Tumbuh Dari Puing Reruntuhan

Untuk ULTAH Maiyah ReLegi Malang Ke-4

Bukan tanpa maksud sebuah pohon meranggas kemudian roboh dan mati. Tiada hal abadi, kematian adalah ketika tak lagi mampu berfungsi sebagaimana mestinya, untuk selamanya. Kematian merupakan jalan peniadaan, cara baku menuju tahap yang lebih menjanjikan. Begitulah kiranya, perumpamaan yang paling menyamai fenomena meniadakan diri. Secara tidak langsung, ketiadaan itu menyulut ide dan mimpi baru. Ide yang didasarkan pada rindu akan kebersamaan yang pernah hilang. Mimpi untuk membentuk organisme baru, inilah yang kemudian disebut transformasi.

Zaman itu dinamis, dan membutuhkan jawaban-jawaban yang tidak statis. Fase ‘runtuh’ dan ‘mati’ yang dialami setiap makhluk mewakili suatu kondisi alamiah, pasif dan memang harus demikian. Orang bilang memang sudah saatnya, tiba waktunya. Penyesalan dan kesedihan yang sering menyertai keadaan mati alami, seringkali memang agak berkepanjangan, dramatis. Namun, ada kalanya lebih baik sengaja dimatikan dibanding mati dengan sendiri.

Seolah tidak boleh berhenti untuk menggali hikmah di tengah persoalan tentang kematian. Persis sama seperti dawuh dari Mbah Nun, “Anda boleh miskin, anda boleh hina, anda boleh terabaikan bahkan anda boleh jomblo. Tetapi anda sama sekali tak boleh kehilangan nilai diri (sesuatu di atas harga diri). Ketika anda jatuh miskin dan bodoh, maka yang diucapkan adalah aku sengaja memiskinkan dan membodohkan diri, karena sesungguhnya kemuliaan itu tidak terletak pada perlombaan memunculkan diri melainkan pada keberanian menghilangkan diri atau ke-aku-an.” ungkap beliau meyakinkan. “Dan penghalang terbesar yang menutupi manusia dengan Tuhannya adalah dirinya sendiri. Maka siapapun yang bisa menghilangkan ke-aku-annya, ia akan mampu mengenali dan menemukan ‘AKU’ yang Sejati,” begitu ungkapan santai yang agak serius dari Mas Noe pada suatu ketika, melengkapi hikmah tentang kematian.

Manusia selalu punya hak untuk bisa membangun “rasa” dan mampu meruntuhkan, mematikan ataupun menghancurkan. Meski pada kenyataannya, sebenarnya manusia itu tak memiliki kuasa meruntuhkan, mematikan ataupun menghancurkan sesuatu. Yen Sing Kuoso tidak mengijinkan, kowe arep nyapo? Pada batas-batas tertentu, rasa itu menjadi sebuah kebanggaan diri yang bertransformasi menjadi energi besar untuk menjalani fase kehidupan selanjutnya. Meski terkadang juga memicu kesombongan, bangga dan sombong adalah dua hal yang beda tipis.

Bergerak dalam Senyap

Perjalanan menghilangkan ke-aku-an untuk menuju yang sejati dapat dianalogikan sebagaimana siklus pohon yang harus mengalami kematian untuk menumbuhkan kehidupan baru. Organisme baru berupa pohon-pohon kecil lain. Sebuah pohon sejati akan senantiasa mematikan dirinya sendiri untuk menghidupkan bibit-bibit pohon baru. Sebuah ritual yang dilakukan demi keberlangsungan masa depan. Paling tidak, si pohon mematikan diri dari bentuk kasarnya atau fisis menjadi unsur demi keberlangsungan hidup sekitarnya.

Keberadaan pohon yang meniadakan diri itu seolah bereinkarnasi menjadi bentuk baru. Entah dengan menjadi humus atau tanah yang bisa diserap oleh naluri kebutuhan sekitar. Yakni, menyatu dengan senyawa yang lebih ringan massa dan kandungannya. kemudian secara sadar membantu pohon-pohon muda tumbuh menantang dunia. Dan pohon muda akan selalu terinspirasi pengorbanan pohon tua.

Bahkan energi dan inspirasi dari pohon tua itu mengawal pohon muda tak hanya pada fase tumbuh. Tetapi juga membersamai hingga fase berkembang, berbuah bahkan sampai tahapan berbiji kelak. Dan demikianlah pohon menerjemahkan kearifan kematian. Si pohon sejatinya tak pernah runtuh, akan tetapi bunuh diri meruntuhkan ke-aku-annya demi mengejar kemuliaan sejati. Tatkala harga diri mulai menjadi penghalang, maka itulah saatnya bunuh diri.

