Tradisi Elaborasi

Tidak setiap orang yang pandai berceramah itu pandai berdiskusi. Bermodal hafalan saja, seseorang bisa berceramah. Tetapi untuk berdiskusi, seseorang dituntut untuk lebih dari itu. Yakni mampu melakukan elaborasi atas pertemuan pemikiran kita dengan pemikiran partner diskusi kita. Elaborasi, salah satu artinya adalah membentuk sesuatu yang kompleks dari sesuatu yang lebih sederhana. Jamaah Maiyah (JM) tentu sudah tidak asing dengan istilah elaborasi. Dalam setiap forum-forum Maiyahan, hampir selalu kita dituntun serta digiring untuk mengelaborasi. Walaupun tidak dilarang juga di Maiyahan JM diam-diam kulakan bahan-bahan yang bisa dibawa pulang untuk tambahan materi ceramah.

Bentuk elaborasi sederhananya adalah, kamu berbicara lalu mendengarkan partner bicaramu bicara. Lalu pembicaraanmu dan partner bicaramu, kamu sinkronkan, strukturkan, rumuskan. Kamu cerdasi sedemikian rupa sehingga menjadi rumusan yang dapat dikontekstualisasi untuk menjawab tema persoalan tertentu. Selanjutnya kamu dapat melanjutkan dengan membuat hasil elaborasi itu dipertemukan dengan hasil elaborasi orang lain, lalu keduanya kamu elaborasi lagi. Demikian seterusnya, sehingga proses diskusimu bukan prosesi adu referensi. Bukan adu teori, tetapi memang diarahkan untuk menjawab persoalan tertentu setepat mungkin.

Tradisi elaborasi tidak dijumpai di kebanyakan forum di luaran sana. Ceramah keagamaan yang lazim digelar berlangsung satu arah secara monolog. Kadang ada pancingan interaksi dari muballigh yang sedang berceramah, tapi itupun bentuknya pertanyaan tertutup: “Nggih nopo nggih?…(nggih)”, “Alhamdu…(lilllah)”.

Berbeda kondisinya pada seminar, workshop, maupun simposium. Ada slot tanya jawab khusus di akhir sesi. Tetapi, meskipun ada sesi khusus berupa tanya jawab yang memungkinkan terjadinya interaksi pemahaman, kendala yang menghambat adanya elaborasi adalah persoalan durasi. Karena pendeknya waktu, hampir tidak ada kesempatan penanya yang sama memperoleh kesempatan bertanya untuk kedua kalinya.

Lalu bagaimana dengan kegiatan focus group discussion (FGD) yang sering digelar pemerintah untuk menampung aspirasi masyarakat? Dilihat dari judulnya mengandung kata diskusi, berarti ruang elaborasi tentu saja lebih luas dibanding bentuk forum lainnya. Tetapi, seringkali FGD hanya berlangsung sebatas menggugurkan program kerja, tidak sungguh-sungguh mencapai sebuah rumusan yang kompleks.

***

Dalam forum-forum Maiyahan, jarang atau bahkan tidak pernah jamaah dilontari pertanyaan “Nggih nopo nggih?”. Mengapa? Karena orang yang berada di panggung tidak memposisikan dirinya sebagai penceramah. Kalau dianalogikan kincir, adanya panggung hanyalah berfungsi untuk menjadi poros atau as agar forum bisa bergulir dengan baik. Oleh karenanya, kalau kebetulan ada mubaligh yang biasa berceramah tertakdirkan berbicara di panggung, ia harus pandai-pandai mempuasai pertanyaan “Nggih nopo nggih?”.

Seringkali forum-forum Maiyahan berlangsung dalam durasi yang cukup lama. Dari jam 08.00 malam sampai jam 03.00 dinihari. Daya tahan JM untuk duduk, mendengarkan, menyimak dan mengelaborasi di dalam pikirannya sendiri memang luar biasa. Keleluasan waktu itulah yang membuat proses tanya-jawab dan proses stimulasi-merespon berlangsung dengan demikian leluasa pula. Baik itu proses tanya-jawab antara JM dengan yang berada di panggung, atau JM di dalam pikirannya sendiri.

Kesempatan bertanya tidak dibatasi hanya sekali, sebut saja Muhtasib bintangnya perespon di Maiyahan, entah berapa kali sudah tidak terhitung dia bertanya dan merespon. Untuk orang lain yang tidak memiliki nyali sehebat Muhtasib, mereka masih memiliki wahana bertanya dan merespon yang sangat luas melalui Maiyah on Net dalam berbagai akun-akun sosmed. Atau dapat pula mendatangi Rumah Maiyah Kadipiro yang terbuka untuk umum setiap hari. Begitu luasnya ruang interaksi di dalam Maiyah, sehingga setiap orang bisa menciptakan produk berfikir yang kompleks dari diskusi-diskusi sederhana yang JM ikuti pada saat Maiyahan.

Kalau ruang sosmed dan Rumah Maiyah masih dirasa kurang luas, JM bisa mendatangi simpul-simpul Maiyah yang ada di puluhan kota di Indonesia. Diskusi-diskusi kecil dan cair biasa digelar oleh JM di tiap-tiap simpul tersebut.

Kalau FGD yang digelar pemerintah kerap hanya penggugur program kerja, berbeda dengan diskusi-diskusi yang digelar oleh JM baik pada Maiyahan kelas besar maupun forum diskusi kecil. Kalau JM berdiskusi, ya sungguh-sungguh berdiskusi. Tidak dalam rangka melaksanakan program kerjanya siapapun, tidak juga dalam rangka berkedok untuk mendapatkan apapun selain ilmu. Diantara bentuk kesungguhan JM dalam Maiyahan adalah adanya reportase di setiap kegiatan yang digelar.

Reportase tertulis selain sebagai bentuk kesungguhan, secara tidak langsung juga menjadi benteng terhadap orang-orang yang berniat untuk curiga pada apa yang didiskusikan oleh JM. Semua orang bisa menyimaknya, kecuali mereka yang enggan.