Ummat(?) Bersatu(?) Tak Bisa Dikalahkan(?)

“Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan, rakyat bersatu tak bisa dikalahkan”. Begitulah bunyi kalimat yang diteriakkan para orator yang kemudian secara koor diikuti oleh barisan demonstran. Dan begitu pula tulisan-tulisan yang dicetak tebal pada selebaran-selebaran, pamflet-pamflet, poster-poster ajakan kepada rakyat untuk ikut bergabung ke dalam barisan demonstran. People power. Alhasil kalimat sakti itu mampu menggerakkan ribuan bahkan jutaan rakyat Indonesia untuk berkumpul, berbaris, dan bergerak melawan dan meruntuhkan kekuasaan Orde Baru kala itu. Dan akhirnya kekuasaan itupun tumbang.

Akan tetapi bagaimana babak berikutnya setelah peristiwa itu?

Hampir dua dasawarsa pasca peristiwa heroik itu. Hari-hari ini kita semua menjadi saksi. Kemana pemimpin-pemimpin yang menyuarakan persatuan rakyat kala itu, dimana barisan rakyat bersatu itu. Tidak perlu diurai satu persatu sebab dengan jelas kita semua menyaksikannya.

Satu pelajaran berharga yang bisa kita petik bersama, bahwa semua itu semu. Bahwa persatuan rakyat Indonesia yang digelorakan saat itu hanya sesaat. Hanya nafas pendek, sumbu pendek. Dan realitas hari ini tidak bisa dibohongi dengan argumentasi apapun.

Kini, pasca aksi 4 November lamat-lamat kalimat itu terdengar kembali. “Ummat bersatu tak bisa dikalahkan. Ummat Islam bersatu melawan kedzaliman. Ummat bergerak melawan musuh Islam.”

Tanpa bermaksud menuduh dan suudzon atas ikhtiar perjuangan yang dijalankan saudaraku semua, tapi semata ini adalah bagian dari tawasau bilhaq tawasau bissabr di antara sesama. Mari belajar dari sejarah yang dialami bangsa ini.

Dengan membaca dan dengan seksama mempelajari apa yang telah disampaikan Mbah Nun di Bukan Demokrasi Benar Menusuk Kalbu serta Ummat Islam Indonesia Dijadikan Gelandangan di Negerinya Sendiri maka sebagai bagian dari perjuangan Rakaat Panjang, Maiyah menasehati dirinya sendiri untuk mengatur nafas, menjernihkan pikiran, dan menata hati. Dengan lebih seksama mengurai satu persatu kalimat hidup “Ummat bersatu tak bisa dikalahkan”. Dengan kembali bertanya berulang-ulang “Ummat”, ummat yang mana yang dimaksud? “Bersatu”, bersatu yang bagaimana yang seharusnya?, “Tak Bisa Dikalahkan”, tak bisa dikalahkan oleh siapa? Oleh kekuatan apa?. Dengan terus menerus merenungi, merembug dan memusyawarahkan itu semua, sampai menemukan mana yang sejati dan mana yang palsu. Ummat yang sejati bukan ummat imitasi, bersatu yang sejati bukan bersatu manipulasi dan musuh yang sejati bukan musuh fiksi.

Yogyakarta, 12 November 2016
JAMAAH MAIYAH NUSANTARA