Titik Penjelmaan Garuda

Tidak hanya kisah pohon, meruntuhkan diri untuk bertransformasi menapaki kelanjutan fase hidupnya juga dapat berbentuk apapun. Cara hidup Rajawali juga memiliki proses yang sama. Sang burung raksasa ini, konon tahu bagaimana merubah dirinya menjadi Rajawali Sejati. Tatkala sang Rajawali mendekati usia 40 tahun, ia tidak lagi berburu mangsa, ia tidak lagi memenuhi selera perutnya, ia tidak lagi berkumpul dengan kelompoknya untuk bersama-sama berburu makanan dan hidup berdampingan. Justru yang ia lakukan adalah terbang setinggi-tingginya mencari puncak gunung yang hanya terdiri dari bebatuan cadas. Sejurus kemudian ia akan mematuki batu-batuan cadas hingga hancur paruhnya, kemudian ia cengkeram kuat-kuat bebatuan cadas itu hingga remuk cakarnya. Ya, dengan kesadaran yang amat tinggi, bukan dalam keadaan mabuk ataupun trans. Sang Rajawali dengan sengaja menghancur remukkan senjatanya, kebanggaannya, simbol karakter kegagahannya hingga tak mampu sekadar mencari makan apalagi mempertahankan diri dari serangan musuh.

Kini yang ia punya saat ini hanyalah ketahanan. Daya tahan untuk menahan derita sakit luar biasa dari hancur remuk paruh dan cakarnya. Lalu, yang bisa ia lakukan selanjutnya hanyalah berdiam diri dalam goa di atas gunung dalam keadaan perut yang benar-benar kosong. Di dalam goa ia berlindung dari panas dan hujan, berkawan sabar sampai batas waktu tertentu. Dan ia akan tetap seperti itu hingga tumbuhnya paruh dan cakar baru. Manakala cakar dan paruh baru telah tumbuh dan berkembang dengan baik, maka itu pertanda ia harus turun gunung. Tiba saatnya, ia telah benar-benar menjadi raja para burung, Rajawali sejati, Garuda yang sebenarnya. Dan itulah saatnya menjalani hidup sesungguhnya untuk kurun waktu 30-40 tahun kedua. Maka, mengikuti perilaku Sang Rajawali yang bertapa di atas gunung tanpa berbekal apapun bahkan seolah bunuh diri, tetapi itulah syarat utama untuk menjadi Garuda sejati.

Mengilhami proses transformasi Rajawali di usia 40-an tahun, memiliki kesamaan dengan diangkatnya nabi Muhammad S.A.W menjadi Rasul. Sudut pandang psikologis mengamini bahwa pada usia 40 tahun tidak akan ada lagi perubahan karakter. Selain itu, rentang usia 40-an tahun, manusia telah mencapai eksistensi dirinya atau dengan kata lain telah selesai dengan urusan kehidupannya. Maka sudah saatnya mencari pemaknaan lain dari perjalanan hidup, makna tentang kesejatian. Turun gunung, diidentikkan dengan memancarkan diri, bermanfaat bagi sesama.

Menjaga Cahaya Ilahi

Nyala cahaya api yang selalu mengarah ke atas adalah simbol menuju Ilahi, ia sesungguhnya tak pernah runtuh ataupun mati. Kalaupun ia nampak hilang dan tak lagi menerangi masa-masa sekarang, hal itu adalah pertanda ia tengah memasuki fase meniadakan diri. Nyala kecil lilin yang ada saat ini, meski tak seterang obor, tetaplah ia menuju ke atas menjaga kesadaran bahwa hidup harus selalu ditujukan pada Maha Sejati, Sang Ilahi. Nyala lilin kecil bernama ReLegi ini, akan berada pada persimpangan suatu ketika nanti. Tetap berada pada nyalanya di tengah kesunyian ataukah bermetamorfosis menjadi obor kembali di tengah keriuhan.

Melangkah di keremangan jalan sunyi ditemani nyala lilin. Sambil terus menerus nguri-nguri sangkan paran sebagai pegangan mengkreasikan masa depan, merupakan cita-cita yang telah dicicil untuk diwujudkan. Senantiasa berusaha bermanfaat sebesar-besarnya bagi lainnya (manusia lain, binatang, tumbuhan, air, angin, tanah, api, iblis, malaikat) merupakan tabungan kesucian yang dibutuhkan seorang manusia untuk mencapai, mengenal, memahami dan bergabung pada Yang Sejati.

Empat tahun adalah waktu teramat singkat dari ribuan tahun yang dibutuhkan untuk mewujudkan cita-cita sejati. Cita-cita yang teramat jelas membutuhkan stamina yang prima.

Perjuangan baru saja dimulai. Mungkin akan dibutuhkan bunuh diri, runtuh jatuh berkali-kali. Hingga tiba masa menemukan Yang Sejati. Selama terselubung niat baik, cita-cita indah takkan mungkin tak tercapai. Bahkan dapat dipastikan bahwa Tuhan tak pernah enggan turut larut mengupayakan. Selama terjaga pada kesadaran level tertinggi, kematian takkan menjemput sekalipun engkau bunuh diri berkali-kali.

Jagalah cahaya Ilahi, nurani yang ada di dalam diri. Meski nyalanya hanya berasal dari nyala kecil api sekalipun, yang kapanpun nyala itu bisa saja tiada. Menjadi bentuk yang tak kasat mata. Semoga nyala kecil itu, selalu membangunkan kesadaran kepada Yang Sejati serta menerangi niat baik di setiap langkah….

Talames Ngalu Nuhat ReLegi Ngalam 6.6.2016 (Firza dan Mery)