Daur (55)

Wali Negeri Khatulistiwa

Sesungguhnya sudah bulat hati Markesot: nanti tepat tengah malam ia akan pergi mencari Kiai Sudrun, menelusuri jejaknya terserah sampai ke mana, tapi harus ketemu.

Tak peduli ia harus menembus gelombang apapun, menunggangi malam atau siang, menjejakkan kaki di koordinat waktu di depan atau belakang. Tapi wajib ketemu. Kali ini tidak bisa tidak.

“Kalau saya harus menyeberangi lautan untuk menemukan Kiai Sudrun, tujuh samudera akan saya arungi”, tekad Markesot, “tetapi berhubung saya tidak bisa berenang, maka saya akan bernegosiasi dengan laut, agar semua lautan bersedia untuk tidak rewel kalau saya lewati mereka tanpa berenang”

Kalau ingat hal rembug dengan laut ini Markesot tertawa sendiri. “Banyak orang terkagum-kagum kepada kisah tentang orang berjalan di atas air. Banyak tokoh bangsa Dayak ketika Perang Sampit melaju dari berbagai arah berkumpul di suatu tempat arah utara barat Sampit, banyak di antara mereka tidak menyeberangi sungai-sungai besar dengan perahu, melainkan dengan berlari di atas air”.

***

“Ada legenda tentang Ibu Maliàh yang dondom atau menjahit pakaian dengan jarum benang di dek sebuah kapal yang akan mengantarkan ratusan jamaah haji. Pak Kiai mengantarkan santri-santrinya sampai memasuki kapan. Dijumpainya si Ibu Maliàh sedang mengucapkan kalimat-kalimat wirid sembari dondom. Pak Kiai mengingatkan Maliàh bahwa makhraj dan tajwid ucapannya banyak yang salah. Maliàh langsung berhenti wiridan. Ketika Pak Kiai sudah kembali ke pelabuhan di pantai untuk nguntapke kapal melaju, tiba-tiba ada orang terjun dari kapal, berlari di atas air, menuju Pak Kiai. Orang itu langsung bertanya kepada Pak Kiai: Pak Kiai, Pak Kiai, Sampeyan tadi belum mengajari saya bagaimana wirid yang benar…”

“Ternyata orang itu adalah Maliàh. Pak Kiai langsung pingsan”.

Markesot selalu tersenyum ketika teringat kisah-kisah yang orang menyimpulkan itu kisah sakti. Padahal itu soal keakraban persaudaraan dengan alam. Itu soal tawar-menawar, saling murah hati di antara manusia dengan alam. Sepertinya itulah gunanya Tuhan menentukan di antara para Rasul dan Nabi, terdapat Baginda Raja Sulaiman.

Bahkan karena Markesot tidak berenang, ia mengupayakan semacam pengumuman yang meminta, mengimbau, atau kalau terpaksa ya memaksakan, agar semua makhluk penghuni laut dari jenis apapun, menyepakati suatu permakluman untuk membiarkan Markesot melintasi samudera dengan sarana apapun saja.

Dengan kapal, perahu, jalan kaki dan berlari di atas permukaan air laut, menaiki kuda setengah terbang, mesin kecepatan, alat strategi lintas ruang, teknologi peringkas jarak.

Atau mungkin tidak menggunakan semua itu. Terserah Markesot. Toh ia tidak mengganggu kenyamanan hidup dan keamanan lingkungan perkampungan maya serta walayah gelombang di mana para makhluk itu bertempat tinggal. Ia cuma mau ketemu Kiai Sudrun.

Tidak tertutup kemungkinan Markesot tidak melangkahkan kaki. Bahkan tidak pun berdiri. Tak pula duduk bersila. Malahan mungkin berbaring saja. Melintasi lautan yang terbentang dan hutan belantara yang terhampar di alam semesta dalam diri Markesot sendiri.

Sesekali mampir singgah di dalam mimpi orang-orang yang tidak mempercayai apa yang ia lakukan. Markesot hadir dalam mimpi-mimpi mereka dan menuturkan sejumlah gangguan atau godaan.

Terserah Markesot. Main transformasi-deformasi, pemadatan-pemuaian, kasat mata tak kasat mata, menyatai maya memayai nyata, biarkan saja. Yang penting ia mau ketemu Kiai Sudrun.

***

“Mana Kiai Sudrun ini?”, jiwa Markesot meronta.

“Mana Wali Qutub Negeri Khatulistiwa?”

