Reportase Maiyah Dusun Ambengan Februari 2016

Valentine Petani – Kasih Sayang, Kedaulatan Pangan

Kasih sayang yang melimpah ruah di perdesaan dan dimiliki para petani agar orang-orang kota tidak kelaparan.

Gelombang kebaikan, termasuk kasih sayang yang dimiliki para petani, bisa menular. Mewabah semacam virus serta mengetuk batin setiap orang untuk tergerak, mendatangi majelis Maiyah Dusun Ambengan. Meski letaknya di pelosok Lampung, beberapa orang dari segala penjuru mulai tergerak hadir.

Ada yang dari Kabupaten Tanggamus, Bandarlampung, Lampung Selatan, dan Lampung Tengah.  Beberapa jamaah yang dari jauh itu bahkan sudah sampai dan jagongan lebih dulu dibanding warga sekitar, ketika Mas Safiq dan penggiat Ambengan lainnya mentartilkan Al Quran Surat Ar-rahman dan Al-waqiah.

Cuaca mendung sejak sore sebenarnya sedikit membuat gentar para punggawa Rumah Hati Lampung. Sebab, kajian yang bertema Valentine Petani itu tidak ada lagi tenda yang dipasang seperti Maiyahan bulan lalu. Jamaah hanya ngampar beralas terpal dan beratap langit. Namun semua terlihat, tak sedikit pun khawatir jika hujan turun. Sebagai orang kampung dan berprofesi sebagai petani, mereka justru menilai hujan adalah anugerah. Jika tiba-tiba hujan, tinggal berteduh ke dalam rumah.

Valentine Petani - Kasih Sayang, Kedaulatan Pangan, Maiyah Dusun Ambengan
Valentine Petani

Mas Dikin memulai dengan mengajak jamaah berdiskusi terkait asal, dari mana tahu Maiyah Dusun Ambengan. Beberapa anak muda berseragam hitam, memang terlihat baru sekali hadir dalam majelis. Mas Dikin banyak mendedah dari mana tahu dan tergerak untuk datang ke Ambengan.

Para pelajar dari SMK Gajah Mada, Bandar Lampung, jurusan Teknik dan Jaringan Komputer (TKJ) itu bahkan dijadikan bahan candaan, apakah akan menanam komputer di tengah sawah.  Sebab, tema kali ini adalah pertanian.

Namun demikian, pelajar-pelajar itu asyik sendiri untuk menikmati majelis dengan versi mereka, bahkan telah secara lengkap disiapkan sendiri dengan membawa satu tas berisi snack dan berbagai peralatan elektronik lain. Yakni, mereka terlihat sibuk mengambil foto-foto, belajar merekam, termasuk membawa berbagai peralatan aneh-aneh. Ternyata, mereka punya cita-cita, agar Ambengan bisa dinikmati secara luas masyarakat Lampung, khususnya anak-anak muda. Salah satu caranya, lewat streaming.

Acara itu kemudian memberi ruang untuk semacam laporan kegiatan sub-sub kegiatan dalam pendampingan di bawah naungan Maiyah Dusun Ambengan. Seperti Komunitas Pendonor Darah Gratis (MonitorArtis). Gerakan membantu donor darah gratis yang dikomando Mas Cipto, dibantu relawan BPJS yang digarap Pak Narto, dan Sepakbola Cinta Asah Talenta Muda (Astama) yakni SSB anak yang digawangi Mas Sukandar. Semua kegiatan yang sifatnya pelayanan pada warga desa itu, benar-benar lillahi ta’ala. Tanpa pamrih dan beban biaya apa pun jika ada warga yang membutuhkan bantuan. Menjadi komitmen jamaah Maiyah untuk menabur kabajikan, menanam kebaikan dan hidup dalam naungan kasih sayang.

Tepat jam 20.00 WIB, Kepala Dinas Pertanian, Holtikultura dan Ketahanan Pangan Lampung Timur, Pak Yusuf hadir, disusul kemudian Pak Anang Prihantoro (anggota DPD RI) bersama Pak Surono Danu. Bukan itu saja, ternyata majelis Ambengan juga didatangi Ketua Dewan Kesenian Lampung Timur, Mas Eko, dan Paus Sastra Lampung, Isbedy Setiawan ZS, yang baru menerbitkan dua buku puisi November Musim Dingin dan Melipat Petang ke dalam Kain Ibu pada Februari 2016.

Dilanjutkan dengan mukadimah oleh Syamsul Ariefin. Cak Sul lalu mengkidungkan suluk bertema pertanian. “Petani adalah metani, orang-orang gondrong semacam saya dan Pak Surono, perlu petan untuk mencari kutu. Petan itu perlu ketelatenan, ketekunan, dan luapan cinta. Kasih sayang yang melimpah ruah di perdesaan dan dimiliki para petani agar orang-orang kota tidak kelaparan,” kata Cak Sul yang terus dilanjutkan membawakan midle shalawat Assalamu ’alaika dan Sidnan Nabi versi Jamus Kalimasada yang diadopsi dari Kiai Kanjeng.

