya warung uncluk sih? Di sinilah ahli bahasa otentik nan cepat KiaiKanjeng, yang tak lain adalah Pak Novi Budianto punya kontribusi penting.

Nama Uncluk itu pemberian dia, karena dalam penglihatannya, si istri pemilik warung itu: gaya, lagak lagu, dan cara jalannya ketika melayani para pembeli sedemikian rupa. Sehingga dalam dan oleh taste bahasa Pak Nevi, sangat tepat dan cocok digambarkan dengan istilah Uncluk. Bibir Pak Nevi menyebut berulang-ulang: uncluk uncluk uncluk.

Bibir Pak Nevi mengandung unsur keabadian, sehingga kosakata uncluk-nya itu oleh KiaiKanjeng kontan dipakai untuk menamai warung itu: Warung Uncluk. Pak Nevi memegang copyright-nya. Tentu orang lain tak mengenalnya seperti itu, dan di sana juga tak terpampang deretan huruf: Warung Uncluk. Jadi, ini adalah bahasa internal dan sirr-nya KiaiKanjeng.

Akhirnya warung uncluk kenal dan akrab dengan tujuh orang yang sudah langganan itu. Dan dari situlah, warung Uncluk mengerti bahwa yang sedang mampir di tempatnya adalah rombongan KiaiKanjeng. Sedemikian rupa dekatnya, sampai KiaiKanjeng sendiri enggak sempat nanya siapa nama sebenarnya kedua orang itu.

Kadang-kadang KiaiKanjeng memanggil yang laki-laki dengan Asep, lain kali dengan Dadang. Dan kedua nama tersebut di-oke-i oleh yang dipanggil. Si Asep atau Dadang ini istimewa. Tipikal pembelajar yang baik. Beberapa kali KiaiKanjeng datang ke situ. Pada kunjungan berikutnya dia sudah tidak perlu lagi nanya kepada masing-masing orang KiaiKanjeng mau minum apa. Dia sudah hapal kebiasaan setiap dari mereka. Dia tahu siapa yang suka minum teh panas, kopi susu, jeruk hangat, dan minuman lainnya.

Suatu kali, SPBU itu sedang dalam renovasi. Uncluk terpaksa pindah atau lebih tepatnya agak geser dikit dari lokasi semula. Untung KiaiKanjeng tak kesulitan menemukannya, sehingga tetap bisa mampir di tengah malam untuk sejenak istirahat sembari nyruput kopi, ngudud, atau menikmati indomie. Setelah sekian bulan renovasi, akhirnya Uncluk kembali ke tempat semula.

Ya di SPBU itu. Tetapi kali ini pemilik SPBU itu membangun satu baris kios untuk beberapa warung kecil dilengkapi musholla dan toilet. Rezekinya Asep dan Uncluk, pemilik SPBU itu memasrahkan dan mempercayakan kios-kios itu untuk dikelola Asep. Ia sendiri tak perlu menyewa. Mungkin dia juga tak cukup punya uang untuk menyewa kios baru itu. Akhirnya pasangan suami-istri muda itu kembali di situ dan mengambil tempat di paling ujung, dekat musholla. Tempatnya lebih enak dari sebelumnya. Keadaan menjadi lebih baik bagi mereka.

Anehnya, nasib baik itu mereka yakini merupakan satu bentuk barokah akibat sering didatangi KiaiKanjeng. Berkali-kali ia ungkapkan kebahagiaan dan syukur itu manakala KiaiKanjeng mampir ke situ. KiaiKanjeng tentu segera mengelak, “Ah bisa aja ente Sep…nggak lah”. Tapi Asep alias Dadang tetap ngeyel dan yakin, “Iya…bener, saya yakin.”

Pada mulanya, di komplek kios baru itu, hanya ada dia yang jualan. Baru beberapa waktu kemudian, kios-kios yang kosong itu mulai terisi. Menunya kurang lebih sama seperti Uncluk. Saat itu, KiaiKanjeng datang, dan langsung memenuhi tempat duduk di depan warung Uncluk. Rupanya warung-warung sebelahnya merasa iri. “Kok nggak ada yang ke sini,” gugat mereka dalam hati. Sesungguhnya mereka hanya belum tahu sejarah saja bagaimana Uncluk kedatangan banyak orang itu.

Mata mereka memandang ke arah warung Uncluk dengan sorot mata yang kurang enak serta mencerminkan kecemburuan. KiaiKanjeng cepat menangkap itu, dan dengan cepat pula agar kesenjangan tidak berlangsung lama mereka akhirnya sepakat konsentrasi harus dipecah. Rezeki Tuhan harus merata dibagi. Jadinya, Sebagian di Uncluk, sebagian lainnya menyebar ke beberapa warung di sebelahnya. Salutnya, warung Uncluk tidak sedikit pun merasa gimana-gimana dengan kebijakan ekonomi KiaiKanjeng ini, dan tidak merasa rezekinya berkurang. Itu berlangsung hingga sekarang. Pemerataan ekonomi oleh KiaiKanjeng.