“Wabah penyakit tiada tara. Maut tak bisa ditunda, tetapi kehancuran mungkin bisa dilompati…”

Tak kan berhenti Markesot sebelum menemukan Kiai Sudrun. Andaikan pun untuk itu Markesot harus melintas planet-planet, pun galaksi-galaksi kalau memang diperlukan, atau memergoki Kiai Sudrun di pojok-pojok perkampungan Jin, di perpustakaan digital di hutan-hutan, mengejar persembunyiannya di ke dalam setetes embun.

Markesot akan mengajukan pensiun dini dari penugasan di Bumi, kalau Negeri Khatulistiwa dibiarkan terus tanpa penjaga. Tanpa penyangga arasy. Tanpa pengawas. Tanpa pengontrol. Tanpa pemelihara keseimbangan. Tanpa orang-orang tua yang berentang tangan dalam rahasia. Tanpa hikmah Leluhur. Tanpa pelaksanaan amanah Auliya.

Sudah terlalu cukup bagi Markesot dan sudah usai usia kesabarannya untuk menyaksikan rakyat Negeri Khatulistiwa terkatung-katung menjalani darma zaman dengan bekal kebutaan batin dan ketulian rohani. Markesot tidak sanggup membiarkan terlalu lama masyarakat Negeri Khatulistiwa tenggelam dalam kegelapan dan kegelapan tentang tiga hal: Kepemimpinan, Ukuran dan Kemunafikan.

Krisis Kepemimpinan.

Kehilangan Ukuran-ukuran.

Dan menyempurnanya Kemunafikan.

***

“Kenapa tujuh belas Gardu Penjagaan Khatulistiwa kosong tanpa penjaga hampir dua puluh tahun terakhir. Ke mana para Wali? Lari dan bersembunyi di mana Wali Qutub-nya? Mana formasi koordinator regional penjagaan Negeri Khatulistiwa?”

“Kalau tidak ada kepemimpinan di Langit Keempat, yang meresonansikan hidayah dan mendistribusikan nilai, tidaklah adil untuk mengharapkan ada kepemimpinan di Negeri Khatulistiwa yang berada di langit bawah kepengasuhannya. Ke mana ini Kiai Sudrun?”

“Sampeyan ini Pemuka Regional Kaum Wali. Sampeyan bukan hanya zuhud, istiqamah ajeg permanen pada kepatuhan kepada Allah, diperkenankan untuk melakukan hal-hal yang tidak biasa”

“Sampeyan membawahi aparat-aparat dan staf-staf untuk melaksanakan tugas menjereng bumi yang bulat menjadi seperti tikar raksasa. Sampeyan dipasang untuk berhak turut memusyawarahkan proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan pemanasan suhu permukaan Bumi, mengatur panas dinginnya gunung, mengendalikan angin, mendistribusikan asap, pergerakan lempengan-lempengan Bumi, menakar keharusan gempa, mempergilirkan letusan gunung-gunung”

“Ataukah Sampeyan sedang sibuk membantu para Malaikat mengangkat Arasy, untuk ditata kembali karena ada rencana reformasi kemakhlukan dari Tuhan? Atau Sampeyan sedang bersujud di Langit Keenam, menunggu sertifikasi qudroh sebagaimana yang dianugerahkan kepada Guru Besar Khidlir? Izin Allah untuk berdasarkan pengetahuan tentang putaran waktu dan makrifat bergulirnya zaman, Sampeyan boleh mencekik atau memuntir leher sejumlah Pemimpin di muka bumi, utamanya di Negeri Khatulistiwa?”

“Bukankah Tuhan Maha Tak Terperi Ilmu-Nya dalam kemaha-andalan membagi tugas kepada para staf dan makhluk-makhluk-Nya? Bukankah Rasul Pamungkas saja pun tak memperoleh perkenan sejumlah hal yang Tuhan perkenankan kepada Baginda Khidlir?”

“Apakah kali ini ada rancangan khusus?”

“Perkenan untuk membocorkan Kapal Tanah Air, mengganti Nakhodanya, menyusun aturan-aturan baru, bahkan membikinkan Kapal baru karena yang ada sekarang sudah tidak mungkin berlayar tanpa bergoyang dan berguncang? Kemudian Sampeyan tegakkan Pagar Zaman itu, menguak masa silam, menggali kekayaan simpanan, untuk menyiapkan kesejahteraan bagi anak-anak cucu-cucu bangsa Negeri Khatulistiwa ini yang kekayaan buminya dikikis habis oleh Bapak-Ibu dan Kakek-Nenek mereka?”

Inilah saat-saat Markesot menjadi cengeng dan sangat tertekan oleh dirinya sendiri. Markesot tenggelam oleh banjir yang berasal dari aliran dan kucuran airmatanya sendiri.