Sentuhan musik dan paparan mukadimah tentang kasih sayang para petani di desa, menjadi pemantik diskusi yang mengejutkan. Terutama ketika Pak Surono Danu, tokoh pertanian yang disebut Cak Sul, sebagai petani sukses, mampu menciptakan bibit berkualitas dan menemukan berbagai hama serta cara mengatasinya secara ilmiah namun badannya masih kurus, kerempeng dan terlihat miskin.

Ketika tampil, secara mengejutkan, Pak Surono yang mengenakan jaket merah itu meminta yang mengaku aktivis dan para petani, menyanyikan lagu “Serumpun Padi.”

Tidak ada yang bisa. Pak Surono Danu terus mengulang kalimatnya. “Ayo yang mengaku aktivis dan petani, nyanyikan lagu wajib para petani, Serumpun Padi.”

Valentine Petani - Kasih Sayang, Kedaulatan Pangan, Maiyah Dusun Ambengan
Valentine Petani

Setelah mengulang tiga kali, tiba-tiba suara mengejutkan dari dalam rumah, tempat para ibu-ibu sibuk menyiapkan hidangan. “Saya bisa, Pak,” suara itu segera diminta maju oleh Pak Surono, diikuti perempuan subur, tepat di hadapan jamaah dan awak Jamus Kalimasada. Langsung diberi mikrofon. Lalu perempuan yang disebut sebagai ibunya Rumah Hati Lampung,  itu berduet dengan Pak Surono Danu menembangkan. “Serumpun padi, tumbuh di sawah. Hijau, menguning daunnya…” Tanggap terhadap situasi tak terduga itu, awak Jamus Kalimasada bersigap mengharmonisasikan alat musiknya mengiringi lagu.

Cak Sul seketika nyletuk. “Ternyata istri saya lebih pintar menyanyi dibanding saya.” Dan jamaah pun menyambut, grrr. Tertawa.

Kepada istri Cak Sul, Bunda Asmiyati, itu Pak Surono Danu langsung menghadiahkan sekantong bibit padi hasil risetnya selama puluhan tahun dan sudah mulai terkenal. Diberi nama, Bibit Sertani. Bisa dipanen dengan usia 105 hari dan jika benar metoda cocok tanamnya, bisa menghasilkan 14 ton per hektar sawah. Termasuk struktur tanah sawah maupun ladang, varietas bibit padi sertani, bisa tumbuh. “Tapi jangan salah, petani kita ini bukan bodoh. Bukan juga pinter. Melainkan tolol,” kata Pak Surono yang disambut tawa hadirin.

Beberapa ketololan yang lazim dilakukan para petani di desa itu, satu-persatu dikuak faktanya oleh Pak Surono. Misalnya, banyak yang menanam satu rumpun, lebih dari 3-5 batang bibit padi. “Harusnya cukup satu batang untuk satu lobang, memang ada perempuan yang mau dimadu, kalau satu lobang banyak batang, nanti berebut kasih sayang tanah,” ujar dia.

Semua itu disertai penjelasan ilmiahnya, Pak Surono mendedah kandungan unsur-unsur tanah, lalu berapa dan jenis apa pupuk yang bisa menyuburkan tanaman tanpa mengurangi kesuburan tanah pasca tanam.  “Kalau bapak-bapak masih ingat di tahun 70an, di Desa Sribawono itu (Lampung Timur,red), Pak Kadis harus tahu fakta ini. Kita pernah punya tanaman kedelai yang sangat terkenal. Namun karena petani kita dimiskinkan secara sistematis, habis semua tanaman kedelai itu. Apa yang terjadi saat ini, kita impor. Karena kedelai kita pahit, dijual tidak laku, dimakan tidak enak.”

Kemudian, kita punya Padi Metro yang sudah terkenal, berasnya lebih pulen dan enak dibanding jenis IR. “Lalu ke mana bibit itu? Jenis padi itu?” Pak Surono memberikan mikrofon pada Pak Slamet yang usianya terlihat sepuh yang duduk di barisan depan. “Ya, tahun 70an, saya masih ingat ada Padi Metro, tapi sekarang bibitnya sudah hilang,” kata Pak Slamet.