Pada sekian tahun kemudian, tatkala KiaiKanjeng tak lagi mini, jumlah rombongan makin banyak. Dan ada satu orang dari KiaiKanjeng yang Asep atau Dadang ini sangat dekat dengannya. Malam itu, tatkala KiaiKanjeng merapat di warung Uncluk, tiba-tiba dia bertanya, “Pak Dhe mana, Pak Dhe mana?” Pak Bobiet yang mendengar pertanyaan Asep lalu kaget dan baru sadar.

Asep belum tahu kalau Pak Dhe sudah meninggal dunia. Pelan-pelan ia mengabarkan kepadanya. Dan begitu dikasih tahu bahwa Pak Dhe telah dipanggil oleh Allah Swt, Asep langsung shock dan berdiri kaku. Tak  percaya. Terdiam cukup lama. Ya, dialah orang yang dia sangat akrab dengannya. Almarhum Pak Dhe Nuri (Zaenuri) adalah sahabat karib Cak Nun sedari remaja, dan tahun-tahun itu ia setia menemani dan mengawal KiaiKanjeng ke mana saja bepergian.

Sudah bertahun-tahun Asep dan istrinya hidup dari dan menghidupi warungnya. Dari dulu ketika belum punya anak, hingga sekarang anaknya dua dan sudah gede-gede. Dari warungnya dulu ala kadarnya hingga saat ini berada di tempat jauh lebih baik. Dan sepanjang tahun-tahun hingga detik ini, ia masih bersedulur dengan KiaiKanjeng. Puncaknya selalu ia mengatakan, “Ini barokah KiaiKanjeng.”

***

Sebenarnya, bila diingat-ingat, tak hanya warung uncluk yang merasa demikian terhadap KiaiKanjeng. Salah satunya adalah sebuah warung makan di pinggir jalan di daerah Rawalo Banyumas. Warung yang juga menjadi langgangan KiaiKanjeng. Suatu ketika Cak Nun, Bu Via, dan KiaiKanjeng lewat di jalur itu dan berhenti untuk makan di warung itu. Tak dinyana oleh pemilik warung itu bahwa ia kedatangan pembeli istimewa. Kesempatan langka itu benar-benar ia syukuri. Ia dengan penuh rasa hormat meminta izin untuk berfoto bersama Cak Nun dan Bu Via.

Sedemikian istimewanya foto itu baginya, lalu ditempatkannya di dinding di tempat kasir. Tidak dipajang di dinding lain di dekat meja-meja makan bersama foto-foto lainnya. Ini sebentuk ungkapan kebanggaan dan pengistimewaan tersendiri.

Alkisah, pernah ada satu rombongan grup band anak muda yang cukup popular saat itu melintas dan mampir di warung itu untuk makan. Dan pada  saat membayar, mereka melihat foto Cak Nun dan Bu Via yang terpajang di situ. Mereka berkata satu sama lain yang intinya nggak nyangka bahwa mereka makan di tempat di mana kedua orang yang mereka hormati itu juga makan di sini. Lalu mereka mengambil keputusan, pokoknya kalau lewat sini dan saatnya makan, ya harus makan di warung ini.

Dulu warung makan di Rawalo ini juga kecil, tetapi kemudian berkembang, seiring dengan pengunjungnya yang bertambah pula. Tetapi tetap dengan nuansa kesederhanaan. Tidak menjelma menjadi restoran mewah. Dan setiap kali, KiaiKanjeng mengisi “bbm” di situ, si empunya warung selalu ramah menyapa, dan senantiasa menanyakan, “Cak Nun dan Bu Via nggak ikut? Salam untuk beliau berdua ya.” Dan sama persis dengan Asep Uncluk, pemilik warung ini tak bosan-bosannya menyatakan, “Ini barokah Cak Nun, Bu Via, dan KiaiKanjeng.”

Ada satu lagi, tapi bukan warung makan. Melainkan seorang pengrajin batu akik. Sehari-hari dasar di kawasan pusat kota Yogyakarta. Sudah bertahun-tahun ia menggeluti profesinya ini, dan juga sudah sangat lama kenal dengan KiaiKanjeng. Dia punya keyakinan yang dihimpunnya berdasarkan metode titen yang diterapkannya.

