Daur (206)

Wali Kok Sedih

Ta’qid : “Pinandito? Siapa paham itu di zaman sekarang? Pendeta di Gereja? Pandito di kuil tempat pemujaan? Pinandito, dipendetakan, oleh siapa? Oleh ummatnya, yang tidak pernah sanggup memilih pemimpin sepeninggal Nabi mereka? Oleh rakyat, media massa, media online, media sosial?”

Pagi itu Markesot bangun pagi dengan hati yang sangat lumpuh, badan pegal-pegal, pikiran dikepung dan terbentur tembok-tembok, penglihatan ke depan yang penuh kegelapan, serta penglihatan kepada dirinya sendiri yang ternyata lebih gelap lagi.

Yang dimaksud bangun pagi adalah sesudah tidur di tikar bakda shalat Subuh. Semalaman Markesot pergi, terbang, mobat-mabit, kopat-kapit, kabur kanginan, kesandung kesampar… Dulu Markesot tertawa untuk situasi-situasi diri semacam itu. Tapi ternyata sekarang di kandungan tertawanya ada semacam gumpalan duka atau percik-percik derita dan rasa sengsara.

Di dalam khazanah cita-cita bangsa yang ia terselip di tengahnya, ada semacan khazanah mimpi masa depan, yang di dalamnya terdapat wacana-wacana penuh halusinasi subjektif: Satrio Piningit, Satrio Pinilih, Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu, Satrio Kesandung Kesampar, dan macam-macam lagi.

Dulu Markesot selalu tertawa oleh itu semua. Karena jelas ia bukan Satrio. Kalau dia Piningit, siapa yang memingitnya, apa perlunya memingit Markesot, memang apa yang hebat sehingga ia harus disembunyikan. Kalau dia Pinilih, siapa yang menjalani kebodohan zaman untuk memilihnya. Dipilih untuk apa, untuk menjadi siapa dan mengerjakan apa. Pemilihan yang terjadi berlangsung dari langit sebagaimana yang dialami para Nabi, Rasul dan Wali-wali, ataukah pemilihan umum, Pilpres, Pileg, Pilkada, Pilkades, di mana Markesot harus menawar-nawarkan dirinya dan menunjukkan kebaikan serta kehebatannya.

Pinandito? Siapa paham itu di zaman sekarang? Coba tanyakan kepada kumpulan anak-anak muda sekarang, kenapa dan bagaimana dari Pandito menjadi Pinandito. Dari Pingit menjadi Piningit. Dari Buldozer menjadi Binuldozer. Bahkan di forum-forum cendekiawan mereka mengucapkan kalimat “Saudara-saudara, sungguh bersedih kita kehilangan seorang tokoh anak bangsa…”. Atau “malam ini kita kedatangan seorang tamu istimewa”

Bagaimana itu nalar kata, logika bahasa dan tatanan kalimatnya? Kata “kehilangan” di situ diambil dari bahasa Jawa “kelangan”. Juga “kedatangan” dari “ketekan”. Tidak ada masalah mengadopsi kata atau idiom atau fungsi gramatikal dari bahasa lain. Tetapi perlu dirumuskan ketetapannya di dalam bahasanya sendiri yang disepakati untuk dipakai bersama.

Pinandito? Pendeta di Gereja? Pandito di kuil tempat pemujaan? Pinandito, dipendetakan, oleh siapa? Oleh ummatnya, yang tidak pernah sanggup memilih pemimpin sepeninggal Nabi mereka? Oleh rakyat, yang pekerjaannya selalu salah pilih pada setiap pemilihan? Oleh media massa, media online, media sosial, yang pelaku-pelakunya memilih berdasarkan trending topic, selera, rekayasa mikrofonik, egosentrisme kelompok-kelompok, serta “la yadri wa la yadri annahu la yadri”?

Markesot Waliyullah? Hahahaha. Tengu, kepinding, gathul, piyik, tobil, gudel dan percil-percil mana yang tidak tertawa mendengar itu? Markesot sejak dulu sering tidur di kuburan-kuburan, di gerumbul-gerumbul hutan, di tepi-tepi sungai yang jauh dari kota dan desa. Beberapa temannya bercengkerama: “Memangnya Cak Sot jaga sungai, jogo kali, supaya kita menganggap dia pewarisnya Kalijaga sang Sunan?”

Ketika zaman dulu Markesot sangat rajin bermalam-malam di kuburan, dan itu pun sekenanya kuburan, bukan misalnya makam-makam terkenalnya Sunan Ampel, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Pagerwojo, Pesanggrahan Cetho atau manapun — suatu saat Kiai Sudrun berpesan lewat temannya: “Bilang kepada Markesot yang sedang khusyu’ di kuburan-kuburan liar, kalau dia sudah jadi Wali tolong lapor ke saya…”

Ketika itu Markesot campur-campur responsnya. Ada tersinggung, ada menikmati, ada pemahaman dan pemafhuman. Tapi itu semua tereliminasi oleh labirin-labirin detail dan keluasan nilai-nilai perhubungannya dengan Kiai Sudrun. Tapi kalau yang pesan omongan seperti itu adalah Saimon, kemungkinan besar mereka berkelahi. Kalau teman-teman Patangpuluhan yang berani omong seperti itu, apalagi kalau pas hati Markesot tidak lapang, bisa terjadi sepoto.

Padahal sebenarnya siapa saja yang mengakselerasikan nilai Tuhan ke proses kehidupan manusia, dia adalah wali-Nya. Pihak yang meneruskan penerapan nilai-Nya. Seluruh perangkat jagat raya, muatan alam semesta, benda, planet, matahari bumi bulan planet-planet, galaksi-galaksi, laut, gunung, batu dan tetumbuhan — adalah pelaksana-pelaksana syariat Allah. Mereka berposisi Wali juga.

Hanya manusia dan Jin yang diberi kemerdekaan: mewalii Allah atau mengingkari-Nya, mengislami Allah atau mengkafiri-Nya, menyetiai Allah atau mengkhianati-Nya. Itu Wali dalam arti umum, universal. Adapun Wali dalam arti khusus, berkaitan dengan derajat taqwa dan kedekatan dengan gelombang Allah, berkonteks Walayah di resonansi Nubuwah dan Risalah — Markesot seratus persen tidak memenuhi syarat. Yang lebih elementer: Markesot tidak lulus disebut Satrio, apalagi dengan maqamat piningit, pinilih, sinisihan wahyu…

Pasal yang Markesot sangat gagal secara hampir sempurna adalah “Sesungguhnya Wali-wali Allah adalah hamba-hamba yang tidak perlu dikhawatirkan (oleh siapapun dalam hal apapun) dan mereka sendiri tidak bersedih…

Sedangkan Markesot sekarang ini sedang tenggelam di dasar lautan kesedihan hati yang sangat mendalam.