Daur (125)

Visi-Misi Iblis

“Mon”, kata Markesot, “Saya bermurah hati memberimu tangguh beberapa jenak lagi untuk mengoceh dan mengigau, sebagaimana Tuhan memberikan tangguh kepada Buyut Iblis sampai Hari Kiamat. Silakan diteruskan. Tetapi kamu tidak punya hak apa-apa terhadap reaksi saya, apakah saya setuju atau tidak, itu bukan urusanmu”

Saimon menjawab, “Saya juga tidak peduli pada reaksimu. Saya sedang menikmati pengangen-angen saya tentang penderitaan Iblis”

“Hahaha… penderitaan Iblis”, Markesot tertawa dan menyahut.

“Iblis melampiaskan curahan hatinya kepada Baginda Muhammad, awal cahaya dan pionir segala makhluk sesudahnya:

“Hampir tak tersisa sesuatu di Bumi
Yang tidak dirusak oleh manusia 
Bumi, tanah, hutan, gunung, air
Terutama diri mereka sendiri
Mereka heboh menciptakan kesehatan 
Yang membuat jasad mereka makin sakit-sakitan
Iman membuat mereka terkurung dalam kesempitan
Dan untuk itu semua wahai Bagindaku Muhammad
Aku yang mereka salahkan
Padahal terus terang aku sudah berhenti menjalankan tugas ini
Sejak berakhir masa jabatan Baginda Muhammad di Bumi
Sebab bagi hakikat jiwaku yang Allah anugerahkan
Untuk apa menetap di Bumi jika tak ada Baginda padanya
Dulu awalnya aku menolak Adam di Bumi
Karena rasa putus asa oleh manusia-manusia sebelumnya
Tapi tatkala Allah menurunkan ruh-Nya berupa Baginda
Yakni Muhammad yang keindahannya luar biasa
Aku menjadi jenak dan merasa nikmat bertugas di Bumi
Tetapi ketika kemudian Baginda dipindah-tugaskan
Apa lagi di Bumi ini yang bisa diandalkan
Di dalam bercinta tak ada yang melebihinya
Di dalam silaturahmi tak ada lagi yang kusegani
Jika harus bertempur hanya Baginda yang tak ada tandingan
Sehingga kini aku tidak perlu melakukan apa-apa lagi
Wahai Baginda Muhammad cahaya bergelombang cahaya
Hanya Baginda yang satu-satunya yang dipandang oleh Allah
Hanya Baginda yang bisa menolong hamba
Hanya Baginda yang berhak memohonkan kepada-Nya
Agar tugasku yang penuh kehinaan ini diakhiri saja
Semua kerusakan di bumi tak memerlukan hamba
Sedikit saja nafsu manusia sudah berlebihan
Untuk pada suatu saat membuat bumi ini luluh lantak
Sesungguhnya hamba sangat mencintai manusia
Dan cintaku kepada mereka hanya bisa
dikalahkan
Oleh takjubku kepada Tuhan dan kagumku kepada Baginda
Tetapi tak henti-henti mereka menghina Tuhan
Terus-menerus mereka mempersaingkanku dengan Tuhan
Menyangka aku memiliki susunan kekuatan
Dan
kekuasaan yang mampu menandingi Tuhan
Wahai Baginda pangkal segala keindahan dan kemuliaan
Aku ini Iblis, hamba ini Iblis
Sepenuh-penuhnya berada di dalam genggaman kuasa Allah
Inniii akhooofulloooh
Sebenar-benarnya aku takut kepada-Nya
Sedalam-dalamnya aku patuh kepada perintah-Nya….”

“Pada suatu hari”, Saimon bernarasi, “Satu Malaikat diutus oleh Allah untuk menemui Iblis. Menyampaikan perintah agar Iblis pergi sowan kepada Baginda Nabi Muhammad. Dan kewajiban Iblis dalam pertemuan itu adalah untuk membeberkan semua rahasianya, strategi akulturasinya, sistem sosialisasinya, serta peta rancangan peperangannya terhadap manusia”

Saimon kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Markesot masih tetap bersabar atas perilaku sahabatnya itu.

“Bagaimana mungkin”, Saimon melanjutkan, “Manusia yang katanya dianugerahi keunggulan akal, tidak berpikir logis terhadap kejadian itu”

“Apa maksudmu?”, Tanya Markesot.

“Hubungan apa dan dengan nilai bagaimana sebenarnya yang ada di antara Allah dengan Iblis?”

“Kamu tanya kepada saya atau kepada manusia?”

“Kepada manusia”

“Kalau begitu silakan dijawab sendiri, sebab manusia sangat sibuk membangun Dunia, sehingga tidak punya waktu untuk mengurusi pertanyaan-pertanyaan seperti itu”

“Kalau Iblis adalah pendurhaka kepada Allah, bagaimana mungkin Allah memberinya perintah dan Iblis mentaatinya?”

“Jawab sendiri”

“Kalau memang Iblis adalah musuh Allah, sehingga juga merupakan musuh Muhammad dan ummat manusia, kenapa Iblis bersedia disuruh Allah membukakan kepada Muhammad rahasia-rahasianya untuk menghancurkan manusia?”

“Jangan menyangka itu kebenaran yang terbenar”

“Kalau memang di dalam hati Iblis terdapat niat untuk menghancurkan manusia, kenapa ia mau membuka rahasia strategi penghancuran manusia yang dirancangnya? Bukankah itu merupakan ancaman yang bisa menggagalkan visi-misinya?”

“Jangan berpikir bahwa yang kamu ungkapkan itu tak terbantahkan”

“Kalau sewaktu-waktu Allah bisa memanggil Iblis, memberinya perintah, kemudian Muhammad pun menerima sebagai tamu yang akan menolong ummat manusia dengan menguakkan cara-cara bagaimana manusia dihancurkan, apakah itu suatu peta permusuhan?”

“Ya. Sepanjang belum kau temukan kebenaran berikutnya”

“Kalau memang Iblis adalah musuh Tuhan, Muhammad dan ummat manusia, kenapa manusia yang penuh keterbatasan dan kelemahan yang dilepas untuk melawan kedahsyatan Iblis? Kenapa Tuhan tidak menumpasnya saja? Atau Muhammad meladeninya saja langsung, duel face to face, dan pasti Muhammad yang akan keluar sebagai pemenangnya?”

“Sesekali coba itu semua kamu jawab sendiri”

“Saya tidak butuh jawaban”, kata Saimon, “Saya hanya ingin menikmati tidak bergunanya akal manusia.”