Setiap kali orang KiaiKanjeng habis ke tempatnya, entah beli, memoleskan batu, atau sekadar ngobrol saja, pasti setelah itu dia akan dapat rezeki. Batu-batunya akan laris. Itu sering dikatakannya kepada Pak Bobiet. Suatu hari selepas Pak Bobiet ke toko pengrajin akik itu, lha ndilalah kersaning Allah, kok ya dia kepayon akik dengan transaksi satu kali itu sebesar dua puluh tiga juta. Mendengar pengakuan itu Pak Bobiet cuma bisa geleng-geleng kepala tetapi dengan muatan turut bersyukur ada teman dapat rezeki. Sekali waktu, peristiwa itu diceritakan oleh Pak Bobiet kepada Pak Joko Kamto.

Mari kita lihat, apa yang dilakukan Pak Joko kemudian? Iya, pasti dia penasaran dan lalu menyempatkan diri main ke tempat pengrajin batu itu untuk memastikan dan konfirmasi apa benar yang dikatakan sahabatnya itu. Ia pun mendapat jawaban positif, dan belum lama Pak Joko berada di situ, kok ya berdatangan orang-orang ke situ. Ramai jadinya tempat itu. Batu-batunya terjual banyak. Lebih banyak dari biasanya. Sedemikian rupa sehingga si pedagang mujur itu tak sempat melayani Pak Joko, dan diam-diam Pak Joko meninggalkan tempat. Kata Pak Bobiet mengomentari, wong Pak Joko cuma mau ngecek kebenaran informasi saja, kok malah (diyakini) memancing datangnya rezeki dia lagi. Lha lha.

***

Stop. Antum-antum alias anda-anda yang berhaluan modern nan murni jangan protes sama KiaiKanjeng sejak dalam pikiran. Wong KiaiKanjeng enggak bilang dan klaim apa-apa. Itu mereka punya kesimpulan sendiri.

KiaiKanjeng cukup terlatih menjaga diri, waspada pada setiap gejolak rasa dan hati, dan terutama sekali selalu mengembalikan sesuatu, pengalaman, atau apa saja pada kesadaran tauhid. Tak boleh ada rasa yang tidak pas mendengar pengakuan orang-orang itu. Mereka jauh dari merasa pantas untuk disebut alim, sebaliknya mereka justru sadar akan kelemahan-kelemahan diri sehingga terpacu untuk lebih baik dan lebih baik dalam proses pematangan yang tak pernah berhenti. Mereka pun bukan sekumpulan orang dengan potongan penuh simbol-simbol kealiman.

KiaiKanjeng berusaha mengelak dan melupakan pengakuan-pengakuan itu. Lagi pula toh itu pengakuan Asep dan dua orang lainnya lagi itu. Mereka punya hak untuk menyatakan dan menyimpulkan atas apa yang dirasakannya. Tetapi KiaiKanjeng pantang memasukkannya ke dalam hati terlalu dalam sehingga berpeluang merusak kondisi keimanan di hati mereka. KiaiKanjeng paling jauh hanya merasa bahwa mungkin ini sekadar terisinya kekosongan sosiologis yang kebetulan KiaiKanjeng yang dipilih/terpilih menjadi petugas pengisinya. Kekosongan yang seharusnya diisi oleh pemimpin-pemimpin masyarakat.

Maksudnya, seharusnya Uncluk dan kawan-kawan merasakan hal yang sama ketika disambangi oleh pemimpin atau pemuka masyarakat yang lebih seharusnya dan sepatutnya. Tetapi mungkin itu belum terjadi, atau para pemimpin jarang mendatangi mereka. Atau Asep dan Asep-Asep lain tak ada di dalam hati para pemimpin itu. Atau jangan-jangan malah belum ada dan tegak kepemimpinan yang sungguh-sungguh sehingga bisa dirasakan sampai ke bawah, di tempat Asep berada. Ataukah, ataukah, dan ataukah.

KiaiKanjeng tak mau larut berboros tenaga meneruskan pemikiran dan imajinasi seperti itu, dan memilih mengembalikan konsentrasi untuk terus berjalan melayani masyarakat dari satu tempat ke tempat lain, dari satu daerah ke daerah lain, menanam benih-benih kebajikan, dan ini yang tak boleh dilupakan: tetap mampir ke warung Uncluk.

Biasanya, KiaiKanjeng tiba di warung itu sesudah tertidur beberapa jam di perjalanan. Waktu pun sudah tengah malam, mata masih agak mengantuk, tapi pikiran tak berkurang semangat karena sudah pingin nyuruput-nyruput kopi, sehingga Pak Nevi dan kawan-kawan jalan kakinya menuju warung itu pun pada uncluk uncluk uncluk….

(Yk, 1 April 2016)