“Saya masih punya dan menyimpannya,” kata Pak Surono Danu. Semua itu, alasannya hanya karena dia tahu ilmu pertanian, tidak serta merta percaya dengan pemerintah dan perusahaan yang promosi bibit jenis baru. Beliau juga menjelaskan, di era 70an itu banyak petani yang tidak perlu memberi pupuk pada padinya jika ditanam di ladang atau di sawah. Kalau sekarang kita bisa mengembalikan kejayaan pertanian dan kesuburan tanah itu, kenapa tidak.  Akan tetapi semua itu perlu ketekunan dan kerja keras para petani yang saat ini cenderung, banyak yang malas dan tolol. Termasuk anak-anak muda yang pintar-pintar, terlihat enggan bertani.

Kemandirian Petani

Fenomena itu disikapi Kepala Dinas Pertanian, Holtikultura dan Ketahanan Pangan Lampung Timur sebagai persoalan yang bisa membahayakan pertanian dan ketahanan pangan. Beberapa kalimat yang menyerang pemerintah pun, dibantahnya. “Tidak benar pemerintah menyengsarakan masyarakat, banyak indikasinya. Irigasi dibuat, bendungan dibuat, ya untuk masyarakat,” kata Pak Yusuf.

Bahwa niat pemerintah dan kebijakan-kebijakan pertanian sudah baik. Namun demikian, persoalan-persoalan oknum, mafia dan yang jahat masih ada. “Apa sih yang tidak ada mafianya, pupuk, apalagi. Beruntung sekarang ada KPK dan ketegasan aparat penegak hukum lain,” lanjut Pak Yusuf.

Pak Yusuf sepakat bahwa petani harus mandiri, karena harapan pemerintah, petani itu mandiri. Semua kelembagaan tani dibuat supaya kuat. Sedangkan bantuan-bantuan pemerintah sifatnya hanya stimulasi, perangsangan yang harus dikembangkan sendiri oleh petani. Pola pikir petani itu merasa rekoso, sehingga anak-anaknya jangan sampai jadi petani, itu keliru. Kalau petani-petani yang sudah tua tidak ada penerusnya yang muda-muda maka akan krisis. Maka yang diperlukan generasi petani yang pintar sekarang ini.

Begitu juga anggota DPD RI, Anang Prihantono yang konsen pada pertanian. Bahkan sudah menjadi brand, Anang terpilih dua periode jadi DPD karena dalam kertas suara waktu pemilu, fotonya memakai caping petani. “Sudahlah, sebaiknya kita tak berharap banyak pada pemerintah, kalau mau maju, jangan mengandalkan bantuan atau subsidi yang pasti tidak akan mencukupi kebutuhan semua petani di Indonesia. Kita harus bangkit dengan kekuatan sendiri,” kata Mas Anang.

Kemudian, merespon permintaan salah seorang jamaah yang juga marbot masjid, Mas Imam, untuk diadakan bagi petani, dijawab oleh Mas Anang bahwa pihaknya siap memberi pelatihan pada para petani di desa-desa terkait bagaimana membuat pupuk organik, menyemai bibit sendiri sampai kemudian berkelompok, memasarkan hasil pertanian sendiri. “Itulah salah satu fungsi kelompok-kelompok tani itu,” kata dia.

Kelompok Tani (Poktan) yang ada saat ini menurut dia, kurang berdaya secara maksimal. Namun demikian bukan berarti tidak bisa bangkit. Ada jamaah yang nyeletuk, berapa harga bibit sertani itu satu kantong. Mas Anang dengan tegas menjawab. “Saya lebih suka menjawab, bagaimana cara menyemai bibit sendiri bagi para petani di desa Margototo, Metro Kibang ini.”

Ditantang oleh Cak Sul, kapan bisa memberikan pelatihan petani jamaah Maiyah Ambengan, Mas Anang berjanji segera merealisasikan. “saya akan berikan pelatihan di sini secepatnya”.

Beberapa jamaah bertanya, seketika mendapat hadiah sekantong bibit padi yang diharapkan bisa terus dikembangkan. Ada salah satu warga di Yogyakarta, kata Pak Surono, yang hanya diberi satu bulir padi varietas sertani itu. Namun sekarang sudah ada bibit sampai puluhan ton.

Cak Sul yang memandu acara, menyoal nasib para petani yang saat ini sampai pada titik yang paling mengkhawatirkan. Bukan saja karena tetap melarat, melainkan sudah tidak punya tanah. Petani sudah tidak punya kedaulatan atas tanahnya sendiri, tidak punya kedaulatan atas dirinya sendiri sebagai subyek yang seharusnya menentukan hitam putihnya lahan mereka sendiri. “Petani sebenarnya disakiti tapi tanpa tahu bahwa ia disakiti, karena penyakit itu datang berwajah  bantuan, berwajah sarana dan prasarana produksi pabrikan.

Pertanian Natural dan Mberkahi

Maka, sinau kasih sayang dan kedaulatan pangan petani di dalam Maiyahan ini, adalah pelan-pelan mempelajari kembali budaya adiluhung pertanian nusantara tempo dulu yang natural dan mberkahi. Kalau embah-embah dulu bertani penuh ketelitian, mereka menghitung titi mongso, waskita pada ilmu perbintangan, melakukan tirakat-tirakat sosial yang mensinergikan dialegtika hubungan Tuhan, manusia dan tanaman (alam) dalam bertani.

Kesemua kesejatian itu kini telah dilibas oleh ideologi dan budaya bertani instan yang dihegemoni industri. Industrinya, pemerintahnya, sama-sama nyari bathi (keuntungan). Petani harus menyadari hal itu, harus bangkit dan kembali kepada keteguhan dan kemandiriannya, jangan lagi mau terombang-ambing oleh propaganda industri. Dalam bertani, musti dicicil, di-review dan digali kembali hakikat nilai-nilai bagaimana kekhalifahan kita atas alam? Bagaimana ke-abdullah-an kita pada Tuhan?

Para penggawa Gamelan Jamus Kalimasada segera membawakan lagu Leo Kristi, Salam dari Desa yang liriknya benar-benar tepat menggambarkan kondisi perdesaan saat ini. Para petani yang melihat dan akrab dengan padi yang mulai menguning, ani-ani seluas pandang dan roda giling berputar-putar siang malam, tapi bukan kami punya.

Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya tebu-tebu telah kembang
Putih-putih seluas padang
Roda lori berputar-putar siang malam
Tapi bukan kami punya

Lagu yang aransemen musiknya dikreasi ulang oleh Kiai Kanjeng, itu dibawakan secara apik oleh Jamus Kalimasada, benar-benar menyentak kesadaran. Namun demikian, sebagai penyeimbang tembang lawas “Pak Tani” milik Koes Plus pun dibawakan. Untuk memadatkan suasana kebersamaan, Pak Toha, Kepala Desa Margototo, yang juga hadir membersamai Ambengan, didaulat Cak Sul untuk berkolaborasi menyanyi bersama Jamus Kalimasada.

Ayem tentrem ing desane, Pak Tani
Urip rukun bebarengan
Mbangun desa sak kancane, Pak Tani
Nyambut gawe tanpa pamrih

Maiyah Dusun Ambengan, bukan sekadar melakukan kritik-kritik terkait pertanian, lebih jauh melihat cahaya Allah dalam kasih sayang para petani yang hidupnya terus terjepit di desa-desa.

Pak Kades Toha mengharapkan Maiyah Ambengan terus berlanjut sampai kapan pun, bisa diikuti oleh masyarakat dari segala penjuru. Semua masalah dapat didiskusikan di Ambengan dengan suasana penuh keakraban dan egaliter.

Lintasan-lintasan ilmu maupun kejutan-kejutan ide dan gagasan yang kadang nakal dan garang terlontar dari para jamaah dapat dikembarai bersama-sama secara bijak tanpa menimbulkan kebencian, fitnah atau prasangka satu sama lain. Di sini Cak Sul dan Jamus Kalimasada berposisi dan mengambil peran menetralisir kejernihan suasana hati dan pikiran jamaah.

Valentine Petani, berakhir pada pukul 23.17 WIB. Sebuah nomor garapan Kiai Kanjeng, One More Nigt (Maroon 5) disuguhkan Jamus Kalimasada buat meredakan saraf, dan ketegangan otot-otot kaki jamaah. Kemudian acara dipuncaki dengan doa bersama yang diimami oleh pemangku Musholla setempat, Pak Sidik. Seusai doa, jamaah kembulan makan tempe bacam dan nasi uduk. Tidak ada coklat atau kepungan warna pink atau biru muda pada perayaan valentine day di Rumah Hati Lampung. Yang ada, kudapan asli desa. Jagung rebus, singkong dan pisang goreng. Lengkap dengan teh dan kopi panas yang kental.

Pukul 00.47 dinihari, jamaah pulang. Rombongan dari Bandarlampung, Tanggamus dan Lampung Selatan yang mengendarai tiga mobil, menembus kegelapan jalanan sepi perkebunan karet wilayah perbatasan. Di dalam pikiran mereka melintas-lintas bayangan antara terang dan gelap. Lalu seisi mobil spontan membuncahkan tawa saat mas Dion, Guru SMK Gajah Mada Bandarlampung, itu tiba-tiba nyeletuk, “Berarti benar pengajian Maiyah, itu buktinya. Selalu ada comberan di dekat sumur,” kata Mas Dion seketika dilihatnya sekumpulan anak muda sedang berasyik masyuk dengan dunia ‘kenakalannya’ di pinggir jalan. [Teks : Redaksi Ambengan/Endri Kalianda]